Sabtu pagi di kompleks perumahan dinas biasanya identik dengan suara mesin potong rumput atau obrolan santai di pos ronda. Namun, pagi itu, suasana sedikit berbeda. Sebuah mobil pikap besar bermuatan perabotan rumah tangga berhenti tepat di rumah kosong di seberang kediaman Hifni dan Rina.
"Mas, ada tetangga baru!" seru Rina antusias dari teras belakang, sambil menjemur pakaian Khalisa. Hifni yang sedang asyik memperbaiki keran air yang macet di dapur langsung menoleh.
"Wah, akhirnya laku juga rumah itu. Siapa ya yang pindah?"
Hifni berjalan ke depan, tangannya masih belepotan oli.
Mereka mengamati dari kejauhan. Dari pikap turunlah seorang laki-laki bertubuh tegap, berkulit sawo matang, dengan kumis tipis rapi. Ia mengenakan kaus oblong dan celana jins, tapi pembawaannya terlihat sangat disiplin, bahkan saat menurunkan kotak kardus. Di belakangnya, seorang perempuan anggun dengan jilbab rapi ikut membantu mengarahkan barang.
"Kayaknya orang penting deh, Mas. Lihat pembawaannya, kok mirip anggota," bisik Rina, insting sosialitanya langsung aktif.
"Anggota apa? Anggota arisan?" Hifni bercanda. "Ya sudah, nanti sore kita samperin buat silaturahmi. Namanya tetangga baru, wajib kita sambut."
Sepanjang hari itu, obrolan di grup WhatsApp kompleks PNS Tabalong langsung riuh. Semua bertanya-tanya siapa penghuni baru rumah nomor 27 itu.
Bu Ani: "Info A1, tetangga baru Bu Rina itu siapa ya? Kayaknya dari instansi vertikal deh, bukan Pemda."
Bu Lurah: "Belum tahu pasti, Bu Ani. Tapi denger-dengar, beliau orang disiplin banget. Tadi pagi saya nyiram bunga, beliau nyapanya sambil sikap sempurna."
Rina dan Hifni hanya tersenyum membaca chat tersebut. Warga kompleks mereka memang humoris dan sedikit lebay dalam menyikapi hal baru.
Sore harinya, setelah mandi dan rapi, Hifni, Rina, dan Khalisa membawa piring berisi Lumpur Surga buatan Rina sebagai bingkisan selamat datang. Mereka berjalan melintasi jalan kecil menuju rumah baru tersebut.
"Assalamualaikum," sapa Hifni di depan pintu.
Pintu terbuka. Laki-laki berkumis tipis tadi yang membukanya. Wajahnya ramah, tapi matanya memancarkan ketegasan yang khas.
"Waalaikumsalam. Monggo masuk, Bapak Ibu," sambutnya hangat dengan logat Jawa yang halus.
Mereka masuk ke ruang tamu yang masih berantakan dengan kardus. Perempuan yang tadi terlihat ikut membantu menurunkan barang tersenyum dan menyalami Rina.
"Saya Rina, ini suami saya Hifni, dan ini Khalisa. Kami tetangga di seberang jalan. Ini ada sedikit kue," kata Rina ramah.
"Wah, terima kasih banyak, Bu Rina, Pak Hifni. Silakan duduk. Maaf masih berantakan," jawab sang empunya rumah. "Oh iya, perkenalkan, saya Bambang Sutejo, dan ini istri saya, Siti Aisyah."
"Saya pindahan dari Balikpapan, Pak. Kebetulan dapat tugas di Kodim sini," lanjut Pak Bambang, senyumnya mengembang.
Tebakan Rina benar! Hifni dan Rina saling pandang. Ternyata tetangga baru mereka adalah seorang perwira TNI, bukan PNS seperti kebanyakan warga di kompleks itu. Wajar saja pembawaannya sangat tegap dan disiplin.
"Wah, kami PNS biasa di Pemkab, Pak Bambang. Senang sekali bisa bertetangga dengan Bapak dan Ibu," kata Hifni tulus.
Bu Siti Aisyah, istri Pak Bambang, menambahkan, "Alhamdulillah, kami senang bisa langsung disambut sehangat ini. Masyarakat Tabalong ramah-ramah sekali ya, Islami lagi suasananya."
Mereka mengobrol santai. Pak Bambang ternyata orangnya sangat supel, meskipun terlihat tegas di luar. Ia banyak bercerita tentang pengalamannya bertugas di berbagai daerah. Obrolan mereka diselingi celoteh polos Khalisa yang bertanya mengapa kumis Om Bambang bisa serapi itu.
"Om Bambang, kumisnya dipotong pakai penggaris ya?" tanya Khalisa polos.
Sontak ruangan itu penuh tawa. Pak Bambang tertawa lepas, mengelus kepala Khalisa. "Nggak pakai penggaris, Sayang, pakai hati," jawabnya yang disambut tawa lagi.
Momen silaturahmi itu berhasil mencairkan suasana. Stereotip tentang tentara yang kaku dan menakutkan langsung runtuh. Pak Bambang dan Bu Siti adalah pasangan yang hangat dan bersahaja.
Keesokan harinya, Minggu pagi, kompleks kembali riuh. Kali ini bukan karena gosip, tapi karena kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan. Pak Bambang terlihat paling semangat memimpin pembersihan selokan, memberikan instruksi layaknya komandan lapangan.
"Pak Hifni, sampahnya angkat semua! Jangan ada yang tersisa! Disiplin kebersihan itu kunci kesehatan!" serunya dengan nada bercanda tapi tetap tegas.
Hifni dan warga lain hanya bisa tertawa dan mengikuti instruksi Pak Bambang. Kehadiran tetangga baru dari instansi vertikal itu justru membawa angin segar, semangat baru, dan tentu saja, bahan komedi kehidupan bermasyarakat yang tak ada habisnya di Tanjung Murung Pudak.
Rina melirik Hifni yang sedang sibuk mengangkat sampah, kemejanya sudah basah oleh keringat. Pak Bambang berhasil membuat Hifni bergerak lebih gesit dari biasanya.
"Wah, Mas Hifni dapat motivasi baru nih dari Pak Bambang," goda Rina.
Hifni hanya menyeka keringat di dahinya sambil nyengir. "Alhamdulillah, Bu. Hitung-hitung latihan fisik gratis di hari Minggu."
Keluarga kecil Hifni dan Rina merasa bersyukur memiliki lingkungan yang guyub, di mana perbedaan latar belakang instansi dan profesi tidak menjadi penghalang untuk menjalin silaturahmi dan kebersamaan. Kehidupan bermasyarakat di Tabalong memang unik, penuh warna, dan selalu ada hikmah di setiap interaksinya.
