Bab 12: Pamit Manchester: Sebuah Babak Baru Menanti

Bab 12: Pamit Manchester: Sebuah Babak Baru Menanti

Lev
0

Hari terakhir di Manchester terasa bittersweet. Koper-koper mint green yang tadinya rapi kini sedikit membuncit, penuh dengan oleh-oleh, syal MU, mantel baru Anindya, dan kerupuk udang Lev. Pagi itu, setelah sarapan, keluarga Ryley sibuk melakukan pengepakan terakhir.

"Yah, koper Aisyah kok nggak muat ya?" keluh Aisyah, mencoba menutup koper yang sedikit terbuka.

"Sini Ayah bantu," Lev datang. "Maklum, oleh-oleh dari Ibu semua ini."

Anindya hanya tertawa. "Kan buat kenangan, Yah. Lagian mantel Ibu bisa buat gaya di Swiss."

Mereka check-out dari penginapan di Fallowfield dengan perasaan campur aduk. Manchester, kota industri yang awalnya terasa asing, kini menyimpan banyak kenangan manis. Dari stadion legendaris, perpustakaan megah, hingga piknik di taman yang damai.

Di taksi menuju stasiun kereta Manchester Piccadilly, keheningan menyelimuti mereka. Maryam masih sibuk dengan sketchbook-nya, menyelesaikan sketsa terakhir pemandangan jalanan kota. Ghina dan Rayyan diam, mungkin lelah setelah beberapa hari penuh petualangan.

Lev memandang istrinya. "Gimana, Bu? Suka Manchester-nya?"

"Suka banget, Yah. Ternyata kota ini hangat, ya. Nggak se-kaku yang Ibu bayangin dari film-film Inggris." Anindya tersenyum. "Makasih ya, Yah, sudah ajak kita napak tilas."

"Sama-sama, Bu. Ini kan hadiah untuk keluarga kita," balas Lev.

Mereka tiba di stasiun kereta. Stasiunnya besar dan modern. Tujuan mereka selanjutnya adalah London, untuk kemudian melanjutkan perjalanan kereta internasional menuju Swiss.
Sambil menunggu kereta, mereka duduk di area tunggu. Momen ini dimanfaatkan Lev dan Anindya untuk berbicara serius dengan Aisyah.

"Aisyah, Ayah sama Ibu senang kamu bisa menikmati perjalanan ini," ujar Lev memulai percakapan. "Sekarang kamu sudah 17 tahun, sudah dewasa. Kamu sudah tahu impianmu masuk PGSD ULM."

Aisyah mengangguk, mendengarkan dengan serius.

"Perjalanan ini kan juga dalam rangka merayakan usiamu yang baru. Ayah berharap, dengan melihat dunia luar begini, wawasanmu makin luas. Kamu bisa jadi mahasiswi yang cerdas, organisatoris ulung, tapi tetap rendah hati dan berakhlak mulia," tambah Anindya.

"Iya, Bu, Yah. Aisyah janji," jawab Aisyah tulus. "Aisyah belajar banyak di sini. Belajar tentang sejarah Islam di perpustakaan, belajar tentang teamwork saat bantu Ibu belanja, dan belajar menghargai alam di taman. Semua ini akan Aisyah bawa pulang dan Aisyah terapkan nanti di kampus."

Lev dan Anindya tersentuh mendengar jawaban putrinya. Mereka tahu, Aisyah tumbuh menjadi gadis yang matang dan bijaksana.

"Oya, Kakak juga mau bilang makasih ke Ayah dan Ibu. Dulu waktu kecil kan rewelnya minta ampun pas ziarah wali," Aisyah tertawa kecil. "Sekarang, Aisyah sadar, perjalanan keluarga itu yang paling penting."

Pengumuman kereta mereka ke London sudah terdengar. Mereka berdiri, merapikan barang bawaan. 

Saat melangkah ke peron, Lev berbisik ke Anindya, "Bu, Manchester adalah babak pertama kita. Sekarang, kita siap untuk babak baru yang lebih menantang: Keindahan alam Swiss dan drama salju!"

Anindya tertawa geli. "Siap, Pak Ryley! Next stop, Swiss! Semoga nggak ada drama koper ketinggalan ya!"

Mereka naik ke kereta, melambaikan tangan ke arah stasiun Manchester yang mulai ramai. Kota industri itu perlahan menghilang dari pandangan mereka. Manchester telah memberikan pelajaran berharga, menguatkan ikatan keluarga, dan mempersiapkan mereka untuk petualangan yang lebih indah di depan mata.

Petualangan baru yang penuh salju, gunung megah, dan keajaiban alam Swiss menanti keluarga Ryley. Perjalanan ini masih panjang, penuh tawa, hikmah, dan slice of life yang realistis.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default