Apa jadinya jika hiruk-pikuk sepak bola dunia berbenturan dengan dinamika kehidupan keluarga religius dari Kalimantan Selatan?
"Sajadah di Lini Serang" adalah sebuah novel Slice of Life Islami yang membawa pembaca mengikuti perjalanan epik, jenaka, sekaligus mengharukan dari tiga keluarga asal Tabalong dan Banjarmasin yang melintasi tiga negara tuan rumah Piala Dunia 2026: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
1. Konflik Rumah Tangga dan Bayang-Bayang Masa Lalu di Tabalong
Cerita bermula dari Tanjung, Tabalong. Muhammad Hifni, seorang PNS sibuk, mendapatkan rezeki nomplok berupa paket tiket VIP Piala Dunia 2026. Perjalanan yang harusnya sempurna ini langsung diuji oleh drama keluarga. Putri kecilnya yang cantik, Khalisah Salsabilla (6 tahun), menangis histeris tidak mau ikut karena enggan meninggalkan kucing-kucing kesayangannya di Murung Pudak. Sementara sang istri, Rina Rufida, seorang guru Bahasa Inggris, harus bersabar meredam ego suaminya.
Keadaan menjadi makin rumit bin komedi ketika tetangga sebelah rumah mereka, drg. Dina Yulianti, ternyata berangkat menggunakan rute penerbangan dan memesan deretan kursi stadion yang sama! drg. Dina membawa putrinya, Naura Salsabilla (6 tahun), yang namanya mirip dengan anak Hifni. Di balik kebetulan yang unik ini, tersimpan sebuah rahasia canggung: drg. Dina adalah mantan kekasih Hifni saat masa SMA dulu. Radar kecurigaan Ibu Rina pun mulai aktif di tengah persiapan logistik mereka.
2. Heboh Kurir Ekspedisi dan Pasukan Influencer Banjarmasin
Di sudut lain Kalimantan Selatan, tepatnya di ibu kota provinsi, Banjarmasin, ada keluarga "Viral" yang dipimpin oleh Lev ℛyley. Sebagai seorang IT guy yang tenang dan penyabar, hari-hari Lev menjelang keberangkatan berubah menjadi simulator kesabaran. Rumahnya mendadak menjelma jadi gudang ekspedisi akibat ulah sang istri, Anindya Putri, seorang influencer belanja yang aktif di pengajian, yang memesan puluhan paket gamis travel-friendly demi konten OOTD di stadion megah Amerika.
Keluarga Lev membawa rombongan besar dengan kepribadian yang bertolak belakang:
Aisyah Humaira (19 tahun): Mahasiswi PGSD Universitas Lambung Mangkurat (ULM) yang cerdas, organisatoris, dan ditunjuk menjadi "Ketua Tur" yang galak namun taat ibadah.
Maryam Safiya (16 tahun): Anak kedua yang pendiam, artistik, dan jago berburu barang antik online.
Ghina Qalbi (13 tahun): Si bungsu perempuan yang super ekspresif dan hobi membuat konten live review barang.
Rayyan Zuhayr (7 tahun): Jagoan kecil satu-satunya yang polos, yang hanya mau menonton bola jika bola di lapangan berwarna kuning terang!
3. Sajadah di Atas Garis Lapangan Barat
Saat ketiga keluarga ini tanpa sengaja dipertemukan oleh takdir di sebuah restoran halal di New York, petualangan yang sesungguhnya dimulai. Pembaca akan diajak tertawa melihat Ghina kepedasan saat me-review Taco Halal langsung di Meksiko, atau kepanikan massal saat Khalisah dan Naura tertukar di pusat perbelanjaan Los Angeles akibat mengenakan baju kembar.
Namun, novel ini tidak hanya menyajikan tawa. Unsur sad (mengharukan) merayap perlahan saat kabar duka tentang hilangnya kucing kesayangan Khalisah datang dari tanah air, memicu air mata di bawah megahnya Stadion Hard Rock Miami. Ada pula momen magis yang menyentuh hati ketika Lev dan Hifni harus menggelar sajadah lipat di sudut Stadion Levi's San Francisco demi mengejar waktu Maghrib, memicu pemandangan toleransi yang indah dari suporter barat di sekeliling mereka.
Melalui perjalanan melintasi Seattle, Toronto, hingga laga final di MetLife Stadium, mereka tidak hanya belajar tentang taktik sepak bola atau keindahan alam Amerika Utara. Ini adalah cerita tentang kedewasaan Ibu Rina dalam berdamai dengan masa lalu suaminya, tentang perjuangan menjaga shalat lima waktu di negeri minoritas, dan sebuah kesadaran spiritual: bahwa sejauh apa pun kaki melangkah ke stadion dunia, sajadah di rumah adalah tempat pulang yang terbaik.
Karakter Utama dalam Novel:
Muhammad Hifni: PNS Tabalong yang tegas namun kerap panik menghadapi drama wanita di sekelilingnya.
Rina Rufida: Guru Bahasa Inggris yang anggun, cerdas, dan memiliki kedewasaan hati yang luar biasa.
drg. Dina Yulianti: Dokter gigi sukses di Tanjung, sosok ibu tunggal selama perjalanan yang mencoba profesional di depan masa lalunya.
Lev ℛyley: Kepala keluarga idaman dari Banjarmasin, sabar, jenius IT, dan menjadi penengah yang adem.
Anindya Putri: Ibu sosialita Islami yang ceria, modis, namun tidak pernah melupakan kewajiban agamanya.
