Cahaya putih dari cawan batu meredup, menyisakan kehangatan yang menenangkan di ruang hening. Keheningan yang sempat terpecah oleh raungan Sombra kini kembali, namun kali ini terasa berbeda. Bukan keheningan yang menakutkan, melainkan keheningan yang damai, seperti ketenangan setelah badai.
Lev, Vania, Anatasya, dan Elara ambruk ke lantai, terengah-engah dan kelelahan. Meskipun Sombra telah dikalahkan, untuk saat ini, mereka tahu bahwa energi yang mereka keluarkan sangat besar. Mereka saling berpandangan, senyuman tipis terlukis di wajah mereka. Mereka berhasil.
“Kita berhasil,” bisik Vania, suaranya dipenuhi rasa takjub.
“Hanya untuk kali ini,” kata Anatasya, meskipun wajahnya menunjukkan kelegaan. “Sombra tidak akan menyerah begitu saja.”
“Aku tahu,” timpal Lev, “tapi setidaknya kita tahu apa yang harus kita lakukan.”
Elara mengangguk, matanya menatap cawan batu dengan penuh arti. “Kekuatan sejati bukan pada elemen itu sendiri, melainkan pada kepercayaan dan persatuan,” katanya. “Kalian telah membuktikan itu.”
Mereka kembali ke inti Arcanum, menceritakan semuanya kepada Argus. Argus mendengarkan dengan seksama, wajahnya serius. Ia kemudian membawa mereka ke sebuah ruangan lain, sebuah ruangan yang dipenuhi dengan gulungan-gulungan kuno dan artefak-artefak langka.
“Ini adalah arsip kuno Arcanum,” kata Argus. “Hanya aku dan beberapa pewaris elemen lain yang diizinkan masuk ke sini.”
Argus mencari sebuah gulungan tua yang tampak berbeda dari yang lain. Gulungan itu terbuat dari bahan yang tidak biasa, dan di atasnya terdapat simbol-simbol kuno yang memancarkan energi.
“Ini adalah ramalan kuno,” kata Argus, membuka gulungan itu. “Ramalan yang menceritakan tentang pertempuran terakhir antara cahaya dan kegelapan.”
Argus membaca ramalan itu. Ramalan itu mengatakan bahwa Sombra akan kembali, lebih kuat dari sebelumnya, dan ia akan mencoba untuk menguasai dunia. Tetapi, ramalan itu juga mengatakan bahwa tiga pewaris elemen, yang memiliki kekuatan bumi, api, dan air, akan bersatu dan mengalahkannya. Ramalan itu juga menyebutkan seorang pewaris elemen es yang akan membantu mereka.
“Kalian adalah pewaris yang disebutkan dalam ramalan ini,” kata Argus, menatap Lev, Vania, dan Anatasya. “Dan Elara adalah pewaris elemen es yang akan membantu kalian.”
Mereka terkejut. Mereka tidak pernah menyangka bahwa mereka adalah bagian dari ramalan kuno. Mereka merasa bahwa mereka memiliki takdir yang lebih besar dari yang mereka kira.
“Tapi… ada sesuatu yang tidak aku mengerti,” kata Lev, menatap ramalan itu. “Ramalan ini tidak menyebutkan nama kita. Hanya menyebutkan elemen kita.”
Argus mengangguk. “Itulah sebabnya. Ramalan ini tidak bisa dibaca oleh siapa pun, kecuali oleh pewaris elemen yang disebutkan di dalamnya.”
Bab ini diakhiri dengan Lev, Vania, Anatasya, dan Elara yang merasa lebih siap dari sebelumnya. Mereka tahu bahwa mereka adalah bagian dari takdir yang lebih besar. Mereka tahu bahwa mereka harus bersiap, karena pertempuran yang sesungguhnya akan segera tiba. Dan kali ini, mereka tidak hanya melawan Sombra. Mereka juga melawan takdir.
