Matahari baru saja mengintip di ufuk timur saat sebuah peluit melengking membelah ketenangan Samudra Atlantik. Suaranya begitu nyaring hingga membuat Lev Ryley jatuh tersungkur dari tempat tidur gantungnya.
"Semua ke dek dalam tiga menit, atau aku akan memastikan kalian tidak mendapatkan jatah kopi selama seminggu!" teriak Elena Vance dari atas dek.
Satu per satu kru muncul dengan wajah bantal dan langkah gontai. Matteo masih mengenakan celemek tidurnya, Lukas terlihat seperti baru saja meledak bersama eksperimennya, dan Bastian memegangi peta dengan tangan gemetar karena kurang tidur.
Di tengah dek, Elena berdiri tegak dengan tangan bersedekap. Di sampingnya, Freya Holm sudah terlihat segar bugar, sedang melakukan pemanasan dengan mengangkat jangkar cadangan seolah itu hanya bantal bulu.
"Dengarkan!" Elena menatap mereka satu per satu. "Mulai hari ini, kapal ini bukan lagi tempat piknik. Kita akan melakukan latihan fisik dan simulasi tempur setiap pagi. Arthur, kau pimpin latihan pedang. Freya, kau urus latihan kekuatan fisik. Dan aku sendiri yang akan mengawasi kedisiplinan kalian."
"Tapi Elena, aku ini koki! Tanganku ini untuk memegang pisau truffle, bukan untuk push-up di atas kayu kasar!" protes Matteo sambil memeriksa kuku jarinya yang rapi.
"Sepuluh tambahan untukmu, Matteo. Sekarang!" bentak Elena.
Latihan dimulai dengan kekacauan komedi. Lev, sebagai kapten, mencoba memberikan contoh dengan melakukan pull-up di tiang layar, namun ia malah tersangkut karena topi besarnya menutupi wajahnya. Sementara itu, Sienna Moretti berdiri di pinggir dek sambil memegang buku catatan, bukan untuk ikut latihan, tapi untuk mencatat siapa saja yang ototnya akan robek agar ia bisa melakukan eksperimen medis nantinya.
"Ayo, Bastian! Larimu lebih lambat dari kura-kura lumpur!" teriak Freya sambil berlari santai melewati sang navigator yang sudah hampir kehabisan napas.
Di sisi lain, Oliver Dubois mencoba menghindar dari latihan dengan bersembunyi di atas tiang pengintai, berpura-pura sedang membidik burung laut. Namun, sebuah sepatu bot milik Elena mendarat tepat di samping kepalanya.
"Turun, Oliver! Atau kau akan menjadi sasaran tembak Arthur!"
Ketegangan mulai mencair menjadi tawa saat Isabella mulai memainkan biola dengan tempo cepat, seolah-olah mereka sedang berada dalam adegan pengejaran film komedi. Musik itu memberikan energi aneh yang membuat kru, meski kelelahan, mulai bergerak seirama.
Di akhir latihan, mereka semua terkapar di atas dek, bermandikan keringat. Lev, yang wajahnya memerah, menatap ke arah langit biru yang luas.
"Hebat juga..." gumam Lev sambil terengah-engah. "Aku merasa... kita sedikit lebih mirip kru kapal sungguhan sekarang."
Elena menatap mereka dengan sedikit senyum yang ia sembunyikan. "Jangan senang dulu. Besok kita akan mulai latihan memanjat tiang saat kapal miring empat puluh derajat."
Keluhan serentak terdengar dari seluruh dek, namun di balik keluhan itu, ada rasa bangga yang mulai tumbuh. Mereka bukan lagi sekadar orang asing yang menumpang kapal; mereka adalah kru The Azure Vagabond yang sedang ditempa menjadi legenda.
Prosedur Selanjutnya:
Bab ini memperkuat hubungan kepemimpinan antara Lev dan Elena. Apakah Anda ingin melanjutkan ke Bab 9: Rahasia di Balik Peta Kuno Clara, di mana unsur misteri dan petualangan mulai muncul?
