Jejak Muslim di Pantai Parangtritis Jogja: Mitos Ratu Kidul, Keindahan Gumuk Pasir, dan Wisata Halal Jawa | Destinasi Budaya
Empat sahabat kita tiba di pantai ikonik Yogyakarta, Parangtritis. Bab ini mengeksplorasi perpaduan antara keindahan alam, budaya mistis Jawa, dan refleksi Islami tentang akidah dan syariat di tengah keragaman kepercayaan.
Perjalanan kuartet sahabat berlanjut ke Pulau Jawa, tepatnya ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Destinasi mereka kali ini adalah Pantai Parangtritis, sebuah pantai legendaris yang bukan hanya terkenal karena keindahan sunset-nya dan gumuk pasir (bukit pasir) yang eksotis, tetapi juga karena aura mistisnya yang kental dengan legenda Nyi Roro Kidul.
Sesampainya di sana, suasana pantai langsung terasa berbeda dari pantai-pantai sebelumnya. Anginnya lebih kencang, ombaknya besar, dan ada semacam energi kultural yang kuat terasa. Banyak penjual bunga kantil dan sesajen di area tertentu, menunjukkan kuatnya kepercayaan lokal di sini.
"Aduh, perasaanku kok nggak enak ya di sini," bisik Bashir kepada Candra, yang sedang sibuk mengecek peta area pantai. "Katanya nggak boleh pakai baju hijau di sini, nanti diculik Ratu Kidul."
Candra mendengus. "Itu mitos, Bashir. Kita ini umat Muslim, percaya sama takdir Allah. Lagian aku pakai baju biru, aman."
Dani yang mendengar perbincangan itu tersenyum. "Mitos adalah bagian dari budaya lokal, Bashir. Kita hargai kepercayaannya, tapi akidah kita tetap lurus. Kita percaya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk ombak besar di sini."
Aziz, sang fotografer, sudah excited dengan gumuk pasir Parangkusumo yang ada di sebelah timur pantai. Bentukan alam unik seperti padang gurun pasir di Timur Tengah itu menjadi latar belakang yang sempurna untuk sesi foto.
Mereka menyewa jip untuk menjelajahi area gumuk pasir. Bashir dan Aziz berpose kocak di atas pasir, mencoba meniru gaya-gaya model Arab di padang gurun. Gelak tawa mereka memecah keheningan padang pasir Jogja.
Saat matahari mulai condong ke barat, mereka kembali ke area pantai Parangtritis untuk menikmati sunset. Pemandangan matahari terbenam di pantai selatan Jawa memang spektakuler. Langit berubah warna menjadi merah pekat, menciptakan siluet sempurna.
Di tengah keindahan itu, Dani mengajak teman-temannya duduk di area yang sepi.
"Di sini, syariat dan budaya bertemu dalam cara yang unik," kata Dani, menunjuk ke arah sesajen yang diletakkan di bibir pantai oleh warga lokal sebagai bentuk penghormatan kepada penguasa laut. "Bagi kita, menyembah selain Allah adalah syirik. Tapi kita juga diajarkan untuk menghargai budaya setempat."
"Jadi sikap kita gimana, Ni?" tanya Aziz.
"Kita hargai tradisinya sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia, tapi kita tidak ikut melakukannya. Kita jaga lisan kita dari menghina kepercayaan mereka, tapi kita teguhkan hati kita bahwa hanya Allah yang wajib disembah," jelas Dani.
Mereka juga mengamati kehidupan sosial di Parangtritis. Selain pariwisata, banyak warga lokal yang menggantungkan hidup dari berdagang dan menyewakan ATV atau kuda. Kehidupan mereka sederhana, penuh keramahan khas Jogja.
Malamnya, mereka makan malam di warung seafood yang sederhana. Sambil makan, Bashir bercerita tentang pengalaman lucunya saat hampir tersesat di gumuk pasir karena sibuk mencari "onta" (padahal jelas-jelas di sana adanya jip sewaan).
Sebelum tidur, di penginapan mereka di daerah dekat Prawirotaman, mereka salat Isya berjamaah. Doa malam itu fokus pada permohonan agar Allah menguatkan iman mereka di tengah keragaman kepercayaan dan budaya di Indonesia, serta agar mereka bisa menjadi duta Islam yang rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam).
Keesokan harinya, mereka meninggalkan Jogja dengan pemahaman yang lebih dalam tentang toleransi beragama dan bagaimana Islam bisa hidup berdampingan dengan budaya lokal tanpa kehilangan identitasnya. Pantai Parangtritis memberikan pelajaran berharga tentang keseimbangan antara akidah yang teguh dan akhlak yang mulia dalam kehidupan bermasyarakat.
