Keterbukaan Lev tentang masa lalunya telah meruntuhkan dinding terakhir di antara mereka. Anatasya merasa ada kepercayaan yang kuat di antara mereka. Lev tidak lagi menyepi, tetapi seringkali berbagi cerita tentang pekerjaannya, tentang coding, dan tentang filosofi hidupnya. Anatasya merasa ia telah menemukan belahan jiwanya, belahan jiwa yang tidak ia sangka akan ia temukan di antara tumpukan buku dan coding.
Suatu hari, seorang pria muda yang cerdas dan tampan, yang baru saja magang di perpustakaan, datang. Namanya Erik. Erik adalah seorang mahasiswa arsitektur yang tertarik pada desain interior perpustakaan. Ia seringkali menghampiri Anatasya, mengajaknya mengobrol tentang buku-buku, dan terkadang, ia juga membantu Anatasya menyusun buku-buku.
Erik adalah kebalikan Lev. Erik adalah pria yang ceria, suka tertawa, dan suka menjadi pusat perhatian. Ia seringkali membuat Anatasya tertawa dengan lelucon-leluconnya. Anatasya merasa senang. Ia merasa ada teman baru yang bisa diajak mengobrol.
Namun, Lev Ryley terlihat tidak senang. Setiap kali Erik datang, Lev akan melihat mereka dari Sudut Raknya, dengan pandangan yang tajam. Anatasya merasa ada sedikit ketegangan di udara.
Suatu sore, saat Erik sedang membantu Anatasya menyusun buku, Erik menyenggol Anatasya, dan Anatasya hampir jatuh. Erik menangkap Anatasya, dan mereka berdua saling bertatapan, dengan senyum di wajah mereka.
Tiba-tiba, Lev Ryley datang. Ia mengambil buku dari tangan Anatasya, dan menatap Erik. "Biar aku yang melakukannya," katanya, dengan nada yang dingin.
Erik terkejut. "Aku... aku hanya membantu."
"Aku tahu," kata Lev Ryley. "Tapi... aku lebih baik dalam hal ini."
Erik merasa malu. Ia mengangguk, lalu pergi.
Anatasya menatap Lev Ryley. "Lev! Apa yang kau lakukan?"
"Aku hanya... membantumu," kata Lev, dengan nada yang dingin.
"Tidak," kata Anatasya. "Kau cemburu."
Lev Ryley terdiam. Ia menatap Anatasya, matanya dipenuhi dengan sedikit malu.
"Aku tidak cemburu," kata Lev, dengan nada yang defensif.
"Kau cemburu," kata Anatasya, tersenyum. "Kau seperti anak kecil yang tidak mau berbagi mainannya."
Lev Ryley menghela napas. "Baiklah. Aku... aku sedikit cemburu."
Anatasya tertawa. "Kenapa? Erik hanya temanku."
"Aku tahu," kata Lev. "Tapi... kau terlihat begitu bahagia bersamanya."
Anatasya merasa tersentuh. "Aku bahagia bersamamu juga, Lev."
Lev Ryley menatap Anatasya, matanya dipenuhi dengan kehangatan. "Aku tahu. Tapi... aku tidak suka melihatmu bahagia dengan orang lain."
Anatasya tersenyum. Ia tidak menyangka bahwa Lev Ryley, pria yang begitu tenang dan pendiam, bisa cemburu.
"Mungkin kau harus lebih sering mengajakku keluar," kata Anatasya.
Lev Ryley tersenyum. "Mungkin aku harus."
Mereka berdua berjalan di lorong-lorong rak buku, dalam keheningan yang nyaman. Anatasya merasa ada kehangatan yang kembali menyelimuti hatinya.
"Aku tidak akan pernah membuatmu cemburu lagi," kata Anatasya.
"Aku tidak janji," kata Lev. "Tapi... aku akan mencoba untuk tidak cemburu."
Anatasya tertawa. Ia merasa Lev Ryley adalah pria yang paling menarik. Pria yang bisa cemburu seperti anak kecil, tetapi juga bisa mengakui kesalahannya.
Ia tahu, ini adalah awal dari kekacauan yang lebih besar. Dan kali ini, ia tidak takut. Ia merasa... siap.
