Bab 2: Fitnah di Balik Dinding Kaca

Bab 2: Fitnah di Balik Dinding Kaca

Lev
0
Zaydan (31), arsitek sukses di Manchester yang kehilangan segalanya. Di tengah dinginnya Inggris, ia memohon untuk segera 'pulang' ke haribaan Tuhan. Temukan perjalanan emosional penuh air mata tentang hijrah, cinta, dan pencarian Husnul Khotimah di Baitul Jannah Community Centre.

Pagi di Manchester tidak pernah benar-benar cerah. Kabut tipis menggantung di atas Sungai Irwell, menyelimuti gedung-gedung beton dengan suasana mencekam. Zaydan melangkah memasuki kantornya, sebuah firma arsitektur ternama di kawasan Spinningfields. Suara langkah sepatunya di atas lantai marmer terdengar ritmis, namun hatinya tidak selaras.

Biasanya, Zaydan adalah orang pertama yang menyapa resepsionis dengan senyum hangat. Namun hari ini, ia hanya menunduk. Ia merasa seperti berjalan di atas jembatan tali yang hampir putus.

"Zaydan, Mr. Harrison ingin menemuimu di ruang rapat utama. Sekarang," ujar Sarah, sekretaris divisi, dengan nada yang tidak biasa. Dingin dan tanpa kontak mata.

Zaydan mengernyit. Ada sesuatu yang janggal di udara. Ketika ia memasuki ruang rapat, suasana seketika membeku. Mr. Harrison duduk di ujung meja kayu jati yang panjang, didampingi oleh dua orang dari departemen hukum. Di depan mereka, tersebar beberapa dokumen proyek pembangunan masjid dan pusat komunitas di Cheetham Hill yang sedang dikerjakan Zaydan secara pro bono (sukarela).

"Ada masalah, Sir?" tanya Zaydan tenang, meski debar jantungnya mulai tidak beraturan.

Mr. Harrison menggeser sebuah laporan audit. "Kami menemukan aliran dana perusahaan yang tidak sah ke rekening yayasan pembangunan tersebut, Zaydan. Dan tanda tangan digitalmu ada di seluruh dokumen otoritasnya."

Dunia seolah berhenti berputar bagi Zaydan. "Itu tidak mungkin. Saya menggunakan dana pribadi saya sepenuhnya. Saya punya catatan transfernya."

"Catatanmu bisa dipalsukan, Zaydan. Tapi sistem internal kami tidak berbohong," potong salah satu orang hukum dengan nada menuduh. "Ada tuduhan bahwa kau menggunakan posisi perusahaan untuk kepentingan kelompokmu. Di masa sensitif seperti ini, tuduhan financial misconduct untuk organisasi keagamaan adalah masalah serius."

Zaydan tertegun. Ia melihat sekeliling. Di balik dinding kaca ruang rapat, rekan-rekan kerjanya—orang-orang yang sering ia bantu, orang-orang yang sering makan siang bersamanya—memperhatikan dengan tatapan menghakimi. Beberapa berbisik sinis.

Ia menyadari satu hal: di tempat ini, sehebat apa pun karyanya, ia tetaplah orang asing yang mudah dicurigai. Fitnah itu terasa seperti sembilu yang menyayat harga dirinya.

"Saya tidak melakukan itu," ucap Zaydan, suaranya kini bergetar bukan karena takut, tapi karena kecewa yang teramat dalam. "Tapi jika keberadaan saya di sini hanya untuk menjadi sasaran kecurigaan, maka saya tidak punya alasan lagi untuk bertahan."

Ia tidak menunggu pembelaan lebih lanjut. Zaydan berdiri, melepas kartu identitas karyawannya, dan meletakkannya di atas meja dengan perlahan. Tindakan itu bukan bentuk pelarian, melainkan bentuk pelepasan. Ia sudah lelah mempertahankan sesuatu yang memang tidak pernah menjadi miliknya secara hakiki.

"Simpan saja jabatan ini," kata Zaydan lirih sebelum berbalik pergi.

Keluar dari gedung pencakar langit itu, hujan kembali turun menyambutnya. Kali ini lebih deras. Zaydan berjalan tanpa payung, membiarkan jas mahalnya basah kuyup. Ia berjalan menuju Albert Square, berdiri di tengah kerumunan orang yang berlari menghindari hujan.

Ia menengadah ke langit, membiarkan air hujan membasuh wajahnya yang memerah.

"Ya Rabb," bisiknya di tengah bisingnya klakson bus merah khas Inggris. "Dunia ini memang benar-benar sempit. Mereka tidak menginginkan kejujuranku, mereka hanya menginginkan kesalahanku. Jika bumi-Mu yang luas ini terasa sesak bagiku karena fitnah manusia, maka luaskanlah jalanku untuk kembali kepada-Mu. Bukankah Engkau sebaik-baiknya tempat kembali?"

Rasa sesak di dadanya semakin menjadi. Zaydan merasa fisiknya mulai melemah. Kepalanya berdenyut hebat. Ia merasa seolah-olah setiap tetes hujan yang jatuh adalah hitungan mundur bagi sisa usianya. Ia tidak lagi takut akan kematian; ia justru merindukannya seperti seorang kekasih yang merindukan pertemuan.

Dia melangkah lunglai menuju halte bus, bukan untuk pulang ke rumah, melainkan untuk pergi ke satu-satunya tempat yang ia rasa masih memiliki sisa-sisa kedamaian: Masjid.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default