Hari itu adalah hari Jumat, hari yang ditunggu-tunggu oleh Aisyah dan ibu-ibu di Kompleks Griya Indah. Bukan cuma karena hari libur, tapi karena jadwal rutin Arisan Majelis Taklim Al-Hikmah.
Acara kali ini diadakan di rumah Bu Salmah, tetangga sebelah rumah keluarga Salman. Suasana sudah ramai sejak pukul dua siang. Para ibu datang dengan pakaian gamis dan hijab rapi, siap untuk mengaji, bersilaturahmi, dan—tentu saja—mengocok arisan bulanan yang menegangkan.
Aisyah, sebagai ketua majelis taklim, sibuk memastikan semua berjalan lancar. Pengajian dimulai dengan lancar, membahas tafsir surat pendek yang dipimpin oleh seorang ustadzah setempat. Setelah sesi mengaji selesai, barulah agenda yang ditunggu-tunggu tiba: sesi konsumsi, silaturahmi, dan gosip sehat.
"Umi Aisyah, gimana persiapan anak sulungnya? Bentar lagi jadi dokter, ya, Bu?" tanya Bu Fatimah, salah satu anggota arisan yang paling ramah.
"Alhamdulillah, Bu Fatimah. Masih panjang perjalanannya, doakan saja lancar," jawab Aisyah merendah sambil tersenyum.
Di sudut lain ruangan, obrolan mulai menghangat. Topiknya beragam, mulai dari harga cabai di Pasar Tradisional Banjarbaru hingga sinetron Islami terbaru yang sedang hits di televisi.
"Bu Salmah, Bu, ending sinetron ‘Pintu Surga’ itu bikin saya nangis bombay! Nggak nyangka karakter antagonisnya bisa tobat seindah itu," ujar Bu Siti, yang memang paling update soal sinetron.
"Iya, Bu Siti. Akting pemainnya keren-keren banget. Saya sampai googling nama aktor utamanya. Katanya dia belajar akting dari Reza Rahadian, lho!" timpal Bu Yani, yang tak kalah kepo.
Aisyah, yang sedang menuangkan sirup timun suri khas Banjar, tersenyum mendengar obrolan mereka. Ibu-ibu ini memang unik. Di satu sisi sangat religius, di sisi lain sangat terhibur oleh dunia pertelevisian dan selebriti Indonesia.
"Ngomong-ngomong soal artis, Umi Aisyah, Bapak Fikri itu kan PNS, kok bisa hapal banget lagu-lagu lawas Ebiet G. Ade? Kayak penyanyi beneran kalau dia lagi karaokean di rumah," celetuk Bu Ida sambil tertawa.
Tawa ibu-ibu lain pun meledak. Rupanya, hobi karaoke Fikri terdengar sampai ke telinga tetangga. Aisyah hanya bisa tersenyum malu.
"Namanya juga Bapak-bapak, Bu Ida. Hobinya begitu. Katanya buat melepas penat kerja di kantor," bela Aisyah. "Lagu-lagunya Ebiet kan puitis, Bu. Islami juga, banyak pesan moral tentang alam dan kehidupan."
"Bener juga, Umi," kata Bu Salmah. "Suami saya juga suka stalking berita tentang Atta Halilintar. Katanya salut sama semangat kerjanya, bisa sukses dari nol."
Aisyah mengangguk. "Itulah gunanya 'gosip sehat' kita, Bu. Kita bisa ambil sisi positif dari kehidupan publik figur Indonesia. Semangat kerja kerasnya, kedisiplinan mereka. Yang penting jangan sampai melupakan kewajiban kita."
Setelah sesi obrolan yang hangat dan penuh tawa, tibalah saat yang dinanti: pengocokan arisan. Suasana mendadak hening dan tegang. Nama-nama dipanggil satu per satu.
"Dan pemenang arisan bulan ini adalah... Bu Fatimah!" seru Aisyah.
Sorak sorai dan ucapan selamat pun mengiringi Bu Fatimah yang tersenyum lebar. Acara arisan ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan dan kerukunan bagi seluruh warga kompleks.
Aisyah pulang ke rumah dengan hati senang. Kehidupan bermasyarakat di Banjarbaru ini memang indah. Di majelis taklim, mereka menemukan kedamaian rohani. Di sesi arisan, mereka menemukan kehangatan silaturahmi, diwarnai bumbu-bumbu cerita tentang kehidupan sehari-hari dan selebriti Indonesia favorit mereka. Semua berjalan seimbang, bahagia, dan penuh berkah.
