BAB 5: Rayyan Zuhayr dan Target Puasa Pertama di Bawah Lindungan Muezza

BAB 5: Rayyan Zuhayr dan Target Puasa Pertama di Bawah Lindungan Muezza

Lev
0
Ikuti keseruan keluarga Lev Ryley dan Anindya Putri menyambut Ramadhan 2026 di Banjarmasin. Mulai dari drama paket belanja online, tips puasa untuk anak, hingga aksi lucu kucing-kucing kesayangan mereka saat tarawih. Kisah inspiratif yang hangat, lucu, dan penuh makna!

Minggu pertama Ramadhan 2026 di Banjarmasin membawa tantangan baru bagi Rayyan Zuhayr. Anak laki-laki bungsu keluarga Lev ℛyley yang baru menginjak usia SD kelas dua itu mulai merasakan "ujian tengah semester" dalam hal menahan lapar. Jika di minggu pertama ia masih bisa pamer puasa sampai jam empat sore, memasuki hari kesepuluh, Rayyan mulai sering terlihat melamun di depan kipas angin.

"Abah, kenapa matahari di Banjarmasin kalau bulan puasa rasanya ada dua?" tanya Rayyan dengan lemas sambil merebahkan diri di lantai keramik ruang tamu yang dingin.

Lev yang sedang sibuk memantau traffic server kliennya hanya terkekeh. "Itu karena Rayyan sedang naik level. Semakin panas harinya, semakin besar pahalanya kalau Rayyan sabar. Sama seperti kalau Abah sedang memperbaiki sistem yang kena serangan virus, butuh ketenangan ekstra."

Anindya, yang baru saja selesai merekam video edukasi tentang "Pola Makan Sehat Saat Puasa" untuk pengikutnya, menghampiri sang bungsu. Ia membawa sebuah paket berbentuk kotak panjang yang baru saja sampai pagi tadi.

"Rayyan, ingat janji Mama? Kalau Rayyan bisa puasa penuh selama sepuluh hari pertama, ada reward spesial dari keranjang belanja Mama," ujar Anindya sambil menggoyang-goyangkan paket itu.

Mata Rayyan yang tadinya redup langsung berbinar. "Mainan robot, Ma? Atau buku cerita nabi yang ada suaranya?"

Anindya membuka paketnya dengan perlahan. Ternyata isinya adalah sebuah Lego Masjid Raya Sabilal Muhtadin edisi khusus. Mainan edukasi itu lengkap dengan miniatur kubah besar dan menara-menaranya. Tidak hanya itu, ada juga sebuah buku cerita bergambar tentang "Kucing-Kucing Hebat dalam Sejarah Islam".

"Wah! Ada Muezza di bukunya!" seru Rayyan sambil menunjuk ilustrasi kucing yang mirip dengan anabul kesayangan mereka.

Muezza, si kucing oranye yang sedang asyik menjilati bulunya di pojok ruangan, seolah tahu sedang dibicarakan. Ia berjalan mendekat dan dengan santainya merebahkan diri tepat di atas instruksi pemasangan Lego Rayyan.

"Muezza! Jangan di sana! Rayyan mau bangun masjid ini!" protes Rayyan. Namun, kehadiran Muezza justru membuat Rayyan lupa akan rasa hausnya.

Melihat adiknya mulai sibuk merakit Lego, Aisyah Humaira masuk membawa sebuah papan tulis kecil. "Rayyan, sambil merakit, kakak punya tugas buat kamu. Ini namanya 'Papan Kebaikan'. Setiap kali Rayyan berhasil shalat tepat waktu, membantu Mama membuang sampah paket, atau memberi makan Muezza tepat jam sahur dan buka, kakak akan beri stiker bintang."

"Kalau bintangnya penuh sampai hari kemenangan nanti, Abah punya kejutan lebih besar lagi," tambah Lev sambil mengedipkan mata ke arah Aisyah.

Sore itu, suasana rumah terasa sangat damai. Maryam Safiya duduk di dekat Rayyan sambil menggambar detail masjid yang sedang dibangun adiknya. Ghina Qalbi sibuk mengedit video pendek tentang "Tips Mengalihkan Rasa Lapar dengan Mainan Edukasi" menggunakan Rayyan sebagai modelnya.

Namun, godaan berat muncul saat jam menunjukkan pukul lima sore. Aroma masakan dari dapur tetangga—Ikan Patin Bakar dan Sambal Acan yang menyengat—terbang terbawa angin masuk melalui ventilasi. Rayyan berhenti merakit. Ia menelan ludah.

"Ma... Rayyan boleh minum sedikit saja? Satu tetes saja, seperti embun di daun?" rayunya.

Anindya hampir saja luluh, namun Aisyah dengan cepat menghalangi. "Rayyan, lihat Muezza. Dia saja tidak minta makan padahal dari tadi cuma tidur. Dia menunggumu buka puasa bersama, lho."

Rayyan menoleh ke arah Muezza yang memang sedang menatapnya dengan mata bulat yang teduh. Entah mengapa, Rayyan merasa kucing itu sedang menyemangatinya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu kembali fokus pada kepingan Lego-nya. "Baiklah, Rayyan kuat! Rayyan mau jadi seperti Khalid bin Walid!"

Saat adzan Maghrib berkumandang, Rayyan adalah orang pertama yang duduk di meja makan dengan wajah paling ceria. Ia tidak langsung menyambar es buah, melainkan memberikan sedikit potongan ayam rebus (tanpa bumbu) ke mangkuk Muezza terlebih dahulu.

"Berbuka dulu ya, Muezza. Terima kasih sudah menemani Rayyan menahan lapar," ucapnya polos.

Lev dan Anindya saling berpandangan dengan rasa bangga. Ramadhan di Kota Seribu Sungai bukan hanya soal menahan lapar, tapi soal bagaimana setiap anggota keluarga, sekecil apapun perannya—bahkan seekor kucing sekalipun—bisa menjadi penguat iman bagi satu sama lain.

Malam itu, Rayyan tertidur di atas sajadah setelah Tarawih, memeluk buku cerita kucingnya, sementara replika Lego masjidnya berdiri megah di samping tempat tidurnya, diterangi lampu kamar yang temaram. Satu hari lagi kemenangan kecil berhasil diraih.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default