Minggu berikutnya, Lev dan Anatasya memulai "proyek pertukaran ilmu" mereka. Ruang kerja Lev yang tenang di perpustakaan menjadi tempat rahasia mereka. Pagi itu, Anatasya datang dengan beberapa buku tebal tentang filsafat. Lev, di sisi lain, membawa sebuah mushaf Al-Qur'an dan sebuah buku terjemahan.
"Siap, Tuan Pustakawan?" tanya Anatasya dengan nada menggoda.
Lev tersenyum kecil. "Insyaallah, Nona Mentor. Tapi jangan terlalu banyak, ya. Otakku masih beradaptasi dengan harga-harga di sini."
Anatasya tertawa renyah. "Jangan khawatir, aku akan mulai dengan yang ringan-ringan. Kita akan mulai dari filsafat Yunani klasik. Paling tidak, kita tidak akan membahas harga lagi, kan?"
Mereka duduk berhadapan. Anatasya mulai menjelaskan konsep-konsep dasar filosofi, seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles. Lev mendengarkan dengan penuh perhatian. Beberapa kali ia mengerutkan dahi, mencoba memahami konsep yang asing baginya.
"Jadi, Socrates itu percaya bahwa kebenaran itu ada di dalam diri kita?" tanya Lev, memastikan.
"Tepat sekali! Ia percaya bahwa dengan terus bertanya, kita bisa menemukan kebenaran itu," jawab Anatasya, bersemangat.
"Menarik," gumam Lev. "Ini seperti mencari air di dalam sumur."
Setelah sesi filsafat, giliran Lev. Ia membuka mushaf Al-Qur'an dan buku terjemahan. Anatasya melihatnya dengan mata berbinar. "Apa kita mulai dari mana, Lev?" tanyanya.
"Kita mulai dari awal, dari surat Al-Fatihah," jawab Lev. "Ini surat yang paling penting dalam Islam."
Lev mulai membaca Al-Fatihah dengan suara merdu. Anatasya mendengarkan dengan saksama. Ia belum pernah mendengar lantunan ayat suci ini secara langsung, dan ia merasa ada ketenangan yang menyentuh hatinya.
Setelah Lev selesai membaca, ia mulai menjelaskan arti dari setiap ayat. Ia menjelaskan bahwa Al-Fatihah adalah surat pembuka, yang berisi pujian kepada Allah dan permohonan petunjuk. Anatasya mendengarkan dengan antusias, sesekali mengajukan pertanyaan.
"Jadi, 'Ihdinash shiraatal mustaqiim' itu artinya 'Tunjukkanlah kami jalan yang lurus'?" tanya Anatasya.
"Ya, benar sekali," jawab Lev, bangga. "Kita memohon kepada Allah untuk menunjukkan kita jalan yang benar."
"Wow," gumam Anatasya. "Ini... indah sekali."
Saat jam makan siang, mereka keluar untuk mencari makan. Mereka berdua sudah tahu tempat-tempat yang cocok untuk mereka makan. Lev pergi ke restoran kebab, sementara Anatasya ke kafe dekat perpustakaan. Mereka bertemu kembali di sebuah taman, makan bersama, dan melanjutkan obrolan mereka.
"Bagaimana perasaanmu setelah kita belajar tadi?" tanya Anatasya.
"Aku merasa... lebih terhubung dengan diriku sendiri," jawab Lev, jujur. "Dan aku merasa senang bisa berbagi denganmu."
Anatasya tersenyum. "Aku juga. Aku merasa lebih mengerti tentang keyakinanmu. Aku merasa kita semakin dekat."
Di taman, mereka melihat seorang anak kecil bermain dengan kucing. Lev melihatnya dengan senyum. "Anak itu pasti suka kucing," katanya.
"Kamu jadi teringat Kalle, kan?" Anatasya menebak.
Lev mengangguk. "Ya. Dia sudah menjadi teman yang baik."
Melihat Lev yang mulai terbuka dan tersenyum, Anatasya merasa bahagia. Ia melihat bahwa perlahan tapi pasti, Lev mulai pulih dari kesedihannya. Ia tahu, Lev tidak akan pernah melupakan Vania. Tapi, Lev bisa melanjutkan hidup, dan ia siap untuk membantu Lev.
Hari itu, Lev dan Anatasya tidak hanya bertukar ilmu, tetapi juga bertukar cerita dan tawa. Mereka menyadari, meskipun mereka berbeda, mereka memiliki satu kesamaan: mereka sama-sama manusia yang mencari kebahagiaan dan makna hidup. Mereka menemukan kebahagiaan itu dalam persahabatan mereka yang tulus.
