Malam pertama di perairan internasional seharusnya menjadi momen perayaan, namun di ruang makan The Azure Vagabond, suasananya justru lebih panas daripada dapur Matteo Rossi.
Matteo baru saja menyajikan Bouillabaisse—sup ikan khas Marseille yang aromanya menggoda selera. Namun, alih-alih pujian, yang ia dapatkan adalah kekacauan. Di ujung meja, Lukas Novak sibuk membongkar mesin pemanggang roti otomatis di atas taplak meja putih bersih, membuat noda oli berceceran di mana-mana.
"Lukas! Aku bersumpah demi semua keju di Italia, jika setetes oli lagi mengenai piringku, aku akan memasukkan baut-bautmu itu ke dalam supmu!" teriak Matteo sambil mengacungkan sendok sayur seperti pedang.
Lukas hanya membetulkan kacamatanya yang melorot. "Tenanglah, Matteo. Ini demi efisiensi. Jika mesin ini berhasil, kau bisa memanggang roti hanya dalam waktu tiga detik!"
Di sisi lain meja, Arthur Thorne sedang mengelap pedang panjangnya dengan kain beludru, gerakannya begitu metodis sehingga membuat Oliver Dubois merasa terganggu. Oliver, sang penembak jitu, sedang asyik memoles peluru peraknya sambil sesekali melirik Sienna Moretti yang sedang membaca jurnal medis dengan serius.
"Bisa tidak, satu malam saja, kita makan seperti manusia normal?" keluh Bastian Vogel, sang navigator, yang tampak stres melihat peta lautnya terkena tumpahan sup dari piring Lev Ryley.
Lev sendiri tidak peduli. Ia tertawa keras sambil melahap jatah rotinya. "Kenapa kalian begitu tegang? Ini adalah makan malam keluarga pertama kita!"
"Keluarga?" sela Elena Vance dengan nada dingin. Ia adalah satu-satunya yang belum menyentuh makanannya. Matanya yang tajam menatap ke seluruh kru. "Kalian menyebut ini keluarga? Sejauh ini, aku hanya melihat sekelompok amatir yang saling tidak menghormati ruang satu sama lain. Jika badai datang malam ini, kita semua akan tenggelam karena kalian terlalu sibuk bertengkar soal taplak meja."
Suasana mendadak hening. Clara Lefebvre menutup buku arkeologinya dengan pelan, sementara Freya Holm yang biasanya diam, mengangguk setuju sambil terus mengunyah kentang rebusnya dalam jumlah besar.
"Elena benar," ucap Isabella Ruiz, sambil memetik pelan senar biolanya, menciptakan nada rendah yang menenangkan. "Kita butuh harmoni. Tanpa nada yang selaras, kita hanyalah suara bising di tengah lautan."
Lev berhenti mengunyah. Ia melihat wajah-wajah krunya yang lelah namun penuh talenta. Ia berdiri di atas kursinya—kebiasaan buruk yang selalu membuat Elena mendelik—dan mengangkat gelas birnya.
"Baiklah, Wakil Kapten! Mulai besok, buatkan kami jadwal yang paling kejam yang kau punya. Tapi malam ini, biarkan sup Matteo yang bicara. Karena jujur saja, sup ini jauh lebih enak daripada omelanmu!"
Tawa pecah seketika, menghancurkan ketegangan. Meskipun Elena mendengus kesal, ia akhirnya menyendok supnya. Di tengah lautan Atlantik yang gelap, cahaya dari jendela The Azure Vagabond menjadi satu-satunya titik hangat yang menunjukkan bahwa meski mereka penuh ego, mereka mulai saling terikat.
Lanjut ke Bab 8: Jadwal Neraka Sang Wakil Kapten? Di bab tersebut, Elena akan mulai "menyiksa" Lev dan kru lainnya dengan latihan fisik di dek kapal.
