Bab 8: Kemenangan Dramatis di Old Trafford (via TV), Pesta Kecil di Brent, dan Euforia yang Menyatukan

Bab 8: Kemenangan Dramatis di Old Trafford (via TV), Pesta Kecil di Brent, dan Euforia yang Menyatukan

Lev
0

Puncak dari gairah sepak bola keluarga Al-Fatih terjadi pada malam pertandingan besar. Hari ini, Manchester United akan menjamu rival bebuyutan mereka, Liverpool, di Old Trafford. Meskipun secara fisik mereka berada ribuan kilometer jauhnya di Brent, London, jiwa dan raga mereka sudah terbang ke Theatre of Dreams.

Ketegangan di ruang tamu mencapai puncaknya. Ritual match day dilaksanakan dengan sempurna: jersey keramat Haris sudah kering dan wangi, camilan Aisyah melimpah, dan doa kemenangan sudah dipanjatkan. Malam ini, tetangga mereka, Kevin O'Leary (fans Liverpool), diundang untuk menonton bersama—sebuah keputusan berani yang dibuat Haris untuk menunjukkan sportivitas (dan keyakinan diri bahwa MU akan menang).

Kevin datang dengan jersey merah khas Liverpool, memicu cibiran bercanda dari Zayn dan Haris.

"Berani sekali kamu datang ke kandang singa dengan seragam musuh," goda Haris, menyambut Kevin dengan hangat.

"Ini namanya mental juara, Om Haris. Sebentar lagi kalian juga akan lihat siapa raja Inggris sebenarnya," balas Kevin, percaya diri.

Pertandingan dimulai. Atmosfer di Old Trafford yang disiarkan langsung di TV terasa membakar ruang tamu Al-Fatih. Lagu kebangsaan MU, "Glory Glory Man United," dinyanyikan penuh semangat oleh Haris dan Zayn.

Babak pertama berjalan imbang dan sangat ketat. Kedua tim saling serang, tapi tidak ada gol tercipta. Haris mulai gelisah, mengomentari setiap kesalahan pemain MU dengan analisis tajam. Zayn sesekali berdebat taktik dengan Kevin. Hana sibuk mencatat statistik shots on target di buku catatannya.

Memasuki babak kedua, drama dimulai. Menit ke-60, Liverpool mendapat hadiah penalti kontroversial.

"Tangan! Handsball! Gak mungkin!" teriak Haris, matanya melotot ke TV.

VAR mengkonfirmasi penalti. Kevin bersorak kegirangan. Haris dan Zayn langsung lemas. Liverpool mencetak gol, 0-1 untuk tim tamu.

Ruang tamu Al-Fatih mendadak sunyi, hanya terdengar sorakan tertahan dari Kevin. Haris menunduk lesu, melepaskan syal MU-nya sebentar. Aisyah mencoba menenangkan suasana dengan menyajikan teh panas.
"Masih ada waktu, Yah," bisik Aisyah.

Haris kembali memasang syalnya, semangatnya bangkit lagi. "Benar! Ini MU! Kita gak pernah menyerah!"

Menit ke-80, Marcus Rashford berhasil menyamakan kedudukan, 1-1! Ruang tamu meledak! Haris dan Zayn berpelukan, berteriak kencang, melupakan sejenak keberadaan Kevin.

Pertandingan memasuki menit-menit akhir, injury time lima menit. Jantung keluarga Al-Fatih berdebar kencang. Semua berdiri, tegang.

Detik-detik terakhir, MU mendapat tendangan bebas di posisi strategis. Bruno Fernandes mengambil ancang-ancang. Haris berdoa dalam hati, matanya tak berkedip menatap layar.
Bola meluncur indah melewati pagar betis dan masuk ke pojok gawang. GOOOOLLLL! 2-1! MU comeback secara dramatis!

Kali ini, sorakan di rumah Al-Fatih jauh lebih kencang daripada di Old Trafford. Haris dan Zayn melompat-lompat kegirangan, berpelukan erat. Air mata haru Haris nyaris keluar. Adam ikut melompat sambil berteriak "Goal! Goal!". Hana tersenyum lebar sambil mencatat gol kemenangan.

Kevin, sang fans Liverpool, hanya bisa terdiam lemas di sofanya, pasrah dengan kekalahan timnya di menit akhir.
"Masya Allah! Allahu Akbar! Menang kita! Menang!" teriak Haris, penuh euforia.

Setelah ketegangan mereda, Haris menghampiri Kevin yang masih murung. Haris menepuk pundaknya sambil tersenyum.
"Itulah indahnya sepak bola, Kevin. Selalu ada drama sampai peluit akhir," kata Haris, dengan nada kemenangan yang tak bisa disembunyikan.

Kevin akhirnya tertawa kecil. "Kalian beruntung, Om Haris. MU main bagus hari ini. Selamat."

Keluarga Al-Fatih mengadakan pesta kecil malam itu, merayakan kemenangan dramatis atas rival abadi mereka. Di tengah London, di kawasan Brent yang multikultural, kemenangan Manchester United menyatukan mereka dalam kebahagiaan yang murni. Malam itu, mereka tidur dengan senyum lebar, siap menyambut tantangan kehidupan London esok hari, dengan keyakinan bahwa semangat pantang menyerah Setan Merah juga mengalir dalam darah mereka.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default