Matahari baru saja menampakkan diri dengan malu-malu di ufuk timur Paringin pada hari Minggu pagi. Namun, di Gang Rukun Roda, suasana sudah sepenting persiapan ekspedisi militer. Hari ini adalah jadwal pengajian akbar bulanan di Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara, sebuah perjalanan melintasi aspal yang cukup panjang bagi dua keluarga bertetangga ini. Namun, bagi Haji Luqman dan Abah Zaki, ini bukan sekadar perjalanan menuntut ilmu, melainkan sebuah medan pembuktian: Siapa yang lebih sakti dalam mengelola bahan bakar?
Haji Luqman berdiri di samping Honda Vario-nya dengan ekspresi yang sangat percaya diri, seolah-olah ia sedang memegang kunci menuju gudang harta karun. Ia telah mengisi penuh tangki motornya tadi malam di SPBU dekat Jembatan Paringin. Dengan fitur Idling Stop System (ISS) andalannya, ia yakin motornya bisa sampai ke Amuntai dan kembali lagi ke Paringin tanpa perlu mengantre bensin satu kali pun.
Di sisi lain, Abah Zaki tampak sibuk memeriksa tekanan ban Yamaha N-Max-nya. Di wajahnya tersirat keraguan yang coba ia tutupi dengan tawa keras. Ia tahu, meskipun motornya adalah raja jalanan dalam hal torsi, urusan "irit-iritan" dengan Vario Haji Luqman adalah tantangan yang berat. Namun, Abah Zaki punya satu rahasia: ia telah mempelajari teknik eco-riding dari YouTube semalam suntuk.
"Sudah siap, Ji? Hari ini kita buktikan, apakah teknologi Honda pian itu benar-benar irit atau cuma sekadar mitos di brosur saja!" seru Abah Zaki sambil memakai helm full face-nya.
Haji Luqman terkekeh sambil memakaikan helm bogo kepada istrinya, Hj. Siti. "Bukan soal mitos, Ki. Ini soal logika. Di dalam Islam, kita diajarkan untuk tidak tabzir atau boros. Motor saya ini adalah manifestasi dari sifat hemat. Silakan pian memimpin di depan, saya akan mengikuti dari belakang sambil memantau berapa kali pian melirik ke arah indikator bensin."
Perjalanan pun dimulai. Dua keluarga ini membelah jalanan trans-Kalimantan yang cukup mulus namun penuh dengan tikungan tajam dan tanjakan landai khas pemandangan Kabupaten Balangan. Abah Zaki memimpin dengan Yamaha N-Max-nya yang gagah. Ia berusaha menjaga kecepatan di angka 40-50 km/jam—sebuah kecepatan yang sangat tidak "Yamaha banget"—demi menjaga agar lampu indikator ECO di panel instrumennya tetap menyala.
"Bah, kenapa pelan sekali? Biasanya pian seperti pembalap kalau di jalan lurus," tanya Acil Imas dari kursi belakang N-Max.
"Sstt... Umanya Zaki, ini namanya strategi tingkat tinggi. Kita sedang melakukan diplomasi tangki bensin. Kalau saya ngebut, nanti Haji Luqman menang taruhan bakso di Amuntai karena bensin saya habis duluan," bisik Abah Zaki dengan konsentrasi penuh.
Sementara itu, di belakang mereka, Haji Luqman berkendara dengan sangat santai. Honda Vario-nya meluncur dengan suara mesin yang nyaris tidak terdengar, seolah-olah motor itu bergerak hanya dengan kekuatan doa. Setiap kali menemui turunan, Haji Luqman dengan cerdik melepaskan gas sepenuhnya, membiarkan gaya gravitasi bekerja sementara mesinnya beristirahat sejenak.
"Abah, lihat itu Abah Zaki," bisik Hj. Siti. "Gayanya saja pakai motor sport, tapi jalannya lebih lambat dari gerobak sate. Apa dia tidak malu disalip oleh truk semen?"
Haji Luqman hanya tersenyum bijak. "Biarkan saja, Bu. Itulah indahnya kehidupan bertetangga. Kadang kita harus rela melambat agar sahabat kita tidak merasa tertinggal. Tapi saya yakin, sebentar lagi dia akan menyerah pada godaan adrenalin."
Benar saja, saat mereka memasuki wilayah perbatasan yang jalanannya lurus dan sepi, jiwa "Semakin di Depan" milik Abah Zaki mulai meronta-ronta. Ia melihat sebuah bus antarkota menyalip mereka dengan angkuh. Gengsi Abah Zaki terusik. Ia lupa pada misi iritnya, lalu memutar gas Yamaha-nya dengan dalam. WUUUSSS! N-Max itu melesat meninggalkan kepulan asap tipis dan suara deru mesin yang gahar.
Haji Luqman tetap pada kecepatannya. "Nah, umpan sudah dimakan," gumamnya pelan.
Tiga puluh menit kemudian, saat mereka hampir memasuki pusat kota Amuntai, pemandangan lucu menyambut Haji Luqman. Di pinggir jalan, tepat di depan sebuah kios bensin eceran yang menggunakan botol-botol kaca, Abah Zaki sedang berdiri dengan wajah gusar sambil menunjuk-nunjuk ke arah tangki motornya yang sudah berkedip merah.
Haji Luqman menghentikan motornya dengan sangat halus di samping Abah Zaki. Ia sengaja tidak mematikan mesin karena fitur ISS-nya otomatis membuat mesin mati dengan cerdas. "Lho, ada apa Ki? Katanya mau langsung sampai ke tempat pengajian? Kok malah mampir ke 'apotek' bensin pinggir jalan?"
Abah Zaki menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ini... ini aneh, Ji. Sepertinya tangki saya bocor halus. Padahal tadi saya sudah pakai mode ECO. Masa baru sampai sini sudah lapar lagi?"
"Itu bukan bocor, Ki. Itu namanya nafsu," sahut Haji Luqman sambil tertawa lepas. "Tadi pian mengejar bus itu seolah-olah sedang ikut balapan di sirkuit Mandalika. Motor itu mencerminkan pengendaranya. Kalau hati menggebu-gebu, bensin pun ikut terharu dan cepat habis."
Akhirnya, dengan penuh kerendahan hati (dan sedikit malu), Abah Zaki terpaksa mengisi bensin eceran di sana. Sementara itu, Haji Luqman dengan sombongnya menunjukkan layar instrumen Vario-nya yang masih menunjukkan sisa bensin lebih dari setengah tangki.
"Tapi sudahlah," lanjut Haji Luqman sambil merangkul pundak sahabatnya itu. "Yang penting kita sampai ke pengajian dengan selamat. Urusan bensin habis itu duniawi, yang penting iman kita jangan sampai habis di tengah jalan. Sini, biar saya yang bayari bensin ecerannya sebagai tanda persahabatan antar merk."
Acil Imas dan Hj. Siti hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah suami mereka. Sesampainya di tempat pengajian, suasana menjadi sangat khidmat. Mereka duduk bersimpuh di antara ribuan jamaah, mendengarkan tausiyah tentang pentingnya menjaga lisan dan perbuatan terhadap tetangga.
Sepulang dari pengajian, perjalanan terasa lebih tenang. Tidak ada lagi aksi balapan atau sindiran tentang bensin. Di bawah langit Kalimantan Selatan yang mulai jingga, dua keluarga ini melaju beriringan. Di perjalanan pulang, mereka sempat berhenti sebentar di tepian sungai untuk menikmati pemandangan Itik Alabio yang khas dari daerah tersebut.
Di sana, Haji Luqman memberikan nasihat yang membekas. "Ki, motor-motor kita ini cuma titipan. Hari ini Honda saya irit, besok mungkin mesinnya yang bermasalah. Hari ini Yamaha pian boros, tapi tenaganya sangat membantu saat kita harus menanjak tadi. Begitulah kita sebagai manusia. Kita punya kelebihan dan kekurangan masing-masing untuk saling melengkapi, bukan untuk saling menjatuhkan."
Abah Zaki mengangguk setuju, matanya menatap aliran air sungai yang tenang. "Betul, Ji. Saya minta maaf ya kalau tadi sempat sombong di jalan lurus. Ternyata benar kata guru ngaji tadi, sifat sombong itu bahkan lebih boros daripada mesin Yamaha saya kalau dipaksa ngebut."
Mereka pun kembali ke Paringin sebagai pemenang. Bukan pemenang lomba irit bensin, melainkan pemenang dalam melawan ego pribadi. Malam itu, di Gang Rukun Roda, kedua motor—si Irit Honda dan si Gagah Yamaha—terparkir berdampingan dalam harmoni yang sempurna, siap menyambut berkah esok hari di Bumi Sanggam.
