Hari Sabtu pagi di Barabai selalu terasa berbeda. Pusat keramaian kota berpindah ke Lapangan Dwiwarna, sebuah area terbuka hijau di tengah kota yang setiap akhir pekan bertransformasi menjadi pasar tumpah dadakan. Bagi Hifni, Rina, dan Khalisa, ini adalah ritual wajib weekend mereka.
Pukul 07.00 WITA, keluarga kecil itu sudah siap. Hifni mengenakan kaus biru langit kesayangannya dan celana training. Rina santai dengan gamis rumahan dan kerudung instan, sementara Khalisa melonjak kegirangan memakai dress gambar sapi miliknya.
"Abi, Khalisa mau naik odong-odong yang ada kuda-kudanya!" pinta Khalisa saat mereka memasang sepatu di teras rumah.
"Iya, Sayang. Nanti kita naik odong-odong," janji Hifni, lalu menyalakan motor maticnya.
Perjalanan dari komplek mereka ke Lapangan Dwiwarna hanya memakan waktu sepuluh menit. Suasana di sana sudah sangat ramai. Para pedagang menggelar lapak seadanya di sepanjang trotoar dan pinggir lapangan. Ada yang jualan pakaian bekas layak pakai, mainan anak-anak, tanaman hias, hingga aneka rupa kuliner khas Banjar.
Hifni memarkir motornya di tempat yang agak jauh untuk menghindari macet, lalu mereka berjalan kaki sambil bergandengan tangan.
"Ramai sekali ya, Bi," komentar Rina, matanya melirik lapak-lapak yang penuh warna.
"Namanya juga weekend market, Ummi. Separuh warga Barabai kayaknya tumpah ke sini," balas Hifni sambil tertawa.
Tujuan utama mereka pagi ini bukan belanja, melainkan mencari sarapan yang lebih variatif dari nasi goreng rumahan. Lapak kuliner di Dwiwarna adalah surganya jajanan Banjar. Ada lontong sayur dengan kuah santan kental, nasi kuning dengan bumbu habang, cingkaruk (semacam jajanan dari beras ketan), dan aneka kue basah lainnya.
Khalisa langsung tertarik pada penjual es krim keliling yang membunyikan bel khasnya.
"Abi, es krim!" rengeknya.
"Sarapan dulu, Nak. Nanti pilek," Rina melerai.
Akhirnya, mereka memilih duduk di salah satu lapak yang menjual lontong sayur. Suasana makan pagi itu terasa nikmat. Berada di tengah keramaian, menikmati makanan lokal, dan melihat interaksi masyarakat Barabai yang beragam, memberikan rasa syukur tersendiri bagi Hifni dan Rina. Mereka merasa menjadi bagian dari denyut nadi kota kecil ini.
Sambil makan, Hifni melihat beberapa rekan kantornya yang juga sedang menikmati suasana pagi. Ia melambaikan tangan pada Pak Idris yang sedang asyik memilih tanaman hias.
"Pak Idris itu hobinya tanaman hias, Bi. Padahal di kantor galak kalau soal laporan," bisik Rina sambil terkikik.
Setelah perut kenyang, saatnya memenuhi janji pada Khalisa. Hifni menggendong Khalisa menuju area permainan anak-anak. Lapangan Dwiwarna memang ramah keluarga. Ada ayunan, perosotan, dan tentu saja, odong-odong listrik yang menjadi favorit Khalisa.
Khalisa naik odong-odong kuda putih yang berputar-putar dengan iringan musik anak-anak yang keras. Wajahnya berseri-seri. Hifni dan Rina berdiri di pinggir arena, mengawasinya sambil tersenyum.
Di tengah kebahagiaan itu, Hifni merogoh sakunya. Ia mengeluarkan dompetnya. "Ummi, tadi pas salat Subuh, Abi lupa infak," katanya.
"Oh iya, Bi. Ummi juga lupa," Rina menepuk dahinya.
Mereka melihat ada kotak amal berjalan yang dibawa oleh seorang remaja masjid, meminta sumbangan untuk pembangunan musala di komplek sebelah. Hifni segera memanggil remaja itu dan memasukkan beberapa lembar uang ke dalam kotak amal tersebut.
"Biar belanja weekend kita hari ini ada berkahnya, Mi," ujar Hifni. "Rezeki itu bukan cuma soal dapat arisan atau gaji utuh, tapi soal seberapa banyak kita bisa berbagi."
Rina mengangguk setuju. Prinsip berbagi dan mencari keberkahan dalam setiap rezeki adalah salah satu pilar utama dalam keluarga kecil mereka. Meskipun mereka hanya PNS dengan gaji standar, mereka selalu menyisihkan sebagian pendapatan untuk infak dan sedekah.
Menjelang pukul 09.30 WITA, matahari mulai terasa panas. Rina mulai mengajak Hifni untuk pulang. Sebelum pulang, Rina mampir ke lapak Bu Salma, istri Haji Saleh pemilik warung, yang ternyata juga berjualan kue basah di Dwiwarna.
"Wah, Bu Rina, mampir juga akhirnya!" sapa Bu Salma ramah. "Mau beli kue lapis atau putu mayang?"
Rina membeli beberapa potong kue untuk dibawa pulang. Interaksi sosial di Barabai memang unik, ranah pekerjaan dan kehidupan bertetangga seringkali tumpang tindih dengan ranah ekonomi lokal.
"Katanya Pak Hifni sudah beli LPG kemarin, Bu?" tanya Bu Salma saat Rina membayar kue.
"Sudah, Bu. Makasih ya," Rina tersenyum.
Di perjalanan pulang, Khalisa sudah tertidur pulas di gendongan Hifni, memeluk erat boneka sapi yang entah sejak kapan sudah berpindah tangan dari tas Rina.
Hifni dan Rina pulang ke rumah dengan hati yang lapang. Piknik kecil mereka di Lapangan Dwiwarna mungkin sederhana, tapi penuh makna. Mereka mendapatkan sarapan enak, tawa Khalisa yang bahagia, dan yang terpenting, keberkahan dari berbagi rezeki.
Di Barabai, kebahagiaan tidak diukur dari seberapa mewah mobil yang dimiliki atau seberapa tinggi jabatan di kantor. Kebahagiaan adalah tentang menikmati momen sederhana, seperti pagi di Lapangan Dwiwarna, dikelilingi orang-orang terkasih, dan menjalankan hidup sesuai koridor Islami yang mereka yakini. Kehidupan PNS mereka mungkin penuh rutinitas, tapi akhir pekan selalu menawarkan jeda yang indah dan penuh rasa syukur.
