Suasana di inti Arcanum mendadak tegang. Cahaya putih yang biasanya menenangkan kini terasa dingin, seolah ikut merasakan kecurigaan yang merayap di antara Lev, Vania, Anatasya, dan Elara. Argus, yang berdiri di depan mereka, tidak menyangkal. Tatapannya penuh penyesalan, namun juga memiliki keteguhan yang aneh.
"Ya," katanya, suaranya pelan, "Aku yang memberikan buku itu pada Elara."
Vania melangkah maju, apinya menyala samar di tangannya. "Kenapa? Apa kau bekerja sama dengan Sombra?"
"Tidak," jawab Argus tegas. "Aku tidak pernah bekerja sama dengan Sombra. Justru sebaliknya. Aku mencoba mengalahkannya."
Argus kemudian menceritakan kisahnya. Bertahun-tahun yang lalu, ia adalah seorang pewaris elemen yang kuat, tetapi ia terlalu percaya diri. Ia mencoba mengalahkan Sombra sendirian, dan ia gagal. Sombra berhasil melukainya, dan ia kehilangan sebagian dari kekuatannya. Sombra juga mencuri sebuah artefak kuno darinya, sebuah buku yang berisi mantra-mantra kuno yang bisa mengalahkan Sombra.
"Aku tahu bahwa Sombra tidak bisa dilawan dengan kekuatan fisik saja," kata Argus. "Aku tahu bahwa ia bisa dilawan dengan kekuatan spiritual dan kekuatan kepercayaan. Aku tahu bahwa ia akan mencoba memanipulasi pewaris elemen yang lemah."
Argus kemudian menjelaskan bahwa ia memberikan buku itu kepada Elara, karena ia melihat potensi dalam dirinya. Ia melihat bahwa Elara adalah pewaris elemen es yang kuat, tetapi juga rentan terhadap manipulasi. Ia berharap bahwa Elara akan bisa mengalahkan Sombra dengan menggunakan buku itu, tetapi ia tidak tahu bahwa Sombra akan memanipulasi Elara.
"Aku tidak bermaksud untuk menyakitinya," kata Argus, suaranya dipenuhi rasa bersalah. "Aku hanya ingin mengalahkannya."
"Tapi kenapa kau tidak memberitahu kami?" tanya Lev, suaranya dipenuhi kekecewaan. "Kenapa kau merahasiakannya?"
"Aku tidak ingin kalian membuat kesalahan yang sama denganku," jawab Argus. "Aku tidak ingin kalian terlalu percaya diri. Aku ingin kalian belajar untuk mempercayai satu sama lain, dan mempercayai diri kalian sendiri."
Lev, Vania, Anatasya, dan Elara terdiam. Mereka tidak tahu harus berkata apa. Mereka merasa bahwa Argus telah mengkhianati mereka, tetapi mereka juga tahu bahwa ia tidak bermaksud jahat.
"Sombra tidak bisa masuk ke inti Arcanum," kata Argus. "Tetapi ia bisa menunggu di luar. Ia bisa menunggu kalian. Kalian harus bersiap. Pertarungan terakhir akan segera tiba."
Argus kemudian memberikan mereka sebuah petunjuk. "Sombra memiliki kelemahan yang lebih besar. Ada satu tempat di Arcanum yang dia tidak bisa masuki. Sebuah tempat di mana cahaya abadi bersinar."
Bab ini diakhiri dengan Lev, Vania, Anatasya, dan Elara yang merasa lebih siap dari sebelumnya. Mereka memiliki Argus di sisi mereka, dan mereka memiliki tempat yang aman untuk merencanakan pertempuran terakhir. Mereka tahu bahwa Sombra akan kembali, dan mereka tahu bahwa pertempuran itu akan sulit. Tetapi, mereka juga tahu bahwa mereka akan menang. Karena kali ini, mereka tidak hanya memiliki kekuatan, tetapi juga persatuan dan kepercayaan. Dan, di balik semua itu, mereka juga memiliki Argus, mentor yang tidak sempurna, tetapi juga tidak jahat.
