Pagi di kawasan Ampel Surabaya terasa berbeda dengan pagi di Banjarmasin. Di sini, alih-alih aroma air sungai, udara dipenuhi semerbak rempah-rempah dari restoran Arab dan toko parfum di sepanjang gang sempit. Suara azan Subuh berkumandang sahut-sahutan dari beberapa masjid kuno di sekitar area, membangunkan Lev, Anindya, dan Aisyah.
Setelah salat Subuh dan sarapan Roti Maryam dengan kuah kari kambing yang lezat di guesthouse, mereka bersiap untuk memulai ziarah pertama mereka di Pulau Jawa.
"Mas, hari ini kita mau ke mana dulu?" tanya Anindya, memasukkan botol minum Aisyah ke dalam tas ransel.
"Kita ke tempat yang paling utama dulu, Nindya. Makam Sunan Ampel, penyebar agama Islam tertua di Surabaya, pendiri Kesultanan Demak," jawab Lev penuh semangat.
Mereka berjalan kaki santai menuju kompleks makam yang letaknya hanya lima menit dari penginapan. Suasana pagi itu masih lengang, hanya beberapa peziarah yang sudah datang. Hal ini persis seperti yang Lev harapkan, bisa zziarah dengan tenang tanpa kerumunan massa.
Memasuki area Masjid Sunan Ampel yang bersejarah, Lev merasakan aura kharisma yang luar biasa. Arsitektur masjid ini unik, memadukan gaya Jawa kuno dengan sentuhan Arab. Tiang-tiang kayu jati asli yang kokoh masih berdiri tegak, menjadi saksi bisu penyebaran Islam di tanah Jawa.
"Mas, ini masjidnya sudah ratusan tahun umurnya," bisik Anindya takjub.
Mereka mengambil air wudu di kolam kuno di halaman masjid, lalu masuk ke area dalam. Setelah salat sunah, mereka menuju area makam yang terletak di belakang masjid.
Di sana, di bawah kubah yang megah, bersemayam jasad Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan beberapa kerabat serta murid setianya, termasuk istri beliau, Nyai Ageng Manila, dan putranya, Sunan Bonang. Area makamnya bersih, terawat, dan penuh ketenangan.
Lev duduk bersimpuh, memanjatkan doa, tahlil, dan tahmid. Ziarah ke Sunan Ampel adalah puncak dari nazarnya di Jawa Timur. Beliau adalah guru dari para wali lainnya, sosok sentral yang meletakkan dasar-dasar Islam di Jawa melalui pendekatan budaya dan pendidikan.
Anindya sibuk menenangkan Aisyah yang mulai tertarik dengan burung dara yang hinggap di atap kubah. "Sstt... Aisyah, jangan berisik, ya. Kita sedang berdoa di tempat kakek wali."
Setelah selesai berdoa, Lev mengajak Anindya berjalan-jalan di sekitar area Masjid dan kompleks makam. Dia menjelaskan sedikit sejarah tentang Surabaya sebagai "Kota Pahlawan" yang sejarahnya tak lepas dari perjuangan para santri dan ulama, termasuk di era kemerdekaan.
"Dulu, dari tempat inilah perjuangan melawan penjajah juga dikobarkan. Para santri di sini punya peran besar banget, Nindya," jelas Lev, matanya berbinar.
Anindya mengangguk, mengagumi betapa kaya sejarah Islam di Indonesia. Mereka mengambil beberapa foto di depan gerbang bergaya Cina kuno yang menjadi pintu masuk ke area pemukiman Ampel.
"Abi, Abi, mau es krim!" rengek Aisyah, menunjuk pedagang es krim keliling yang kebetulan lewat.
Lev dan Anindya tertawa. Suasana khidmat seketika mencair karena permintaan Aisyah. Mereka membelikan Aisyah es krim dan melanjutkan jalan-jalan santai.
Puas berziarah, mereka kembali ke penginapan. Sore harinya, mereka memutuskan untuk sedikit berwisata sejarah umum kota Surabaya. Mereka mengunjungi Monumen Kapal Selam (Monkasel) di pusat kota dan Tugu Pahlawan yang megah, mengajarkan Aisyah tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Malam harinya, kembali ke area Ampel, mereka menikmati Nasi Kebuli yang menggugah selera di salah satu warung legendaris. Kehidupan bermasyarakat di Ampel yang multikultural—perpaduan Arab, Jawa, dan Tiongkok memberikan warna tersendiri dalam perjalanan mereka.
Lev merasa lega. Nazar ziarah di Surabaya telah tuntas. Hatinya kini siap melanjutkan perjalanan ke kota-kota lain di Jawa, menapaki jejak Wali Songo selanjutnya, dengan semangat baru dari Kota Pahlawan ini.
