Bab 6: Deburan Ombak Islandia

Bab 6: Deburan Ombak Islandia

Lev
0
Novel fantasi slice-of-life tentang dua elf terakhir, Eva dan Andriy, yang bertemu tak terduga di Greenland. Kisah persahabatan, rahasia, dan kehidupan abadi di dunia modern.


Perjalanan melintasi Lautan Arktik terasa seperti perjalanan melintasi waktu. Selama berhari-hari, Eva dan Andriy hanya duduk di geladak kapal, terbungkus jaket tebal, mengamati lautan yang membeku dan gunung es yang melintas. Mereka tidak banyak berbicara, tetapi kehadiran satu sama lain sudah cukup. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, mereka merasa tidak sendirian.

Kapal kargo itu berlabuh di sebuah pelabuhan kecil di Islandia. Udara terasa dingin dan lembap, tetapi tidak sedingin di Greenland. Kota kecil di sekitarnya terasa hidup, dengan rumah-rumah berwarna cerah dan jalanan yang dipenuhi orang-orang yang sibuk. Kontras dengan kesunyian Greenland, Islandia terasa seperti dunia yang penuh dengan kehidupan.

Begitu turun dari kapal, Eva dan Andriy disambut oleh keramaian. Mereka melihat keluarga-keluarga berjalan-jalan, anak-anak berlarian di taman bermain, dan pasangan-pasangan yang duduk di kafe-kafe. Untuk sesaat, mereka merasa seperti orang asing di dunia yang mereka kenal. Mereka mengamati semua itu dengan mata yang sudah terlalu banyak melihat.

"Ke mana kita sekarang?" tanya Eva, suaranya sedikit ragu.
"Saya tidak tahu," jawab Andriy. "Tapi saya melihat sebuah toko kosong di sudut jalan. Mungkin kita bisa memulainya di sana."

Toko yang dimaksud Andriy adalah sebuah toko kecil dengan jendela yang berdebu. Papan namanya usang, tetapi masih bisa dibaca: "Toko Sovenir Murni." Di dalamnya, Eva melihat rak-rak kosong dan meja kerja yang terbengkalai. Andriy, dengan mata pengukir kayunya, melihat potensi. Ia membayangkan rak-rak itu dipenuhi dengan ukiran kayunya, dan meja kerja itu kembali hidup dengan serbuk kayu.

Mereka mendekati sebuah toko kelontong di dekatnya untuk menanyakan tentang toko itu. Mereka bertemu dengan seorang pemilik toko yang ramah, seorang wanita tua bernama Freyja.

"Toko itu sudah lama kosong," kata Freyja, tersenyum. "Pemiliknya meninggal beberapa tahun yang lalu. Tidak ada yang tertarik untuk membelinya."

Eva dan Andriy saling berpandangan. "Kami tertarik," kata Andriy.

Freyja menatap mereka dengan tatapan penasaran, tetapi tidak bertanya banyak. Ia memberikan mereka kunci toko dan nomor kontak pemilik sebelumnya. Eva dan Andriy kembali ke toko itu, mengamatinya dari luar. Jendela yang berdebu, papan nama yang usang, semua terasa seperti gambaran kehidupan mereka sendiri: tua, usang, tetapi masih memiliki potensi.

Di dalam toko, mereka menemukan ruangan yang dipenuhi dengan debu dan kenangan. Andriy segera mengambil sapu dan memulai membersihkan. Eva, dengan keahliannya sebagai ahli botani, mulai mengamati tanaman-tanaman yang tumbuh di luar toko. Ia melihat bunga-bunga liar yang tumbuh di antara celah-celah trotoar, dan ia merasa terhubung dengan mereka. Mereka berdua, seperti bunga-bunga liar itu, mencoba tumbuh di tempat yang tidak seharusnya.

Selama beberapa hari berikutnya, mereka bekerja tanpa lelah. Andriy memperbaiki meja kerja, membersihkan rak-rak, dan mulai mengukir. Eva membersihkan jendela, mengecat dinding, dan mulai membuat kerajinan tangan dari bahan-bahan alami yang ia temukan di sekitar. Mereka tidak banyak berbicara, tetapi setiap gerakan mereka terasa seperti sebuah percakapan. Mereka saling memahami, saling melengkapi.

Suatu malam, saat mereka sedang makan malam di toko yang kini mulai terlihat seperti rumah, Andriy berhenti mengukir. "Saya merasa seperti ini adalah pertama kalinya saya benar-benar hidup," katanya.

Eva tersenyum. "Saya juga. Saya selalu merasa seperti seorang pengamat, sebuah bayangan yang melintas. Sekarang, saya merasa seperti saya adalah bagian dari sesuatu."

Mereka berdua tahu, perjalanan mereka tidak akan mudah. Mereka harus belajar untuk berinteraksi dengan manusia lagi, untuk membangun hubungan, untuk menghadapi dunia modern yang terus berubah. Tetapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, mereka tidak takut. Mereka memiliki satu sama lain. Di Islandia, di tengah deburan ombak dan rumah-rumah berwarna cerah, dua elf terakhir akhirnya menemukan tempat yang bisa mereka sebut rumah.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default