Bab 4: Pengkhianatan Pemburu di Arus Sungai

Bab 4: Pengkhianatan Pemburu di Arus Sungai

Lev
0

Perjalanan menyusuri Sungai Barito adalah sebuah pengalaman yang mendebarkan sekaligus menakutkan. Bagi Suku Aru, yang terbiasa dengan medan darat di hutan perbukitan, arus sungai yang kuat adalah kekuatan alam yang asing dan perkasa. Rakit-rakit kayu mereka yang sederhana berderit dan bergoyang, menuntut keseimbangan dan koordinasi yang konstan dari para penumpang.

Matahari tinggi di atas kepala mereka sekarang, memanaskan udara hutan menjadi lembap dan pengap. Pemandangan di sepanjang tepi sungai berubah drastis seiring mereka bergerak ke arah hilir. Pepohonan besar di hulu sungai secara bertahap digantikan oleh vegetasi yang lebih lebat dan rawa-rawa yang mulai terlihat di tepi sungai, menandakan transisi geografis menuju dataran rendah Kalimantan Selatan kuno.

Liku, di rakit terdepan bersama Balan dan Rara, terus memindai tepi sungai dengan mata elangnya. Dia mencari tanda-tanda bahaya—baik dari makhluk buas maupun dari ancaman manusia. Di zaman 8000 SM, di mana setiap wilayah diklaim secara naluriah oleh suatu kelompok, memasuki wilayah baru tanpa izin adalah tindakan perang yang tidak disengaja.

"Airnya semakin tenang," komentar Balan, jarinya yang keriput menyentuh permukaan air. "Kita mendekati area yang lebih datar. Rawa gambut dimulai dari sini."

Perubahan lingkungan membawa tantangan baru. Arus yang melambat berarti mereka harus mendayung lebih keras untuk menjaga momentum. Selain itu, nyamuk dan serangga rawa mulai mengerubungi mereka, membawa ketidaknyamanan yang akut dan potensi penyakit yang ditakuti.

Ketidaknyamanan fisik dan ketidakpastian memicu kembali ketegangan internal. Di rakit di belakang Liku, Bano mendayung dengan kasar, wajahnya masam.

"Kita melambat," keluh Bano kepada pemburu di sampingnya, suaranya cukup keras untuk didengar Liku. "Dengan kecepatan ini, kita akan mati kelaparan sebelum mencapai muara. Air ini tidak memiliki ikan sebanyak di hulu."

Liku memilih untuk mengabaikannya, memusatkan energinya untuk menavigasi bagian sungai yang mulai menyempit oleh akar bakau dan pohon nipah liar. Namun, Bano tidak berhenti di situ. Di malam harinya, ketika mereka berhenti di sebuah punggungan tanah kering kecil di tepi sungai untuk bermalam, Bano mulai menghasut kelompok kecilnya di sekitar api unggun terpisah.

"Liku dan si tua Balan ini memimpin kita ke kematian yang lambat," desis Bano, bayangan api menari di wajahnya. "Kita meninggalkan rumah yang aman untuk mengejar bayangan 'Mawas Raksasa'. Di sini, kita akan menghadapi penyakit rawa dan suku asing yang mungkin akan membunuh kita di tempat tidur kita."

Beberapa pemburu muda mendengarkan, keraguan mulai tumbuh di mata mereka. Bano cerdas dalam memanfaatkan ketakutan primal mereka. Dia tahu bahwa di masa-masa krisis, kepemimpinan adalah hal yang rapuh.

Liku, yang sedang memeriksa perbekalan, mendengar bisikan-bisikan itu. Dia mengerti frustrasi mereka. Kehidupan sebagai pemburu-pengumpul sangat keras, dan kenyamanan adalah prioritas utama. Dia mendekati api unggun Bano, bayangannya yang tinggi membungkam obrolan mereka.

"Setiap langkah menjauhkan kita dari ancaman di hulu," kata Liku, suaranya tenang tapi penuh otoritas. "Kita akan menemukan sumber makanan baru di rawa. Kita harus beradaptasi, atau punah."

"Beradaptasi?" ejek Bano, berdiri tegak untuk menandingi tinggi Liku. "Kamu hanya mengikuti takhayul Balan. Jika ancaman itu nyata, mengapa dia tidak mengejar kita? Mungkin saja kita melarikan diri tanpa alasan!"

"Makhluk itu cerdas, Bano!" balas Liku, kali ini nada suaranya naik. "Dia tahu kita akan mengikuti sungai. Dia mungkin menunggu di tikungan berikutnya, atau di muara."

Argumen mereka terhenti oleh kehadiran Balan. Sang tetua berdiri di sana, tongkat kayunya mencengkeram tanah. "Cukup," katanya. "Perjalanan ini adalah ujian bagi jiwa kita, bukan hanya tubuh kita. Sampai fajar, tidak ada lagi perdebatan. Kita semua lelah."

Ketegangan tetap membara di udara. Meskipun Bano mundur untuk malam itu, Liku tahu keretakan dalam suku semakin melebar. Bano mewakili pengkhianatan yang paling berbahaya: keraguan yang tumbuh menjadi perpecahan. Di tengah hutan prasejarah Indonesia, perpecahan adalah bentuk kematian yang paling pasti.

Malam itu, saat Liku menjaga giliran jaga, dia menatap air sungai yang mengalir tenang. Dia tahu ancaman eksternal dari 'Mawas Raksasa' mungkin menunggu di depan, tetapi ancaman internal dari ketidakpercayaan Bano sudah ada di dalam barisan mereka. Perjalanan mereka ke jantung rawa Kalimantan Selatan baru saja dimulai, dan Liku menyadari bahwa ia tidak hanya memimpin migrasi, tetapi juga berusaha menyatukan suku yang mulai terkoyak.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default