Rasa bersalah menggelayuti perjalanan pulang mereka dari Tahura Sultan Adam. Di dalam mobil sewaan yang hening, kartu emas Owa Kalimantan terasa panas di saku Lev. Status 'Sedih' di kartu itu seolah menjadi pengingat nyata akan kesalahan mereka.
"Kita salah besar," gumam Vania, menatap kosong ke arah pepohonan di luar jendela mobil. "Gue terlalu nafsu ngejar upgrade Rank B tanpa mikir dampaknya."
Anatasya mengangguk setuju. "Menurut Codex Fauna Kalimantan yang kupelajari semalam, ikatan monogami Owa itu sangat kuat. Memisahkan mereka bisa menyebabkan stres kronis pada kedua belah pihak, bahkan kematian."
"Kematian?" Lev menelan ludah, wajahnya semakin pucat. "Kita harus ngapain dong?"
"Kita harus balikin dia," kata Vania mantap. "Begitu sampai rumah, kita lepas dia."
"Tapi, Van," Lev ragu, "kalau kita lepas, kita kehilangan summon Rank B. Kita butuh dia buat ngelawan Genesis."
"Ngelawan Genesis dengan cara merusak alam yang mau kita lindungi?" Vania menatap Lev tajam. "Nggak, Lev. Itu munafik. Kakekmu dan Prof. Rahmat pasti nggak akan setuju."
Lev terdiam. Niat murni yang dia rasakan saat menangkap Owa itu kini terasa keruh karena rasa bersalah. Vania benar.
"Tapi Anatasya bilang kalau dilepas, Owa jantan dan betina akan sulit bertemu lagi di hutan seluas itu," ujar Lev lemah. "Wilayah mereka sudah terganggu."
"Kita juga harus bertanggung jawab untuk mempertemukan mereka lagi," kata Anatasya, mulai mengeluarkan ide ilmiahnya. "Ini namanya restorasi ekosistem mini."
"Caranya?" tanya Vania.
"Kita harus mengembalikannya ke wilayah teritorial aslinya, lalu memonitor keberadaan Owa betina. Kita gunakan liontinku untuk melacak sinyal biologisnya," jelas Anatasya. "Liontin ini bisa melacak aura summon di radius tertentu."
Rencana baru pun disusun. Mereka sepakat untuk kembali ke Mandiangin besok pagi dan menjalankan misi restorasi.
Malam itu di rumah panggung Lev, suasana slice of life yang biasanya tenang terasa berbeda. Lev duduk di tepi dermaga kecil di belakang rumahnya, menatap aliran Sungai Martapura yang diterangi lampu kota. Ia mengeluarkan kartu Owa Kalimantan.
"Status: Sedih (Rindu)."
"Maafin gue, kawan," bisik Lev. "Besok lo pulang."
Tiba-tiba, Oyen si kucing oren melompat ke pangkuan Lev. Kucing itu mengeong pelan, lalu menjilati tangan Lev, seolah menghibur.
"Oyen, lo ngerti perasaan gue ya?" Lev tersenyum. Oyen adalah summon pertama Vania, Rank E biasa, tapi ikatan mereka terasa sangat nyata. Ikatan, bukan Rank, seperti kata Prof. Rahmat.
Di sisi lain kota, di markas rahasia Organisasi Genesis, Tuan Delta sedang marah besar.
"Kalian kabur dari anak-anak ingusan?!" raung Tuan Delta kepada dua agennya yang babak belur.
"Profesor Rahmat ikut campur, Tuan! Dia punya Harimau Sumatera Rank A!" lapor agen tinggi itu gemetar.
Tuan Delta terdiam. "Rahmat... sudah kuduga dia akan bergerak. Dia pelindung terakhir keseimbangan itu." Ia menatap layar monitor yang menunjukkan lokasi Tahura Sultan Adam. "Tapi kita punya rencana B. Jika kamera itu sulit didapat, kita hancurkan saja keseimbangan di sana."
Agen-agen itu saling pandang. "Maksud Tuan Delta?"
"Kita akan melepaskan Rank S yang sudah kita kurung," Tuan Delta menyeringai jahat. "Biarkan hutan Kalimantan terbakar oleh kekacauan. Para summoner amatir itu tidak akan sanggup menanganinya."
Keesokan harinya, trio kita kembali ke Mandiangin. Niat mereka sudah bulat: mengembalikan Owa Kalimantan ke habitatnya dan mempertemukan kembali dengan pasangannya.
Mereka tiba di lokasi penangkapan kemarin. Anatasya mengaktifkan liontinnya. "Sinyal Owa betina lemah, tapi ada! Sekitar 500 meter ke arah timur."
"Oke, Lev, summon Owa jantannya!" perintah Vania.
Lev mengangguk. Ia mengaktifkan kartunya. Owa jantan muncul kembali, matanya masih terlihat lesu.
"Kita akan bantu kamu nemuin pasanganmu," kata Lev dengan lembut.
Anatasya memimpin jalan, melacak sinyal biologis Owa betina. Mereka berjalan menyusuri hutan lebat, jauh dari jalur pendakian resmi. Perjalanan ini terasa lebih berat, bukan karena medan, tapi karena beban etika yang mereka pikul.
Akhirnya, mereka sampai di area kanopi pohon yang sangat tinggi dan rapat. Anatasya menghentikan langkahnya. "Sinyalnya kuat di atas sana."
Mereka mendongak. Di dahan paling atas, Owa betina tampak duduk sendirian, menatap kosong ke kejauhan.
"Sekarang, Lev, lepaskan ikatannya," Vania berkata. "Biarkan dia bebas."
Lev mengangguk. Ia memfokuskan pikirannya, bukan untuk summon, tapi untuk melepaskan. "Pergilah, kawan. Temui pasanganmu."
Cahaya biru menghilang dari tubuh Owa jantan. Ikatan putus. Owa jantan kini bebas, bukan lagi summon, tapi satwa liar biasa.
Sang Owa jantan menatap Lev sesaat, seolah berterima kasih, lalu berteriak memanggil pasangannya. Wooooop! Wooooop!
Owa betina di atas sana langsung merespons. Matanya yang lesu berubah berbinar. Ia berteriak balik dan melesat cepat ke arah Owa jantan. Mereka bertemu di udara, berpelukan saat berayun di kanopi pohon. Pemandangan itu sangat menyentuh hati.
Vania tersenyum lega. Lev merasakan beban berat di dadanya terangkat. Anatasya mencatat momen itu di buku catatannya.
Tugas Konser Alam Liar mereka mungkin gagal dari segi dokumentasi foto, tapi dari segi etika dan pembelajaran, mereka berhasil total. Mereka melindungi alam dengan cara yang benar.
Namun, di kejauhan, ledakan keras menggelegar dari arah area rekreasi utama Tahura Sultan Adam. Asap hitam membumbung tinggi.
"Apa itu?" tanya Lev panik.
Anatasya menatap liontinnya. "Sinyal Rank S! Aura jahat yang sangat kuat!"
Trio itu saling pandang. Misi restorasi selesai, tapi perangkap Organisasi Genesis sudah aktif. Mereka harus bergegas.
