Bab 17: Perpisahan Sementara

Bab 17: Perpisahan Sementara

Lev
0

Hari-hari di Mesir akhirnya sampai di ujungnya. Perjalanan mereka di Negeri Piramida ini telah memberikan kenangan berharga, pelajaran berharga, dan ikatan persahabatan yang semakin erat. Setelah mengunjungi berbagai tempat bersejarah, mulai dari Piramida, Perpustakaan Alexandria, hingga gang-gang sempit di sekitar Al-Azhar, mereka berempat duduk di sebuah kafe di tepi Sungai Nil, menikmati senja terakhir di Kairo.

“Aku akan merindukan tempat ini,” kata Lev, menatap sungai dengan tatapan melankolis. “Terutama teh mint-nya.”
Fatimah tersenyum. “Kau selalu bisa kembali, Lev. Kairo selalu terbuka untukmu.”

Aisyah, yang sedari tadi merekam, mendekatkan kameranya ke wajah Fatimah. “Apa pesanmu untuk viewers-ku, Fatimah? Tiga kata tentang Mesir?”

Fatimah berpikir sejenak. “Sejarah, kehidupan, dan teh.”

Aisyah kemudian mengarahkan kameranya ke Khadijah. “Khadijah?”

“Ilmu, persahabatan, dan harapan,” jawab Khadijah, tersenyum.

“Lev?”

“Arsitektur, kucing, dan... nasi briyani,” jawab Lev, yang langsung disambut tawa oleh Fatimah dan Aisyah.

Suasana kembali serius saat Khadijah mengeluarkan tiket pesawat. “Aku dan Aisyah akan kembali ke Dubai besok pagi,” katanya. “Ada beberapa urusan yang harus kami selesaikan di sana.”

“Lalu, bagaimana dengan Lev?” tanya Fatimah, memandang Lev.

“Aku akan melanjutkan perjalanan ke Iran,” jawab Lev. “Sendirian.”

“Apa?! Sendirian?!” Aisyah kaget. “Kenapa tidak tunggu kita?”

“Tidak apa-apa, Aisyah,” jawab Lev. “Kalian punya urusan masing-masing. Lagipula, aku ingin mencoba merasakan perjalanan sendirian. Siapa tahu ada petualangan baru yang menanti.”

Fatimah menatap Lev dengan pandangan khawatir. “Iran berbeda dari Mesir, Lev. Kamu harus lebih berhati-hati.”

“Aku tahu, Fatimah,” jawab Lev. “Tapi aku sudah belajar banyak dari kalian. Aku akan baik-baik saja.”

Di tengah obrolan mereka, Lev teringat akan janji yang mereka buat di Sharjah, tentang video ‘Empat Paspor, Satu Tujuan’.

“Kita harus tetap membuat video itu,” kata Lev. “Meskipun kita berpisah, tujuan kita tetap sama.”

“Tentu saja,” jawab Aisyah, bersemangat. “Kita akan membuat episode baru saat bertemu lagi.”

Malam itu, mereka makan malam terakhir bersama di sebuah restoran di pusat kota. Mereka membicarakan kenangan-kenangan lucu mereka selama di Mesir. Mulai dari kekonyolan Lev saat memesan jus tebu, perdebatan Fatimah tentang nasi briyani, hingga misi penyelamatan anak kucing. Tawa mereka memenuhi restoran, menarik perhatian beberapa pengunjung lain.

“Aku tidak pernah menyangka, perjalanan ini akan begitu seru,” kata Khadijah, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih sudah menjadi teman-teman yang luar biasa.”

“Terima kasih juga, Khadijah,” kata Fatimah. “Tanpa kamu, kita tidak akan pernah bertemu.”

Aisyah memeluk Khadijah dan Fatimah. “Ini bukan perpisahan. Ini hanya sampai jumpa.”

Lev, yang tadinya hanya diam, kini berbicara. “Aku setuju dengan Aisyah. Ini hanya perpisahan sementara. Kita akan bertemu lagi. Di Iran, atau mungkin di Banjarmasin.”

Keesokan paginya, mereka berempat pergi ke bandara. Lev, Khadijah, dan Aisyah. Fatimah mengantar mereka, dengan berat hati.

“Hati-hati ya, semuanya,” kata Fatimah, memeluk mereka satu per satu.

“Nanti kita video call!” seru Aisyah, sambil melambai.

Lev, yang memegang tiket ke Iran, menatap Fatimah dengan pandangan tulus. “Terima kasih, Fatimah. Sudah menjadi pemandu yang luar biasa. Sudah menjadi teman yang luar biasa.”

Fatimah tersenyum. “Sama-sama, Lev. Semoga perjalananmu menyenangkan. Dan jangan lupa, hati-hati.”

Setelah mengucapkan selamat tinggal, Lev, Khadijah, dan Aisyah berjalan menuju pintu keberangkatan. Fatimah berdiri di sana, melambaikan tangan, hingga mereka menghilang dari pandangannya. Air matanya menetes. Ia tahu, persahabatan mereka akan bertahan, meskipun mereka berada di benua yang berbeda.

Lev, yang kini sendiri di bandara, merasa sedikit cemas. Namun, ia juga merasa bersemangat. Petualangan baru menantinya. Ia tidak tahu apa yang menantinya di Iran, tetapi ia siap menghadapinya. Koper besarnya kini terasa lebih ringan. Bukan karena isinya berkurang, melainkan karena ia sudah tidak sendiri. Di dalam hatinya, ada kenangan-kenangan manis yang ia bawa dari Dubai dan Mesir, dan harapan-harapan baru yang menantinya di Iran.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default