BAB 3: Simfoni Dua Salsabilla di Meja Makan

BAB 3: Simfoni Dua Salsabilla di Meja Makan

Lev
0
Ikuti petualangan seru nan haru keluarga Lev Ryley (Banjarmasin) & Muhammad Hifni (Tabalong) dari Mekah hingga ke Murung Pudak. Novel Slice of Life Islami tentang ukhuwah, komedi kucing, dan keindahan wisata Jaro.



Suasana ruang tamu keluarga Muhammad Hifni mendadak penuh sesak. Lev ℛyley baru saja duduk di sofa empuk sambil meluruskan pinggangnya yang terasa "kaku coding" akibat perjalanan jauh, ketika sebuah mobil putih berhenti tepat di depan pagar.

"Nah, ini dia tamu kehormatan kita satu lagi," ujar Pak Hifni sambil bangkit berdiri.

Seorang wanita dengan pembawaan tenang dan rapi melangkah masuk. drg. Dina Yulianti datang tidak dengan jas putih dokternya, melainkan dengan gamis kasual yang elegan. Di sampingnya, seorang gadis kecil berusia sebaya dengan Khalisah mengekor malu-malu. Itulah Naura Salsabilla.

"Assalamu’alaikum! Maaf telat sedikit, tadi ada pasien darurat sebentar di klinik," sapa drg. Dina ramah.

Anindya Putri langsung berdiri dan melakukan pelukan hangat ala ibu-ibu jamaah Umroh. "Wa’alaikumussalam, Bu Dokter! Duh, makin glowing aja nih setelah pulang dari Mekah."

Namun, perhatian semua orang segera teralihkan pada dua bocah kecil di tengah ruangan. Khalisah Salsabilla berdiri memegang kucingnya, sementara Naura Salsabilla berdiri memegang tas boneka kecil. Keduanya saling lirik, seolah sedang melakukan inspeksi wilayah.

"Salsabilla, ayo salim sama Om Lev dan Tante Anin," ucap Ibu Rina Rufida lembut.

Keajaiban terjadi. Kedua bocah itu—Khalisah dan Naura—serentak maju ke depan. Mereka berdua menyodorkan tangan secara bersamaan ke arah Lev.

Lev tertawa renyah, "Wah, Pak Hifni, ini benar-benar double input! Data primernya sama persis."

"Itu belum seberapa, Pak Lev," sahut drg. Dina sambil terkekeh. "Coba panggil satu saja, pasti dua-duanya nengok."

Ibu Rina kemudian mengajak semuanya ke ruang makan yang sudah ditata rapi. Aroma Paliat Khas Tabalong yang gurih dari perpaduan santan dan kunyit benar-benar menggoda iman. Ikan patin yang dimasak sempurna terlihat berenang di kuah kuning kental yang harum.

"Ayo, Salsabilla duduk di kursi kecil itu!" perintah Ibu Rina.

Lagi-lagi, Khalisah dan Naura berebut satu kursi kayu kecil yang sama. Mereka saling tarik-menarik dengan wajah yang mulai memerah.

"Aku duluan! Namaku kan Salsabilla!" seru Khalisah.
"Aku juga Salsabilla! Bundaku yang panggil!" balas Naura tak mau kalah.

Suasana yang tadinya formal berubah menjadi komedi situasi. Rayyan yang sejak tadi asik mengamati dari balik meja makan, tiba-tiba nyeletuk polos, "Kalau di Arab namanya Salsabilla, kalau di Tanjung namanya 'Salsabilla Goreng' ya, Yah?"

Tawa pecah di ruang makan itu. Aisyah Humaira, si mahasiswi PGSD ULM, langsung mengambil peran sebagai mediator. "Oke, adik-adik Salsabilla yang cantik. Biar nggak ketukar, yang satu kita panggil 'Salsa', yang satu lagi 'Bella', gimana?"

Kedua bocah itu diam sejenak, menimbang-nimbang tawaran sang kakak mahasiswa. "Aku mau Salsa!" teriak Khalisah. "Aku Bella!" sahut Naura. Masalah teknis pun terpecahkan lewat diplomasi tingkat tinggi ala calon guru.

Sambil menikmati hidangan patin paliat yang lumer di mulut, Pak Hifni bercerita tentang perkembangan Pembangunan di Tabalong yang makin pesat sebagai penyangga IKN. Sementara itu, Anindya Putri diam-diam sudah menyalakan live streaming singkat, memperlihatkan kehangatan pertemuan dua kota ini.

"Guys, kalian harus lihat ukhuwah ini. Dari Mekah ke Murung Pudak, cinta itu nggak pernah putus," ucap Anindya ke arah kamera ponselnya.

Di sudut meja, Maryam Safiya sudah menyiapkan pensilnya. Ia mensketsa momen tersebut: dua gadis kecil bernama Salsabilla yang akhirnya duduk berdampingan, berbagi piring kerupuk, di bawah naungan doa yang pernah mereka panjatkan bersama di depan Ka'bah.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default