Pursuit of Happiness - Hello Dresden, The Start of New Life
Mei 16, 2020
Di pagi yang mendung pada musim salju. Jam besar di tengah taman kota berdentang tujuh kali yang berarti menandakan pukul tujuh pagi di tempat ini. Burung-burung merpati berterbangan selalu kaget dengan suara itu padahal sudah beratus-ratus tahun jam itu selalu mengeluarkan suara yang keras dan berwibawa. Dadaunan berjatuhan di tutupi oleh setumpuk salju yang turun, berserakan di jalan setapak, rumput- rumput terpangkas rapi karena membeku, meja meja dan kursi-kursi taman nampak ikut membeku karena cuaca dingin.
Jalanan sepi, langit gelap, angin musim dingin bertiup kencang. Terlihat baru dengan suasana kota ini, apakah ini memang seharusnya tempat yang aku tuju dengan semua keaadan ini. Atau ini hanya pelarianku sementara sebelum aku memutuskan untuk pergi dan tinggal menetap.
Aku merapatkan jaket yang ku kenakan, namun tubuhku tetap saja menggigil. Bukan karena angin, karena saat ini aku sama sekali tidak bisa merasakan apapun karena sehabis penerbangan dan perbedaan waktu dengan di Indonesia membuat aku pusing. Kalo di Indonesia pasti masih malam sekitar jam 11 malam dan itu aku harus mulai beradaptasi, menyesuaikan diri dengan waktu dan keadaan sekitar disini.
Butuh tenaga besar untuk menyeret kakiku dan maju selangkah, sebelah tangan terangkat ke dada, mencengkram bagian depan jaket. Tangan yang lain terjulur ke depan dan mencengkram pagar besi jembatan. Pagar besi itu seharusnya serasa dingin di tanganku yang telanjang tapi nyatanya aku tidak merasakan apapun walaupun mencengkram pagar besi itu sampai buku jari-jari ku memutih. Mataku menatap kosong ke bawah ke permukaan air. Permukaan sungai yang terlihat tenang seperti kaca besar berwarna hitam yang memantulkan cahaya dari lampu lampu di tepi jalan.
Air sungai itu pasti dingin sekali, aku pasti akan mati kedinginan bila terjun ke sungai itu. Mati membeku, aku hanya perlu membiarkan diriku terjatuh, setelah itu seluruh tubuhku akan membeku. Rasa sakit ini pasti juga akan membeku, aku tidak akan merasakan nya lagi. Tapi mengapa aku jadi berpikiran seperti itu disaat seperti ini aku seharusnya bahagia disini merasakan kembali sebuah arti dari perjalanan yang aku impikan yaitu bisa bepergian ke luar negeri ke eropa.
Jalanan ini masih terasa sepi sejak tadi aku berada disini setengah jam yang lalu. Orang-orang tidak banyak terlihat hanya ada beberapa yang berlalu lalang dan itupun hanyalah petugas kebersihan dan beberapa orang yang ingin menikmati cuaca dingin sepertiku. Apakah aku harus kembali untuk menghangatkan tubuh ini di dekat perapian sambil menunggu Cindy datang, tapi aku khawatir jika aku pergi dari sini malah Cindy nanti yang akan mencariku. Tidak apa aku bisa bertahan sebentar lagi menunggu setengah jam. Karena menunggu adalah kebiasaanku, bukan kebiasaan sih tapi cuma terbiasa. Aku berharap Cindy akan segera datang kesini.
Aku duduk-duduk di kursi sambil menunggu. Melihat layar ponsel tidak kunjung bergetar juga. Apakah terjadi sesuatu sehingga Cindy jadi terlambat seperti ini, aku memutar kursi menghadap jendela besar dan memandang ke bawah, memerhatikan mobil yang mulai banyak berlaluan di jalan raya kota dortmund dengan tatapan menerawang. Langit-langit mulai terang, aku melirik jam tangan dan mendesah. Jam tujuh lewat, dengan sekali sertakan aku memutar kembali kursiku menghadap air yang membeku.
"Kemana saja kau?" Desisku
"Kau bicara dengan ponsel?" Cindy tiba-tiba datang di belakangku.
Aku mengangkat wajah dan menoleh. Cindy yang baru datang dengan tersenyum kepadaku tanpa dosa berkata.
"Maaf aku terlambat ya, ada beberapa urusan yang belum selesai yang tertunda sebelum aku ke Indonesia". Kemudian duduk sebelahku
"Wow. Urusan apa memangnya? Jika kamu tidak datang setengah jam lagi mungkin aku akan membeku disini karena aku belum terbiasa dengan cuaca disini, apalagi sekarang kan musim salju."
"Ya ada deh, tapi syukurlah belum membeku kan." haha
"Jadi mau kemana kita sekarang? Dengan cuaca dingin ini sepertinya kita membutuhkan makanan dan minuman yang panas untuk menghangatkan tubuh kita sebelum kita jalan-jalan menikmati kota ini."
"Baiklah tapi kamu ya sekarang yang jadi Guide perjalanan selama kita disini karena aku belum mengenal apapun tempat yang ada di sekitar sini yang nampak baru."
"Oke tenang, aku siap kok menemanimu seharian lagipula aku senggang hari ini."
"Ini kedengaran nya bagus sekali, yuu mari kita jalan."
Aku benar-benar baru pertama kali pertama ke Eropa, menikmati pemandangan di kota ini. Tapi entah aku bisa menikmati semuanya dengan cuaca dingin ini membuat aku membeku. Aku pikir tinggal di cuaca empat musim ini menyenangkan tapi setelah aku menjalaninya sendiri tapi tidak. Itu hanya menyenangkan karena kita cuma melihat tanpa merasakan berada disini. Dan disini aku telah merasakan nya sendiri ya begitulah.
Dulu setiap akhir pekan, aku dan Vania selalu menikmati mentari di pantai, sambil menyesap kopi pahit yang biasa aku minum, menikmati setiap kepahitan yang melekat di lidah, seperti pahitnya kehidupanku sekarang. Mencoba untuk tersenyum tapi bibir ini enggan untuk tersenyum sekarang, saat orang-orang di sampingku membuncah tawa mereka apakah mereka bahagia. Aku pikir tidak mereka hanya menikmati kebersamaan disini dan ketika mereka sendiri apa yang mereka rasakan sekarang? Kesepian atau yang lainnya.
Aku selalu menunggumu di sini, saat kamu tak datang. Aku percaya, kamu juga merasakan rindu yang sama denganku di surga sana. Kita masih merasa dekat walaupun berjauhan disana, semoga kehidupan kita masing-masing akan memulai kebahagian meski hanya sedikit setidaknya aku dapat merasakannya lagi.
Duhai, kematian! Aku memanggil seribu kematian untuk mencabut saja nyawaku!” Demikian yang dapat terpekik di dalam hati saat meratapi semua kepedihan ini. “Duhai, Allah! Biarlah kematian merenggut nyawaku agar aku dapat segera bertemu dengannya.”
Oh mengapa aku meminta seperti itu, apakah kita boleh berharap tentang kematian? Sejak hari itu, aku sudah tidak lagi merasa takut orang-orang akan melupakanku di dunia ini. Aku hanya ingin pergi sesegara mungkin dari dunia yang aku benci ini.
Kepedihanku ini tidak lagi berarti kepedihan. Hatiku kini berlubang sedemikian dalam di hamparan bumi ini. Guratan takdir telah membenamkan diriku dalam sumur darah yang
begitu dalam. Bumi telah menelan diriku kejadian dalam beberapa tahun terakhir ini telah begitu menenggelamkan diriku, tenggelam sedalam-dalamnya dalam kerapuhan dan kepedihan. Karena itulah kini aku tidak lagi akan merasa takut dilupakan atau bahkan diabaikan. Sebab, diriku seolah tak pernah ada. Tak pernah dikenal oleh seorang pun, itu tak mengapa asal orang-orang jangan membenciku. Aku tidak ingin meninggalkan dunia ini dan orang-orang membenciku yang berarti orang-orang akan masih mengingatku ketika aku pergi.
Aku ingin mengenggam kenangan-kenangan beberapa tahun yang lalu kenangan yang pernah menjadi indah namun sayang seribu sayang, semua kenangan yang indah itu lenyap seketika. Mereka pergi satu per satu mengiringi langkah kakiku yang semakin lelah menapak untuk berjalan dan terus berjalan. Dari manakah sebenarnya diriku? Meskipun aku di eropa sekalipun hati ini tetap merasa hampa.
Siapakah sebenarnya diriku? Mengapa semua kepedihan ini menimpa diriku? Sungguh, teramat panjang perjalanan yang penuh kepedihan ini!
Salah satu pengalamanku sejak kali pertama dengan keadaan seperti ini adalah aku mulai sadar diri. Sadar diri bahwa tidak ada sandaran
dalam hidup ini selain Allah, dan diri kita sendiri. Aku seharusnya tidak lupa diri, tidak lantas berputus asa. Ada Allah yang akan terus menjaga kita. Tuhan berikan aku kekuatan untuk menghadapi setiap cobaan darimu.
