Bab 9: Komedi Situasi: Salah Paham di Pasar Terapung

Bab 9: Komedi Situasi: Salah Paham di Pasar Terapung

Lev
0

Ketenangan spiritual yang didapat Vania dari pengajian di Sabilal Muhtadin sedikit terusik oleh ulah teman-temannya yang masih berjuang melepaskan bayang-bayangnya, kadang dengan cara yang absurd.

Hari Minggu pagi, Vania memutuskan untuk 'mengunjungi' Sari dan Rian yang sedang menikmati suasana ikonik Pasar Terapung Lok Baintan. Pasar Terapung adalah denyut nadi Banjarmasin, tempat perahu-perahu kecil—jukung—saling bertemu untuk bertransaksi hasil bumi di atas Sungai Martapura yang kecokelatan.

Vania menikmati pemandangan itu, rindu akan keramaian dan tawar-menawar khas Banjar. Sari dan Rian berada di atas sebuah jukung yang disewa, menikmati kopi dan kue lupis.
Masalah dimulai ketika Sari, yang memang sedikit perasa, merasa ada angin sejuk yang lewat di sampingnya. Dia langsung teringat Vania.

"Yan, kamu ngerasa nggak? Anginnya sejuk banget, kayak... kayak Vania ada di sini," ujar Sari dengan mata berkaca-kaca.

Rian, yang logis dan kaku, memutar matanya. "Astaga, Sari. Ini di tengah sungai, wajar anginnya sejuk. Jangan mulai deh."

Vania, sang roh, tersenyum geli melihat reaksi Rian. Dia iseng bergerak sedikit lebih dekat ke arah Rian, menciptakan sensasi sejuk lagi.

"Tuh kan! Kamu ngerasa nggak?!" Sari menunjuk Rian histeris.
Rian mulai gelisah. "Iya, iya, sejuk. Mungkin Vania lagi 'mampir' lihat kita. Assalamu’alaikum, Van," katanya, setengah bercanda, setengah takut.

Vania tergelak tanpa suara. Ini adalah komedi situasi slice of life terbaik yang dia saksikan.

Kekonyolan berlanjut. Rian, yang paranoid karena merasa 'diawasi' Vania, menjadi salah tingkah. Saat seorang ibu pedagang jukung menawarkan rambutan, Rian yang biasanya pandai menawar malah jadi gugup dan membeli rambutan satu keranjang penuh dengan harga mahal.

"Kebanyakan, Mas!" protes Sari.

"Biarin! Mungkin Vania suka rambutan!" jawab Rian panik, membuat ibu pedagang itu bingung tapi senang.

Vania tertawa terbahak-bahak di alamnya. Dia tidak menyangka kepergiannya bisa membuat Rian sekaku itu.

Syekh muncul di samping Vania. "Kau lihat? Mereka mencoba untuk tegar, tapi bayanganmu masih menghantui mereka dalam cara yang lucu. Ini adalah cara mereka beradaptasi dengan kehilangan."

Vania mengangguk, masih tersenyum. Dia menyadari bahwa meskipun dia tidak bisa berinteraksi, kehadirannya (yang hanya perasaan sejuk) memberikan dinamika baru dalam hidup teman-temannya. Insiden rambutan di Pasar Terapung itu menjadi anekdot baru bagi mereka, cara mereka mengenang Vania dengan tawa, bukan hanya air mata.

Momen itu menguatkan Vania bahwa dia tidak perlu khawatir berlebihan. Teman-temannya akan baik-baik saja, meskipun kadang-kadang mereka bertingkah konyol. Kehidupan di Banjarmasin terus berlanjut dengan segala keunikan dan humornya.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default