Bab 16: Pengakuan yang Terbata-Bata

Bab 16: Pengakuan yang Terbata-Bata

Lev
0

Diskusi proyek sains dan teknologi yang melibatkan Vania dan Lev kini memasuki tahap puncak. Mereka berencana mengadakan pameran di halaman sekolah, dengan Jembatan Barito sebagai tema utama. Vania sibuk menyiapkan presentasi, sementara Lev sibuk mengurus perizinan dan pendanaan. Di tengah kesibukan itu, Lev sering mengirimkan pesan singkat kepada Vania, yang semakin membuat jantung Vania berdebar.

Lev: Vania, ide miniatur perahu jukung dari botol bekas itu brilian. Anak-anak sangat antusias.

Vania: Terima kasih, Lev. Saya senang mereka suka.

Lev: Saya juga suka.

Vania: Suka apa, Lev? Proyeknya? 

Lev: Semuanya. Proyeknya, idenya, dan... orangnya.

Vania merasa pipinya memanas. Ia tidak tahu harus membalas apa. Pesan dari Lev itu membuat pikirannya melayang-layang. Ia merasa seperti remaja yang baru saja jatuh cinta. Ia tidak tahu apakah ia harus membalas pesan itu atau tidak.

Malam itu, Lev datang ke rumah Vania untuk mengembalikan beberapa buku yang ia pinjam. Lev melihat Vania sedang duduk di teras, memandangi langit yang penuh bintang.

"Assalamualaikum," sapa Lev.

"Waalaikumsalam," Vania menoleh. "Lev, masuk. Saya buatkan teh hangat."

Lev duduk di kursi di teras, di samping Vania. "Tidak perlu repot-repot, Vania. Saya cuma sebentar."

"Tidak apa-apa," Vania tersenyum. "Anggap saja ucapan terima kasih karena sudah membantu proyek."

Vania kembali dengan dua cangkir teh hangat. Mereka berdua terdiam, menikmati kehangatan teh dan indahnya malam.

"Vania," Lev memulai pembicaraan. "Saya mau jujur."

Vania merasa jantungnya berdebar kencang. Ia merasa Lev akan membicarakan perasaannya.

"Saya... saya sudah lama memikirkan ini," Lev berkata, suaranya pelan. "Saya... saya suka sama kamu, Vania."

Vania terkejut. Ia tidak menyangka Lev akan secepat ini mengungkapkan perasaannya.

"Saya tahu ini terlalu cepat. Tapi... saya sudah tidak bisa menahannya lagi," Lev melanjutkan. "Sejak pertama kali melihatmu dikejar bebek, saya merasa ada sesuatu yang aneh. Saya merasa tertarik. Dan setelah kita bekerja sama, saya semakin yakin. Kamu wanita yang baik, sholehah, dan lucu."

Vania merasa pipinya memanas. Ia tidak bisa berkata apa-apa.

"Saya tidak tahu apakah kamu juga merasakan hal yang sama. Tapi... saya berharap kamu bisa memberi saya kesempatan," Lev menatap Vania dengan tulus.

Vania terdiam. Ia merasa bahagia, tapi juga takut. Ia takut jika perasaannya hanya sementara. Ia takut jika Lev akan berubah pikiran.

"Lev... saya... saya butuh waktu," Vania berkata, suaranya bergetar. "Saya... saya tidak bisa menjawab sekarang."

Lev tersenyum. "Tidak apa-apa, Vania. Saya akan menunggu. Saya akan menunggu sampai kamu siap."

Vania merasa lega. Ia merasa Lev adalah pria yang baik. Ia tidak memaksanya, tapi justru memberikan waktu. Ia merasa Lev adalah pria yang tulus.

"Lev," Vania memanggilnya.

"Iya, Vania?"

"Terima kasih," Vania tersenyum.

Lev mengangguk. Mereka berdua kembali terdiam, menikmati kehangatan teh dan indahnya malam. Malam itu, Vania merasa ada sesuatu yang baru dalam hidupnya. Ia merasa, perasaannya kepada Lev bukan lagi sekadar nyaman, tapi juga cinta. Ia hanya bisa berdoa, semoga ia bisa memilih dengan benar, dan semoga ia tidak salah langkah. Ia hanya berharap, ia bisa menemukan kebahagiaan bersama Lev.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default