Matahari sore di Paringin mulai condong ke barat, menciptakan bayangan panjang dari deretan pohon kelapa di sepanjang bantaran Sungai Balangan. Di sebuah sudut Gang Rukun Roda, suasana yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi panggung drama bagi generasi muda. Jika sebelumnya persaingan Honda dan Yamaha hanya melibatkan dua pria paruh baya yang hobi berdebat, kini "virus" itu mulai menjangkiti anak-anak mereka dengan cara yang jauh lebih unik dan menggelitik.
Zaki Junior, atau yang akrab dipanggil Zidni, adalah putra tunggal Abah Zaki yang mewarisi obsesi ayahnya terhadap kecepatan dan tampilan motor. Zidni baru saja menyelesaikan kuliahnya dan kini bekerja sebagai tenaga honorer di sebuah kantor dinas di pusat kota Paringin. Sore itu, ia sedang sibuk mencuci motor Yamaha N-Max ayahnya—yang kini sudah ia klaim sebagai kendaraan operasional pribadinya. Zidni sedang mengaplikasikan wax ke bodi motor sampai permukaannya bisa digunakan untuk bercermin, sambil sesekali membetulkan jambul rambutnya yang tertiup angin sepoi-sepoi Bumi Sanggam.
Namun, fokus Zidni buyar ketika ia mendengar suara mesin yang sangat ia kenali: halus, tanpa getaran, dan sangat "sopan". Itu adalah suara Honda Vario milik Haji Luqman. Tapi kali ini, bukan Haji Luqman yang mengendarainya, melainkan Aisyah, putri bungsu Haji Luqman yang baru saja pulang dari mengajar di sebuah Madrasah Ibtidaiyah di Paringin Timur.
Aisyah tampak anggun dengan jilbab lebar berwarna cokelat muda yang senada dengan warna motornya. Ia menghentikan motornya tepat di depan pagar rumahnya, hanya berjarak tiga meter dari tempat Zidni berdiri mematung memegang kain lap.
"Assalammualaikum, Kak Zidni. Rajin benar sore ini, motornya sampai lebih berkilau daripada masa depan," goda Aisyah sambil tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menurut Zidni lebih mematikan daripada akselerasi mesin Yamaha manapun.
Zidni gelagapan, ia hampir saja menjatuhkan botol pembersih motornya. "Waalaikumussalam, Aisyah. Oh, ini... biasa, Syah. Mesin Yamaha itu ibarat hati, harus dijaga kebersihannya supaya tidak ada kotoran yang menghambat lajunya. Tapi kalau motor Vario kamu itu, sepertinya tidak perlu dicuci ya? Kan jalannya pelan sekali, debu pun tidak sempat menempel."
Aisyah tertawa kecil, suara tawanya seperti melodi yang menenangkan di tengah deru angin sore. "Kak Zidni ini ada-ada saja. Pelan itu artinya menikmati perjalanan. Islam kan mengajarkan kita untuk tidak istij'al atau terburu-buru. Lagi pula, Honda ini sahabat para guru, Kak. Iritnya luar biasa. Uang bensin yang tersisa bisa saya tabung untuk... ya, siapa tahu buat persiapan masa depan."
Zidni merasa "kena mental" mendengar kata "masa depan" dari mulut Aisyah. Dalam hati, ia berteriak bahwa ia sedang berjuang menabung juga, meskipun biaya perawatan Yamahanya memang sedikit lebih "menantang" di dompet.
Tiba-tiba, Abah Zaki keluar dari dalam rumah sambil membawa segelas kopi hitam. Melihat anaknya sedang asyik mengobrol dengan putri Haji Luqman, sifat jahilnya langsung muncul. "Nah, Zidni! Kenapa cuma diam? Coba tunjukkan ke Aisyah fitur Traction Control Yamaha kita. Biar dia tahu kalau motor ini tidak akan selip meski melewati jalanan licin menuju pelaminan!"
Wajah Zidni memerah seperti lampu rem belakang motornya. "Abah! Apa-apaan sih, jangan mulai deh."
Haji Luqman yang ternyata sedang menyiram bunga di balik pagar juga ikut menyahut, tak mau kalah dalam diplomasi antar tetangga ini. "Eh, Abah Zaki. Fitur itu bagus, tapi di jalanan Paringin yang penuh cinta ini, yang dibutuhkan bukan kontrol traksi, tapi kontrol hati. Betul tidak, Aisyah?"
Aisyah hanya bisa menunduk malu, sementara Zidni mendadak jadi sangat rajin mengelap ban motornya padahal sudah bersih total. Di tengah suasana canggung yang lucu itu, terjadilah sebuah momen yang merangkum esensi kehidupan bertetangga di Paringin. Tiba-tiba, terdengar suara mesin motor tua yang batuk-batuk di tengah jalan. Ternyata seorang kakek tetangga ujung gang, Kai (Kakek) Mansyur, motor bebek tuanya mogok tepat di tengah jalan.
Tanpa dikomando, Zidni yang pemuja Yamaha dan Aisyah yang pemuja Honda (bersama ayah mereka masing-masing) langsung bergerak. Zidni dengan sigap memarkir Yamahanya dan berlari membantu mendorong motor Kai Mansyur ke pinggir. Aisyah segera masuk ke rumah dan keluar membawakan segelas air minum untuk kakek tersebut.
"Sudah, Kai. Jangan dipaksa," kata Zidni sopan. "Nanti saya cek businya. Kebetulan saya punya alat-alatnya di bagasi motor."
Haji Luqman dan Abah Zaki pun ikut mendekat. Perdebatan tentang merk motor seketika sirna, digantikan oleh semangat gotong royong yang menjadi akar budaya masyarakat Kalimantan Selatan. Di bawah sisa cahaya sore di dekat Jembatan Paringin yang megah, mereka semua bahu-membahu memperbaiki motor tua Kai Mansyur.
Dari kejadian itu, Zidni menyadari sesuatu yang penting. Kecepatan Yamaha-nya mungkin bisa membawanya sampai ke tujuan lebih cepat, namun kenyamanan Honda milik Aisyah mengajarkannya tentang arti ketenangan. Dan yang paling penting, sekuat apa pun mesin kendaraan mereka, pada akhirnya yang bisa menggerakkan hati untuk membantu sesama adalah mesin keimanan yang ada di dalam dada.
Sore itu berakhir dengan tawa bersama saat motor Kai Mansyur akhirnya kembali menyala dengan suara "prepet-prepet" yang jauh lebih bising dari Yamaha milik Zidni. Kai Mansyur mengucapkan terima kasih yang mendalam, mendoakan agar kedua keluarga tersebut selalu rukun.
"Terima kasih ya, anak-anak muda. Ternyata pengguna Honda dan Yamaha kalau bersatu, motor mogok pun jadi takut," canda Kai Mansyur sebelum berlalu.
Aisyah berpamitan untuk masuk ke rumah guna persiapan shalat Maghrib di Masjid Al-Akbar. Zidni menatap punggung motor Vario Aisyah yang kini diparkir rapi di garasi sebelah. Ia baru menyadari, bahwa mungkin saja, takdir sedang merancang sebuah mesin baru dalam hidupnya: sebuah mesin rumah tangga di mana Yamaha dan Honda bisa diparkir dalam satu garasi yang sama, di bawah naungan ridha Allah SWT.
