Bab 8: Bencana Dapur Saat Persiapan Pengajian

Bab 8: Bencana Dapur Saat Persiapan Pengajian

Lev
0

Akhir pekan kembali tiba. Kali ini, giliran rumah keluarga Salman yang menjadi tuan rumah pengajian rutin gabungan antara majelis taklim ibu-ibu dan kelompok bapak-bapak Al-Hikmah. Persiapan sudah dilakukan sejak pagi.

Aisyah, sang Umi yang ahli tata boga dan organisasi, sudah menyusun menu: Soto Banjar lengkap dengan perkedel dan sate ayam. Semua bahan sudah siap. Fikri dan Rizki bertugas menata kursi dan membersihkan area luar rumah, sementara Zahra sibuk membantu Aisyah di dapur. Fahmi dan Mila diberi tugas ringan: mengupas bawang merah.

“Zahra, tolong iris buncisnya ya, yang tipis-tipis,” instruksi Aisyah sambil fokus meracik bumbu soto.

“Siap, Umi!” jawab Zahra. Dia bekerja sambil sesekali melirik ponselnya, mencari inspirasi resep Soto Banjar modern di internet, mencoba memasukkan sedikit sentuhan ala chef selebriti Indonesia.

Di sudut lain dapur, Fahmi dan Mila sedang berjuang dengan setumpuk bawang merah.

“Pedih banget mataku, Kak Fahmi!” keluh Mila sambil mengucek matanya yang sudah berair.

“Sabar, Mi. Perjuangan itu emang berat,” kata Fahmi bijak, meskipun matanya sendiri sudah sembap. “Kata Bang Atta Halilintar, kerja keras itu nggak akan mengkhianati hasil.”

Di luar dapur, Fikri dan Rizki sedang menata karpet dan tikar di halaman samping rumah. Fikri terlihat bersemangat, sesekali bersenandung lagu Ebiet G. Ade tentang alam dan kehidupan.

“Ayah, bumbunya sudah siap belum? Nanti keburu sore,” teriak Aisyah dari dapur.

“Siap, Umi! Sebentar lagi beres!” balas Fikri.

Fikri merasa terpanggil untuk membantu di dapur. Dia punya ide brilian. Dia ingat pernah menonton acara masak selebriti di TV, di mana seorang aktor ternama, yang kebetulan diidolakan Fikri (selain musisi lawas), terlihat jago memotong daging.

Dengan percaya diri, Fikri masuk ke dapur. “Perlu bantuan nggak, Umi? Ayah bisa bantu motong daging ayamnya nih.”

Aisyah awalnya ragu, tapi karena kepepet, dia mengangguk. “Yaudah, tolong potong dadu kecil-kecil ya, Mas. Hati-hati pisaunya tajam.”

Fikri mengambil pisau besar dengan gaya seolah-olah dia adalah koki profesional yang sedang beraksi di acara TV. Dia mulai memotong daging ayam mentah.

“Umi lihat nih, skill Ayah motong daging. Nggak kalah sama aktor yang main film laga itu!” Fikri membual.

Namun, yang terjadi selanjutnya adalah bencana dapur yang sesungguhnya. Fikri yang terlalu fokus pada gaya, bukan substansi, salah potong. Potongan dagingnya tidak beraturan, ada yang besar sekali, ada yang hancur. Puncaknya, karena terlalu bersemangat, dia menyenggol mangkuk besar berisi bumbu soto yang sudah diracik Aisyah dengan susah payah.

PRANG!

Mangkuk jatuh, bumbu soto tumpah ruah di lantai dapur.
Suasana hening sesaat. Aisyah, Zahra, Fahmi, dan Mila menatap Fikri dengan mata melotot. Wajah Fikri langsung pucat pasi.

“Masya Allah, Ayah!” Aisyah menjerit panik. “Bumbunya! Padahal itu racikan rahasia dari nenek!”

Fikri tergagap. “Maaf, Umi, Ayah nggak sengaja. Tadi… tadi Ayah terlalu menghayati peran jadi chef selebriti.”

Zahra segera mengambil lap dan sapu. “Aduh Ayah, gara-gara mau niru aktor nih. Konsentrasi dong, Yah!”

Rizki yang mendengar keributan langsung masuk ke dapur. Melihat lantai yang kotor dan wajah panik keluarganya, dia segera mengambil alih komando.

“Oke, emergency situation! Semua tenang!” perintah Rizki, nada suaranya seperti di ruang operasi. “Fahmi, Mila, bersihkan lantai. Ayah, Ibu, kita masih punya bahan cadangan bumbu. Kita racik ulang. Masih ada waktu satu jam lagi.”

Dengan kerja sama tim ala keluarga Salman, dapur yang tadinya kacau balau kembali rapi. Aisyah meracik ulang bumbu dengan cepat, dibantu Zahra. Fikri yang merasa bersalah akhirnya hanya membantu mencuci piring dengan diam.

Syukurlah, soto Banjar berhasil disajikan tepat waktu saat para tamu pengajian datang. Semua orang memuji kelezatan sotonya. Bencana dapur menjadi rahasia kecil keluarga Salman.

Malam itu, saat semua tamu sudah pulang dan rumah kembali sepi, Fikri duduk di teras sambil menyesap teh hangat. Aisyah mendekatinya sambil tersenyum.

“Mas, lain kali kalau mau jadi chef selebriti, mending nonton tutorial masak di YouTube aja, nggak usah pakai pisau beneran,” goda Aisyah.

Fikri tertawa lega. “Iya, Umi. Ayah kapok. Mending Ayah fokus nyanyi lagu Chrisye aja, lebih aman.”

Mereka tertawa bersama. Di Banjarbaru, kehidupan keluarga Islami mereka selalu diwarnai kejadian lucu, mengingatkan mereka bahwa kesederhanaan dan kerja sama adalah kunci kebahagiaan sejati.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default