Bab 11: Malam yang Dingin dan Sebuah Surat yang Terselip

Bab 11: Malam yang Dingin dan Sebuah Surat yang Terselip

Lev
0

Hari-hari Lev di Stockholm mulai terasa lebih hidup. Ia tidak lagi menghabiskan malam-malamnya dalam keheningan yang menyiksa. Setelah acara mendongeng yang sukses, Anatasya sering mengajak Lev untuk makan malam bersama atau sekadar minum kopi decaf di kafe. Mereka menghabiskan waktu dengan berbincang, bertukar cerita tentang kehidupan mereka. Anatasya menceritakan tentang masa kecilnya, tentang keluarga, dan tentang impian-impiannya. Lev, yang semakin terbuka, menceritakan lebih banyak tentang masa lalunya dengan Vania, tentang kebahagiaan mereka, dan tentang rencana mereka yang tidak sempat terwujud.

Malam itu, Lev kembali ke apartemennya setelah makan malam dengan Anatasya. Angin musim dingin yang menusuk kembali menyambutnya, namun kali ini ia tidak merasa sedingin biasanya. Di dalam apartemennya, ia melihat foto Vania, dan sebuah senyum kecil terukir di wajahnya. Ia tidak lagi merasa sedih, tetapi lebih ke rasa rindu yang hangat.

Ia berjalan ke arah meja kerjanya, di mana ia melihat sebuah buku lama yang belum ia baca. Buku itu adalah buku tentang puisi, yang dulu pernah diberikan Vania sebagai hadiah ulang tahun. Lev mengambil buku itu, dan saat ia membukanya, sebuah surat yang sudah menguning terselip di dalamnya.
Lev terkejut. Ia tidak ingat pernah melihat surat ini. Ia membuka surat itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan Vania yang rapi dan indah.

"Untuk Lev-ku tersayang," tulis Vania. "Jika kamu membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada di sisimu. Jangan sedih, Lev. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu ada di hatimu. Aku akan selalu menjadi bintang yang paling bersinar di langit malam, yang akan selalu menemanimu."

Air mata Lev mulai mengalir. Ia terus membaca surat itu.
"Aku tahu, kamu pasti merasa kesepian. Tapi, jangan pernah merasa sendirian. Kamu punya Allah, dan kamu punya banyak teman yang menyayangimu. Jangan menutup diri dari kebahagiaan, Lev. Aku ingin kamu bahagia. Aku ingin kamu melanjutkan hidupmu, tanpa melupakanku."

Vania melanjutkan, "Aku punya satu permintaan. Aku ingin kamu pergi ke suatu tempat yang benar-benar baru, di mana tidak ada kenangan yang menyakitkan. Pergilah ke tempat yang paling jauh, yang paling berbeda dari Banjarmasin. Di sana, kamu akan menemukan dirimu yang baru, dan kamu akan menemukan kebahagiaanmu yang baru."

Lev membaca surat itu berulang kali. Ia merasa seperti Vania sedang berbicara dengannya. Ia menyadari, Vania tidak pernah meninggalkannya. Vania selalu ada di hatinya, dan selalu membimbingnya.

Ia mengambil foto Vania, dan menciumnya. "Vania, aku sudah di Stockholm. Aku sudah di tempat yang paling jauh," bisiknya. "Aku akan melanjutkan hidupku. Aku akan bahagia. Aku janji."

Malam itu, Lev tidur dengan perasaan tenang. Ia merasa bahwa Vania sudah merestui perjalanannya. Ia merasa bahwa ia bisa bahagia tanpa merasa bersalah. Ia merasa bahwa ia bisa mencintai lagi, tanpa melupakan cinta pertamanya.
Keesokan harinya, di perpustakaan, Lev datang dengan wajah yang berseri-seri. Anatasya terkejut melihatnya.

"Wow, Lev! Kamu terlihat bahagia sekali. Ada apa?" tanya Anatasya.

Lev tersenyum. "Aku... aku menemukan sesuatu yang membuatku merasa lebih baik."

"Apa itu?" tanya Anatasya penasaran.

"Sebuah surat," jawab Lev. "Dari Vania."

Anatasya terdiam sejenak, lalu ia tersenyum. "Vania... dia orang yang luar biasa, ya?"

"Dia memang orang yang luar biasa," jawab Lev.

Mereka berdua tersenyum. Lev merasa bahwa Vania sudah merestui persahabatannya dengan Anatasya. Ia merasa bahwa ia bisa melanjutkan hidup, dan ia siap untuk menghadapi segala tantangan yang ada di depannya. Ia siap untuk bahagia.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default