Pursuit of Happiness - Fragments From The Past
Desember 07, 2019
Aku menuangkan dua sendok gula ke dalam gelas yang berisi air kopi yang pahit, mengaduk-ngaduknya sehingga tercipta rasa aroma kopi yang khas namun rasa kepahitan nya masih berasa saat aku sedikit mencicipinya. Arloji di tangan sudah menunjukkan pukul delapan, masih terlalu pagi memang untuk duduk di café sepagi ini.
Musim penghujan membuat suasana terasa dingin dan lengang tapi sepagi dan setenang ini aktivitas bandara telah ramai dengan orang yang berlalu lalang. Keluarga masing-masing menyambut seseorang yang mereka rindukan karena telah lama tidak bersama dan akhirnya di bandara ini mereka di pertemukan dengan sebuah senyuman hangat.
Pesawat dari Jakarta yang membawa Cindy, sepupuku dari German. Masih belum terlihat sampai sekarang padahal aku sudah hampir sejam berada disini waktu yang sangat lama untuk menunggu, lagi-lagi menurut ukuran kebiasaanku. Tapi tak mengapa, sebenarnya aku memang membutuhkan suasana ini sebelum bertemu dengannya. Ada banyak hal yang bisa diingat dengan nyaman selama satu jam ini. Barusan, dengan hanya melihat kembali fotonya yang tertawa lebar sambil memeluk boneka kesayangan nya, sepuluh menit menunggu pramusaji mengantarkan sepiring donut berlalu seperti angin lembut menyenangkan. Cindy mengirimkan foto itu lewat Line terakhirnya minggu lalu, katanya biar tidak salah mengenalnya kapan aku menjemput. Dia telah banyak berubah sejak terakhir kali aku melihatnya dia semakin cantik untuk wanita keturunan German.
Ia bercerita di kota ini indah dan nyaman untuk liburan setidaknya dia bisa menghabiskan waktu liburan dengan tenang sambil menceritakan kisah-kisah nya disana yang begitu banyak, aku cuma cukup mengangguk dan menjadi pendengar yang baik sesekali menyampaikan pendapat agar nampak memperhatikan kisah nya dan dia nampak bahagia sambil menceritakan itu.
Pertemuan pertama kami saat itu tepat tiga tahun yang lalu saat Cindy berusia 20 tahun, mamanya Cindy kita sebut saja sebagai tante Rara yang sudah lama tidak pulang ke kota kelahirannya merasa rindu untuk pulang kembali dan saat itu masih hampir berdekatan dengan suasa tahun baru, Tante Rara mengambil cuti dan mengajak Cindy untuk pulang sekaligus liburan. Saat itulah aku dan papa menjemput mereka dari bandara seperti sekarang ini.
Sekarang pukul delapan lewat lima belas menit, cangkir kopiku telah habis dan aku enggan untuk memesannya lagi. Pesawat yang membawa sepupuku akhirnya mendarat juga. Aku berdiri beranjak meninggalkan café, Kuletakkan selembar uang sepuluh ribuan sebagai bayaran di atas meja untuk makanan dan minuman kopi tadi yang telah habis ku makan.
Apa yang pertama kali akan kulakukan? Tersenyum lepas menyapa dan memelukya? Sekadar bersalaman menanyakan kabar? Atau pura pura tidak kenal agar bisa melihat wajah cemberut Cindy? Tiba-tiba aku berdiri dengan sebuah perasaan gugup yang tak kukenali
lagi di depan pintu keluar penumpang itu menunggu Cindy tiba.
Setelah beberapa menit kemudian rupanya Cindy lah yang mengenaliku terlebih dahulu..
" Hai Lev? " Teriak Cindy sambil berjalan kearah ku, "maaf ya lama menunggu pesawat untuk mendarat beberapa kali tidak jadi turun karena ada beberapa masalah yang tidak terduga"
" Ya tidak masalah asal kamu selamat itu lebih penting ", sahutku. " Jadi bagaimana apakah kita langsung pulang atau pergi ke suatu tempat lebih dahulu? "
" Hem bagaimana yah, aku mau mikir dulu deh sambil kita makan di café sana. "
"Jangan terlalu banyak mikir loh entar cepat tua. " Haha dan aku kemudian tertawa.
Cubitan langsung mengena tepat sasaran ke arah ku tanganku. " Suka benar yah ngejek sekarang. Bagaimana kalau kita ke pantai dulu yang ada di kota pelaihari? Aku sudah lama tidak kesana setelah kedatanganku pertama kali disini dan ingin kesana lagi, apakah boleh?"
" Ya boleh lah, kamu kan tamu spesial disini mana bisa aku menolaknya" hehe
" Waaah bagus sekali tapi sebelum itu, mari kita makan dulu disana udah lapar sejak semalam aku belum mengisi perutku dengan makanan, dan setelah itu baru kita ke pantai"
"Oke", kami pun berjalan kembali ke Café yang tadi pagi aku datangi dan memesan beberapa makanan dan minuman
"Jadi apakah kau baik baik saja Lev dengan keadaanmu yang sekarang"
"Hem kurasa aku ya seperti ini terlihat baik-baik saja dari luar tapi dari dalam aku merasa separuh dari mimpi dan hidupku pergi dibawa oleh Vania ke tempat dimana aku tidak bisa menjangkau nya sebelum waktu itu tiba untuk datang menjemputku".
"Jadi kau merasa seperti itu, aku mengerti apa yang kau rasakan, seseorang yang kau cintai dengan sepenuh hati pergi, pasti kau merasa semangatmu akan hilang dan mimpi-mimpi yang telah kau buat lenyap begitu saja, meskipun aku tidak merasakan nya aku bisa memahami apa yang kau rasakan. Sabarlah karena hanya sabar yang akan menguatkan hidupmu dan hanya waktu yang bisa menyembuhkan itu".
"Oke, aku rasa itu akan membutuhkan waktu dan perjalanan yang panjang".
Kami makan dan bicara tidak terasa tiga puluh menit berlalu, memang waktu begitu cepat berlalu jika kita terlalu nyaman dengan dunia ini, aku pun berdiri dan menuju kasir untuk membayar semua makanan dan minuman kami dan bergegas pergi dari cafe untuk segera ke perkiraan, aku membukakan pintu mobil untuk Cindy agar dia segera masuk dan kami pun berlalu pergi menuju pantai yang membutuhkan satu sampai dua jam perjalanan.
Aku merenungi lagi apa yang dikatakan Cindy tadi memang benar, terkadang bagi pasangan yang saling mencintai kepergian salah satunya bisa berarti kehilangan separuh jiwa, termasuk kehilangan jiwa fisik. Aku memang merasakan untuk sekarang dalam hidupku,aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa mimpi-mimpi sekarang, apa tujuanku seorang? Aku benar-benar bingung menghadapi dunia yang sekarang tanpa Vania. Aku merasa gundah tanpa tahu harus berbuat apa dengan hidupku, apakah waktu dapat menyembuhkan semua yang aku rasakan ini, kenangan yang membahagiakan salam hidupku sudah bercampur dengan kesedihan yang mendalam, ketika aku mengingatnya aku merasa ingin kembali untuk hidup dalam masa lalu dengan adanya dirimu Vania, aku belum bisa melupakan mu untuk sekarang, maafkan aku sayang ini terlalu berat rasanya.
Kata orang kesedihan akan selalu datang dalam hidupmu maka belajarlah tentang kesedihan karena dengan belajar tentang kesedihan kita akan selalu siap menerima apapun ujian dari Tuhan, termasuk ujian yang ada dalam hidupku. Ketika kita tidak siap maka kesedihan yang mendalam akan kau terima dan itu bagaikan teriris belati didalam ini hati. Hanya kesakitan yang kau rasakan tanpa mengambil manfaat dari kejadian tersebut. Semua berlalu begitu saja tanpa mengetahui apa yang telah direncanakan Tuhan sebenarnya dalam hidupku. Apakah itu memang yang terbaik untuk aku dan Vania? Atau Tuhan mempunyai rencana lain dalam hidupku? Aku benar-benar bingung dengan semua ini karena hanya Tuhan lah yang maha mengetahui segalanya dalam hidupku karena Engkaulah sang dalang yang telah menciptakan aku.
Mengapa aku tidak pernah belajar dalam ini kehidupan, setiap pertemuan pasti ada perpisahan, setiap yang hidup pasti ada yang mati. Begitulah siklus kehidupan ini sampai bumi ini hancur dan waktu selalu berbaik hati untuk mengobati kesedihan. Apakah waktu dapat mengobati ini semua. Entahlah yang pasti bagian ingatan penting akan selalu terkenang didalam ini pikiran dan bisa jadi menyakitkan atau menyenangkan itu semua tergantung dengan kondisi hati dan pikiran kita dalam menghadapi itu semua.
#
