Bab 6: Dilema Makan Siang di Padang

Bab 6: Dilema Makan Siang di Padang

Lev
0
Setting: Sebuah rumah makan Padang legendaris di Kota Padang, Sumatera Barat.

Perjalanan dari Danau Toba ke Padang terasa sedikit lebih ringan karena antusiasme Faris yang membuncah. Begitu menginjakkan kaki di tanah Minang, satu-satunya hal yang ada di pikiran mereka, terutama Faris dan Lev, adalah Rendang.

"Akhirnya! Rendang otentik, guys! Bukan rendang kemasan yang dijual di minimarket!" seru Faris sambil mengendus udara Kota Padang seolah bisa mencium aroma rempah-rempah dari kejauhan.

Aisyah hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya itu. "Dasar perut karet. Ingat, kita harus tetap jaga porsi makan. Perjalanan masih panjang."

Lev, yang juga pecinta berat makanan Padang, ikut sumringah. "Di sini kita akan lihat penerapan falsafah 'Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah' (Adat bersendi syariat, syariat bersendi Kitabullah) dalam kehidupan sehari-hari mereka. Nilai Islamnya kuat banget di sini."

Mereka memilih sebuah rumah makan Padang legendaris yang terkenal di Kota Tua Padang. Begitu masuk, mata mereka langsung disuguhi pemandangan khas: piring-piring berisi aneka lauk ditata bertingkat di etalase kaca. Aroma gurih santan dan rempah-rempah langsung menyeruak, membuat perut mereka keroncongan.

"Wah, ini baru namanya surga dunia yang sesungguhnya," bisik Zahra, merekam dengan ponselnya.

Mereka duduk di salah satu meja, dan dalam hitungan detik, belasan piring kecil berisi berbagai hidangan—rendang, ayam pop, gulai itiak lado mudo, sambal hijau, dan banyak lagi—sudah tersaji rapi di meja mereka.

"Tradisi hidang (menyajikan semua menu di meja) ini memang juara," kata Faris, matanya sudah fokus pada rendang yang berwarna cokelat gelap menggoda.

Saat hendak memulai makan, Faris, Lev, dan Zahra langsung sigap mencuci tangan di kobokan kecil yang tersedia. Mereka bersiap makan dengan tangan, cara makan nasi Padang yang paling nikmat dan otentik.

Namun, Aisyah terlihat ragu. Ia memegang sendok dan garpu dengan canggung. Sebagai gadis yang terbiasa makan dengan sendok di Banjarmasin, makan pakai tangan di tempat umum, apalagi dengan kuah gulai yang melimpah, adalah tantangan besar.

"Sya, kok masih pakai sendok?" tanya Lev, heran. "Nggak afdal rasanya makan Padang pakai sendok."

Aisyah menatap nanar kuah gulai yang kental dan berminyak. "Aku... aku takut berantakan, Lev. Nanti bajuku kotor. Tangan rasanya lengket."

Faris tertawa. "Justru itu seninya, Sya! Kotor dikit nggak apa-apa, yang penting nikmatnya maksimal. Lagian ada sabun di kamar mandi."

Zahra, yang sudah melahap ayam popnya dengan lahap, menimpali dengan mulut penuh. "Iya, Sya! Rasanya beda tahu kalau pakai tangan. Lebih meresap ke hati!"

Lev mencoba membujuk Aisyah. "Ayolah, Sya. Di sini semua orang makan pakai tangan. Ini bagian dari pengalaman slice of life kita. Belajar beradaptasi dengan budaya lokal."

Aisyah menghela napas pasrah. Dengan ragu, ia meletakkan sendok dan garpunya. Ia mencuci tangan lagi, memastikan tangannya benar-benar bersih sesuai ajaran Islam. Perlahan, ia mulai mencampurkan nasi dengan sedikit kuah gulai dan sepotong kecil daging rendang.

Adegan komedi pun terjadi. Aisyah terlihat sangat hati-hati, tangannya kaku, dan gerakannya lambat. Setiap kali tangannya mendekati mulut, ia terlihat sedikit ngeri dengan kuah yang menetes. Faris dan Zahra diam-diam menahan tawa melihat tingkah kaku Aisyah.

"Pelan-pelan aja, Sya. Nggak ada yang ngejar kok," ledek Faris.
Aisyah melirik Faris sebal. Tapi saat suapan pertama masuk ke mulutnya, matanya langsung membulat. Rasa rempah-rempah yang kaya, daging rendang yang empuk, dan pedas gurihnya kuah gulai meledak di indra perasanya.

"Wah... Masya Allah... enak banget!" seru Aisyah, seketika melupakan semua kekhawatirannya tentang tangan kotor. Ia mulai makan dengan lahap, meskipun gerakannya masih sedikit lebih rapi daripada yang lain. 

Lev tersenyum puas melihat Aisyah akhirnya menikmati momen kuliner tersebut.

Selesai makan, tangan mereka semua penuh minyak dan rempah. Mereka buru-buru mencuci tangan di kamar mandi. Di sana, Zahra kembali berulah.

"Faris, pinjam sabunmu dong!" teriak Zahra dari bilik sebelah.

"Bawa sendiri dong, Ra!" balas Faris.

"Punyamu lebih wangi!"

Di luar kamar mandi, Lev dan Aisyah hanya bisa tertawa. Kehidupan bermasyarakat di Padang yang kental dengan keramahan dan kuliner luar biasa telah memberikan mereka momen kebersamaan yang hangat dan lucu.

Sore itu, setelah puas makan, mereka melanjutkan perjalanan menuju Jembatan Siti Nurbaya yang viral untuk menikmati suasana senja, dan kemudian bersiap untuk melanjutkan petualangan ke Bukittinggi keesokan harinya. Perut kenyang, hati senang, dan pelajaran baru tentang menikmati hidup apa adanya sudah mereka dapatkan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default