Banjarbaru, 20 Mei 2026
Senja di bulan Mei tahun 2026 ini bertepatan dengan suasana menjelang Idul Adha, namun ingatan Lev Ryley justru terseret jauh ke suasana Ramadhan sebelas tahun yang lalu. Ia masih ingat bagaimana aroma bingka barandam dan amparan tatak memenuhi udara Banjarbaru, sementara ia hanya bisa duduk di sudut Mushola RSUD Idaman, menggenggam sebotol air mineral dan sebutir kurma untuk berbuka.
"Ramadhan itu, Van... adalah kali terakhir aku melihatmu mencoba sujud dengan sisa tenaga yang kamu punya," gumam Lev sambil memandangi langit dari balkon rumahnya yang menghadap ke arah Gunung Kupang. Di usianya yang kini 31 tahun, Lev menyadari bahwa keberanian Vania di bulan suci itu adalah warisan terindah yang ia miliki.
Banjarbaru, Mei 2015 (Ramadhan 1436 H)
Bulan Ramadhan tiba menyapa Kota Banjarbaru dengan hawa yang sejuk setelah hujan sering membasahi bumi di sore hari. Namun, bagi Vania Larasati, Ramadhan kali ini bukan lagi tentang berburu takjil di Lapangan Murjani atau mengikuti tadarus bersama teman-teman kampusnya. Ramadhan kali ini adalah tentang bertarung melawan mual hebat dan demam tinggi yang seringkali datang tanpa diundang.
Dokter sudah melarang Vania untuk berpuasa. Kondisinya yang kian lemah akibat Leukemia dan efek samping obat-obatan berat membuatnya harus tetap terhidrasi dan mendapat asupan nutrisi secara rutin melalui selang infus. Namun, Vania adalah jiwa yang keras kepala jika menyangkut urusan dengan Tuhannya.
"Lev, setidaknya izinkan aku merasakan hausnya orang berpuasa sampai dzuhur," pinta Vania dengan suara yang sangat lirih. Bibirnya kering dan pecah-pecah, namun sorot matanya masih memancarkan api keinginan yang kuat.
Lev mengusap tangan Vania yang kini kian kurus, tulang-tulangnya mulai terlihat jelas di balik kulitnya yang pucat. "Van, Allah itu Maha Mengetahui. Sakitmu adalah jihadmu. Kamu tidak berpuasa pun, pahalanya insya Allah mengalir karena niatmu."
Vania menitikkan air mata. "Aku ingin sekali saja lagi, Lev... merasakan nikmatnya berbuka bersama kamu, meski hanya dengan seteguk air yang didoakan."
Akhirnya, Lev hanya bisa mendampingi. Setiap sore, Lev akan turun ke pasar wadai di depan lapangan Murjani untuk membelikan takjil kesukaan Vania, berharap saat waktu berbuka tiba, Vania punya sedikit tenaga untuk menelan satu suap makanan. Ia ingin suasana Ramadhan tetap hadir di kamar rawat itu, meski aroma obat-obatan seringkali lebih dominan daripada aroma masakan.
Malam-malam di sepuluh hari terakhir Ramadhan menjadi momen yang paling mengharukan. Saat warga Banjarbaru berbondong-bondong menuju Masjid Al-Munawwarah untuk i'tikaf, Lev membawa suasana masjid itu ke dalam ruang perawatan Vania.
Di malam ke-27, Lev membacakan surah Al-Qadr di samping telinga Vania. Suasana sangat sunyi. Hanya terdengar bunyi detak monitor jantung yang ritmis. Vania, yang saat itu sedang dalam kondisi sedikit stabil, tiba-tiba berbisik, "Lev, apakah Lailatul Qadar tahun ini adalah malam di mana takdir perpisahanku denganmu dituliskan dengan tinta emas oleh malaikat?"
Lev tertegun. Ia meletakkan Al-Qur'an kecilnya di pangkuan. "Kenapa bicara begitu, Van? Kita sedang meminta kesembuhan, bukan perpisahan."
"Aku tidak takut berpisah dengan dunia ini, Lev," ujar Vania sambil menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang dalam. "Aku hanya takut jika di sana nanti, aku tidak cukup layak untuk menunggumu di pintu surga. Aku ingin di sisa umurku yang mungkin hanya hitungan bulan ini, aku benar-benar menjadi hamba-Nya yang berserah."
Vania kemudian meminta Lev membantunya duduk untuk melakukan shalat malam. Dengan tubuh yang gemetar dan disangga oleh bantal-bantal besar, Vania melakukan gerakan shalat semampunya. Saat ia berusaha untuk sujud, tubuhnya limbuh. Lev dengan sigap menangkap kepala Vania sebelum membentur sisi tempat tidur.
Dalam pelukan Lev, Vania menangis sejadi-jadinya. "Aku bahkan sudah tidak sanggup lagi bersujud pada-Mu, ya Allah..." isaknya pilu.
Lev memeluk gadis itu erat, air matanya sendiri jatuh membasahi hijab turban yang dipakai Vania. "Suara hatimu sudah didengar oleh Allah melampaui gerakan fisikmu, Vania. Sujudmu ada di dalam hatimu yang paling dalam."
Malam itu, di tengah kesunyian Ramadhan di Banjarbaru, dua insan berusia 20 tahun itu belajar tentang hakikat penghambaan yang paling tinggi: yaitu ketika raga sudah tak lagi berdaya, namun ruh tetap terbang menuju Sang Pencipta. Lev menyadari bahwa Vania sedang mempersiapkan diri untuk perjalanan jauh, sebuah perjalanan yang tak melibatkan dirinya.
Ramadhan 2015 bukan hanya sekadar bulan puasa bagi mereka, melainkan madrasah terakhir bagi Lev untuk mempelajari arti kehilangan yang sebentar lagi akan menjadi nyata.
