Kemenangan telak 3-0 "Tiga Sekawan" di babak pertama membuat mereka menjadi buah bibir di antara para petualang dan penonton Turnamen Petualang Agung. Pertandingan selanjutnya adalah pertarungan tim 3 lawan 3.
Lawan mereka di babak kedua adalah tim "Wind Blades", terdiri dari tiga pendekar pedang lincah yang berspesialisasi dalam kecepatan dan serangan cepat. Mereka menatap remeh ke arah "Tiga Sekawan" dan pasukan monster unik Lev.
“Tim sirkus ini lagi,” salah satu pendekar pedang mencibir. “Kami akan mengakhiri pertunjukan kalian dengan cepat.”
“Mulai!”
Ketiga pendekar pedang itu langsung menghilang dari pandangan, bergerak dengan kecepatan luar biasa menggunakan skill angin mereka.
“Mereka cepat sekali!” Vania terkejut, panahnya meleset.
“Anastasya, sihir area!” teriak Lev.
“Ice Bind: Area!” Anastasya menciptakan area es yang mengikat kaki para pendekar pedang itu sesaat. Gerakan mereka melambat.
Vania memanfaatkan kesempatan, menembakkan rentetan panah ke arah mereka. Dua dari mereka berhasil menangkis, tapi satu terkena.
Para pendekar pedang itu melepaskan diri dari es dan menyerang Anastasya. “Lumpuhkan penyihirnya dulu!”
Lev panik. “Kita butuh pengalihan cepat! Chicky, Peck Attack! Sippy, lendir licin area!”
Chicky menyerang salah satu pendekar pedang, mengganggunya. Sippy menyebarkan lendir ke area yang lebih luas. Arena turnamen yang megah kini menjadi arena es licin beraroma mawar.
Para pendekar pedang yang lincah itu, yang mengandalkan kecepatan, kini tergelincir di mana-mana. Keuntungan kecepatan mereka hilang seketika. Momen komedi terjadi saat tiga pendekar pedang profesional mencoba menjaga keseimbangan mereka di atas lendir mawar super licin.
Penonton tertawa terbahak-bahak melihat pemandangan konyol itu.
“Strategi gila Lev beraksi lagi!” Vania tertawa sambil menembakkan panah ke arah pendekar pedang yang sibuk tergelincir.
Anastasya meluncurkan sihir Frost Shard ke arah mereka, melumpuhkan dua pendekar pedang.
Satu pendekar pedang tersisa, marah dan malu. Dia mencoba menyerang Lev. “Kau yang bikin ini semua!”
Lev panik. Dia memanggil Bulby. “Bulby, saatnya jurus pamungkas! Lendir Bulby!”
Lev menyuruh Bulby meluncurkan spora peledak ke arah pendekar pedang yang marah itu, tapi kali ini, dia menyuruh Sippy untuk menyemprotkan lendir pembersihnya ke spora yang sedang terbang!
“Apa yang kau lakukan, Lev? Kombinasi bau dan ledakan?” Vania bingung.
Spora yang dibalut lendir Sippy menjadi bom lendir raksasa. SPLAAAT! Bom lendir itu menghantam wajah pendekar pedang terakhir, menutupi seluruh wajahnya dengan lendir tebal beraroma mawar. Dia tidak bisa melihat, tidak bisa bernapas dengan baik, dan panik.
“Pingsan karena lendir?” bisik Anastasya.
Pendekar pedang itu tersandung dan jatuh pingsan karena panik dan tidak bisa melihat.
“Pemenangnya: Tim ‘Tiga Sekawan’!”
Arena kembali meledak dengan tawa dan sorakan. Strategi gila Lev yang mengkombinasikan Sippy dan Bulby terbukti efektif dan sangat lucu.
Mereka telah memenangkan babak kedua turnamen. Reputasi mereka sebagai tim paling unik dan lucu di Aethelgard semakin kuat. Mereka kembali ke area tunggu dengan bangga.
Sir Kael, Guild Master, menyambut mereka dengan senyum. “Strategi yang unik, Tuan Ryley. Sangat unik.”
“Terima kasih, Sir,” jawab Lev, sedikit malu.
Mereka telah membuktikan bahwa kekuatan fisik atau kecepatan elit bukanlah segalanya. Kreativitas, strategi gila, dan monster unik yang aneh bisa mengalahkan siapa saja. Turnamen berlanjut, dan "Tiga Sekawan" siap untuk babak selanjutnya yang lebih menantang di novel RPG fantasi mereka.
