Bisnis kecil Dubai Chocolate buatan Sarah dan Aisyah mulai menunjukkan hasil positif. Pesanan online mulai masuk, dan mereka belajar banyak tentang logistik pengiriman cokelat di tengah cuaca panas Banjarmasin. Namun, jiwa petualang kuliner Ayah Rahmat merasa tertantang untuk ikut berkontribusi dalam ide jualan, tapi dengan gayanya sendiri yang unik.
Suatu sore, Ayah Rahmat pulang dengan wajah berseri-seri dan sekantung besar keripik basreng (baso goreng) pedas dari warung grosir.
"Bu, Nak, Ayah punya ide jualan viral yang pasti meledak!" serunya, meletakkan kantong basreng di meja dapur.
"Ide apalagi, Pak?" tanya Ibu Salma, sedikit curiga.
"Basreng ini kan lagi viral banget, pedas, gurih, bikin nagih. Di sisi lain, kita punya stok lontong sisa semalam yang masih banyak. Ayah kepikiran: Basreng Lontong! Perpaduan tekstur kenyal dan renyah, pedas dan gurih, pasti unik dan bikin penasaran pembeli!" jelas Ayah Rahmat dengan penuh keyakinan.
Sarah dan Aisyah saling pandang, mencoba mencerna ide sang ayah yang terdengar sedikit... aneh. Basreng yang kering dan renyah dicampur lontong yang lembek?
"Yakin, Yah? Rasanya kayaknya bakal aneh deh," kata Sarah ragu.
"Percaya sama Ayah! Chef Rahmat akan bereksperimen malam ini!"
Malam pun tiba, dapur kembali menjadi arena eksperimen Ayah Rahmat. Dengan semangat tinggi, ia mulai bekerja. Lontong sisa semalam dipotong dadu kecil-kecil. Basreng pedas disiapkan. Ayah Rahmat berencana membuat bumbu saus kacang pedas yang kental untuk menyatukan kedua bahan tersebut.
"Zaki, tolong ulek kacang gorengnya sampai halus!" perintah Ayah Rahmat pada Zaki yang pasrah jadi asisten.
Proses pembuatan saus kacang berjalan lancar. Aroma bawang putih, cabai, dan kacang goreng mulai tercium harum. Ayah Rahmat dengan hati-hati mencampurkan potongan lontong dan basreng ke dalam wajan besar berisi saus.
"Momen penyatuan rasa!" serunya dramatis.
Namun, yang terjadi selanjutnya tidak sesuai ekspektasi. Begitu lontong dan basreng tercampur dalam saus panas, tekstur yang diharapkan Ayah Rahmat tidak muncul. Basreng yang renyah langsung menjadi lembek dan menyerap saus terlalu cepat, sementara lontongnya malah jadi hancur dan berlendir karena terlalu banyak diaduk.
Yang tersisa di wajan bukanlah hidangan viral yang menggiurkan, melainkan semacam bubur kacang bertekstur aneh dengan potongan basreng yang kehilangan kerenyahannya. Bentuknya jauh dari kata estetik apalagi instagramable.
Ibu Salma, Sarah, dan Aisyah mengintip hasil karya Ayah Rahmat. Keheningan sesaat melanda, lalu Aisyah tak tahan dan tertawa terbahak-bahak.
"Ya ampun, Yah! Apa-apaan ini? Bubur Basreng Lontong?!" Aisyah merekam wajan itu sambil tertawa.
Sarah mencoba mencicipi sedikit dengan ujung sendok. Wajahnya meringis. "Rasanya lumayan sih, Yah, pedas gurihnya ada. Tapi teksturnya... duh, enggak banget."
Ayah Rahmat memandang hasil karyanya dengan tatapan nanar, kepercayaan dirinya langsung runtuh. "Kok bisa begini ya? Padahal di kepala Ayah keren banget konsepnya."
Zaki mencoba menghibur. "Enggak apa-apa, Yah. Mungkin ini varian baru 'Bubur Ayam Pedas Lontong Basreng'."
Akhirnya, hidangan "Basreng Lontong" gagal total itu tidak bisa dijual, bahkan untuk dimakan pun mereka agak enggan. Ayah Rahmat yang malu, diam-diam membuang isinya ke tempat sampah saat semua orang sudah tidur.
Keesokan harinya, kegagalan Ayah Rahmat menjadi bahan candaan di meja makan. Mereka makan sisa Soto Banjar buatan Ibu Salma yang jauh lebih terjamin rasanya.
"Makanya, Pak, jadi chef itu jangan cuma modal nekat dan ide aneh. Belajar dulu dari ahlinya," ledek Sarah.
Ayah Rahmat hanya bisa nyengir. "Iya, iya, Ayah salah. Mending Ayah fokus jadi marketing dan pencicip rasa aja."
Meskipun gagal dan jadi bahan tertawaan, momen itu justru mempererat hubungan mereka. Mereka belajar bahwa dalam hidup, tidak semua ide bisa berhasil, dan kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Dan yang terpenting, tawa keluarga jauh lebih berharga daripada ide jualan viral yang gagal total.
