Bab 6: Tragedi Diskon 70% di Hari Jumat

Bab 6: Tragedi Diskon 70% di Hari Jumat

Lev
0
Baca Novel Islami terbaru 2025: 'Sajadah di Tepian Mahakam'. Kisah komedi haru 3 keluarga bertetangga di Samarinda. Antara hobi belanja online Dokter Raisa, gaya mall Ibu Rossa, dan ketangguhan pasar Ibu Mahalini. Temukan makna ukhuwah dan hijrah finansial di Bumi Tepian. Klik di sini!


Hari Jumat di Kota Samarinda selalu memiliki aura yang berbeda. Sejak mentari belum menyentuh puncak jembatan Mahakam, gemuruh persiapan ibadah sudah terasa. Bagi kaum laki-laki di Cluster Ar-Raudhah, hari ini adalah waktu untuk menyucikan diri dan berangkat lebih awal ke Masjid. Namun, bagi Tiga Serangkai—Raisa, Rossa, dan Mahalini—Jumat kali ini adalah ujian kesabaran yang paling nyata dalam sejarah persahabatan mereka.

Bukan tanpa alasan. Di hari yang penuh barakah ini, tiga kutub godaan belanja terjadi secara bersamaan: aplikasi belanja online Dokter Raisa sedang merayakan Payday Sale, Mall tempat favorit Ibu Rossa meluncurkan Friday Midnight Sale mulai jam 10 pagi, dan pasar langganan Ibu Mahalini sedang mengadakan cuci gudang bahan pangan segar menyambut akhir pekan.

Laga Pertama: Jempol Dokter Raisa vs Sinyal Rumah Sakit

Pukul 10.00 WITA, Dokter Raisa sedang berada di ruang istirahat dokter. Di tangannya, stetoskop sudah ia letakkan, berganti dengan ponsel yang sudah "berkeringat". Aplikasi Shopee miliknya sedang menghitung mundur peluncuran koleksi gamis eksklusif hasil kolaborasi desainer ternama. Diskonnya tidak main-main: 70 persen untuk sepuluh pembeli pertama.

"Ya Allah, mudahkanlah hamba mendapatkan gamis ini untuk dipakai saat lebaran nanti," bisiknya, mencampuradukkan antara doa dan keinginan duniawi.

Namun, tepat saat angka di layar menunjukkan 00:01, pintu ruangan diketuk keras. "Dokter Raisa! Ada pasien darurat di IGD, anak usia lima tahun sesak napas!" teriak seorang perawat.

Raisa tertegun satu detik. Jari jempolnya sudah menggantung di atas tombol 'Beli Sekarang'. Inilah dilema terbesar seorang dokter yang juga pencinta belanja online. Namun, sumpah profesi dan rasa takutnya kepada Allah jauh melampaui keinginan untuk tampil modis. Tanpa ragu, ia mematikan layar ponselnya, melemparkannya ke meja, dan berlari menuju IGD. Gamis impian itu pun lenyap, habis terborong oleh orang lain dalam hitungan detik.

Laga Kedua: Ibu Rossa dan Sikut-sikutan di Balik Rak

Di belahan kota lain, tepatnya di koridor utama Big Mall, Ibu Rossa sedang berdiri gagah di depan gerai sepatu ternama. Begitu pintu geser dibuka, ia meluncur masuk dengan kecepatan yang tidak pernah ia tunjukkan saat apel pagi di kantor gubernur.

"Mbak! Yang warna nude ukuran 38!" teriak Rossa sambil mencoba meraih kotak sepatu.

Namun, ia tidak sendirian. Seorang ibu-ibu lain juga memegang kotak yang sama. Terjadilah drama tarik-menarik halus yang dibalut senyuman palsu khas sosialita. "Maaf Bu, saya yang pegang duluan," kata si ibu sebelah.

Rossa, yang biasanya perfeksionis dan kalem, teringat pesan Mahalini tentang "sabar di hari Jumat". Ia melepaskan pegangannya. "Silakan, Bu. Mungkin ini memang rezeki Ibu. Islam mengajarkan kita untuk mengalah demi kedamaian," ucap Rossa dengan nada yang sedikit bergetar karena menahan keinginan hatinya. Di balik kekecewaannya, ada rasa lega yang aneh. Ia merasa baru saja memenangkan perang melawan egonya sendiri.

Laga Ketiga: Ibu Mahalini dan Serangan Cabai Mahal

Sementara itu, di Pasar Segiri, Ibu Mahalini sedang menghadapi tragedi yang lebih nyata bagi urusan perut sekeluarga: harga cabai rawit naik dua kali lipat dalam semalam.

"Aduh, Acil! Kok mahal betul? Padahal kemarin masih murah," keluh Mahalini sambil memilah-milah cabai yang tidak lagi sesegar biasanya.

"Stok sedikit, Bu Lini. Musim hujan di hulu Mahakam buat petani gagal panen," jelas si pedagang.

Mahalini tidak marah. Ia justru teringat akan nasib para petani yang rumahnya mungkin terendam banjir. Ia tidak jadi menawar dengan sadis seperti biasanya. Ia justru membayar harga penuh tanpa meminta kembalian. "Ini buat tambahan anak Acil sekolah ya," katanya tulus.

Pertemuan di Teras: Muhasabah Jumat Sore

Pukul 16.30 WITA, ketiganya berkumpul di teras rumah Raisa. Wajah mereka tampak lelah namun ada gurat kedamaian.
"Gimana, Bu Dokter? Dapat gamisnya?" tanya Rossa sambil menyeruput es teh manis.

Raisa tersenyum tipis. "Gagal, Bu Rossa. Ada pasien sesak tadi. Tapi alhamdulillah, anaknya sudah stabil sekarang. Melihat dia bisa bernapas lega, rasanya jauh lebih membahagiakan daripada punya gamis baru selemari."

Rossa pun bercerita tentang pengalamannya mengalah di mall. "Saya juga nggak jadi beli sepatu. Tiba-tiba ingat kalau sepatu di rumah masih ada yang belum pernah dipakai. Mubazir itu temannya setan, kan?"

Mahalini hanya mengangguk setuju sambil membagikan bungkusan gorengan yang ia beli di pasar. "Inilah nikmatnya hari Jumat. Kita diingatkan bukan tentang apa yang kita beli, tapi tentang apa yang kita syukuri. Raisa bersyukur bisa menyelamatkan nyawa, Rossa bersyukur bisa mengalahkan nafsu, dan saya bersyukur masih bisa berbagi sedikit rezeki dengan pedagang pasar."

Sore itu, di tepian Mahakam yang tenang, tidak ada paket yang datang, tidak ada tas belanjaan baru, namun hati mereka penuh. Mereka menyadari bahwa "Tragedi Diskon" sebenarnya adalah cara Allah membersihkan hati mereka dari ketergantungan pada materi.

Edukasi untuk Pembaca 

Bab ini mengajarkan tentang manajemen prioritas dan pengendalian diri (zuhud) dalam menghadapi godaan konsumerisme. Menurut literatur di Kementerian Agama RI, hari Jumat adalah waktu terbaik untuk memperbanyak sedekah daripada sekadar membelanjakan uang untuk keinginan pribadi.

Bagi Anda yang berprofesi sebagai tenaga medis seperti Dokter Raisa, menjaga integritas saat bertugas adalah bentuk jihad profesi. Untuk tips menjaga kesehatan anak di musim penghujan di Kalimantan Timur, Anda bisa membaca panduan di Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Bagi pencinta belanja di Samarinda, jika Anda ingin mencari barang berkualitas dengan harga terjangkau namun tetap mengedepankan etika Islam, Anda bisa mengunjungi pusat kerajinan Sarung Samarinda di Seberang, yang mendukung langsung pengrajin lokal sebagai bentuk ekonomi syariah yang nyata.

Apakah kedamaian ini akan bertahan? Ataukah akan ada "kejutan" baru di Bab 7 ketika suami Dokter Raisa menemukan tumpukan paket tersembunyi di bawah tangga? Simak terus kisahnya!

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default