Anindya mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan perasaan campur aduk. Ia mengenakan gamis sederhana berwarna krem dan kerudung pashmina yang menutupi rambutnya. Ini adalah Anindya yang baru, yang jauh berbeda dengan Karina yang dulu berangkat. Di tangannya, sebuah koper berisi kenangan Manchester, dan di hatinya, sebuah tekad untuk menjelaskan semuanya.
Di pintu kedatangan, ia melihat sosok ayah dan ibunya. Wajah mereka terlihat tegang, tidak ada senyum hangat yang biasanya menyambutnya. Di belakang mereka, ada Om Rahmat yang menatapnya dengan pandangan dingin. Anindya berjalan menghampiri mereka, berusaha menahan air mata yang mendesak keluar. Ia memeluk ibunya, namun pelukan itu terasa kaku. Ibunya tidak membalas pelukan itu.
"Ayah, Ibu," sapa Anindya dengan suara pelan.
"Ayo pulang," kata ayahnya dengan nada datar, tidak ada kehangatan di dalamnya.
Perjalanan dari bandara ke rumah terasa sunyi. Tidak ada pertanyaan tentang kuliahnya, tentang teman-temannya, atau tentang pengalamannya di Manchester. Mereka hanya diam, menciptakan jarak yang terasa begitu jauh. Anindya mencoba memulai percakapan, namun setiap usahanya disambut dengan keheningan.
Setibanya di rumah, suasana tidak berubah. Rumah yang dulu selalu ramai dan penuh tawa kini terasa dingin. Anindya duduk di ruang tamu, sementara ayah dan ibunya duduk di seberangnya. Di samping mereka, Om Rahmat duduk dengan wajah masam.
"Jadi, kamu mau cerita apa?" tanya ayahnya, memecah keheningan. "Ayah dan Ibu sudah mendengar semuanya. Dari teman-teman kamu. Apa yang mereka katakan itu benar?"
Anindya menarik napas dalam, mencoba mengendalikan emosinya. Ia harus sabar. Ia harus tenang. Ia harus menjelaskan semuanya dengan hati, bukan dengan emosi.
"Ayah, Ibu... apa yang teman-teman Anin ceritakan itu tidak benar," kata Anindya, suaranya mantap. "Adam tidak pernah memaksa Anin. Dia hanya membantu Anin ketika Anin merasa bingung dan hampa. Keputusan Anin untuk masuk Islam itu murni dari hati Anin sendiri."
Ibunya akhirnya angkat bicara. "Tapi kenapa, Karina? Kenapa kamu harus begini? Apa yang salah dari agama kita? Apa yang salah dari keluarga kita?"
"Tidak ada yang salah, Bu. Keluarga kita sempurna, Anin sayang sama Ibu dan Ayah," jawab Anindya, air matanya mulai menetes. "Tapi ada kekosongan di hati Anin, yang tidak bisa diisi oleh apapun. Anin merasa... ada sesuatu yang hilang. Dan Anin menemukannya dalam Islam."
"Apa itu?" tanya ayahnya, matanya menatap tajam.
"Ketenangan, Ayah. Ketenangan yang sejati. Selama ini, Anin selalu mengejar kesuksesan duniawi, tapi itu tidak pernah cukup. Anin selalu merasa hampa," jelas Anindya. "Dalam Islam, Anin menemukan tujuan hidup. Anin menemukan kedamaian."
Om Rahmat menyela, "Itu semua omong kosong, Karina. Kamu terpengaruh oleh laki-laki itu. Laki-laki Muslim itu pasti mencuci otakmu."
"Tidak, Om Rahmat!" kata Anindya dengan nada tegas. "Aku dan Adam hanya berteman. Aku masuk Islam bukan karena dia. Aku masuk Islam karena Allah."
Melihat ketegasan di mata Anindya, ayah dan ibunya terdiam. Mereka melihat sosok yang berbeda di depan mereka. Bukan lagi Karina yang dulu, yang mudah dipengaruhi. Ini adalah Anindya, yang memiliki keyakinan kuat dan ketenangan yang memancar dari dalam dirinya.
Pertemuan itu berakhir tanpa ada kesimpulan. Ayahnya hanya mengatakan, "Ayah butuh waktu. Kamu juga butuh waktu. Jangan bicarakan ini lagi."
Anindya mengangguk, menerima keputusan itu. Ia tahu, perjalanannya masih panjang. Tetapi ia juga tahu, ia telah berhasil menanamkan benih kejujuran di hati orang tuanya. Benih yang suatu saat nanti, ia berharap, akan tumbuh dan menghasilkan pemahaman. Malam itu, di kamarnya, Anindya menangis, namun bukan tangis sedih, melainkan tangis haru. Ia tahu, ia telah melakukan yang terbaik. Dan ia percaya, Allah akan membantunya.
