Pursuit of Happiness - Life Without her
November 23, 2019
Ya hari ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu, Wisuda. Sejak kepergian dari seseorang yang kucintai aku sempat drop dan merasa putus asa untuk menjalani kehidupan ini, beberapa tahun lalu karena Vania kekasihku di jemput oleh Tuhan dan aku tidak bisa menemuinya terakhir kali dia menghembuskan nafas dan itu membuat aku hancur untuk beberapa hari kedepan dan aku merasa ingin berhenti untuk kuliah tapi karena orangtua melarang dan menyuruh untuk menghabiskan kuliah yang tinggal beberapa semester lagi dan akhirnya aku melanjutkannya. ingin cepat-cepat rasanya pergi dari kota ini. Disini terdapat banyak kenangan indah darinya yang selalu mehampiri ingatanku dan itu menjadi menyedihkan untuk di ingat kembali.
Alhamdulillah aku lulus tahun ini, bayangan aku lulus di foto dengan pakai toga dengan Vania seseorang yang aku cintai itu hanyalah harapan semu karena dia tidak ada lagi disini, tidak ada di kota ini, tidak ada dimanapun. Setelah acara wisuda selesai, papa dan ibu yang sempat menghadari acara wisuda mengajak untuk berfoto bersama, aku cuma banyak melamun disana dan menyempatkan sedikit senyuman saat di foto karena tidak lucu kan kalo saat di foto dengan wajah membosankan.
" Kenapa kamu ngelamun adik " kata ibu dengan nampak khawatir
" Tidak apa-apa kok bu, aku hanya memikirkan seandainya masih ada Vania pasti ia akan ikut berfoto bersama kita disini, aku hanya merasa sedih ketika mimpi itu hancur " dengan muka nampak sedih.
" Sabarlah Vania telah nyaman disana disisi Tuhan atau mungkin dia disana juga tersenyum melihatmu yang akhirnya wisuda hari ini, lagipula dia kan yang telah banyak memberi semangat dimasa lalu agar kau kuliah dan akhirnya wisuda juga akhirnya. " Ibu menegaskan
" iya siap bu aku akan mencoba untuk terus sabar menghadapi semua yang telah di renggut oleh Tuhan. " Aku mencoba untuk tegar.
Setelah acara foto-foto bersama kita akhirnya pulang. Membawa sekelumit rasa rinduku dan harapan untuknya yang masih belum hilang sampai sekarang entah sampai kapan. Apakah waktu yang terus berjalan mampu menghilangkan ingatan aku tentangnya.
Rasa lelahku akhirnya bisa sedikit mereda setelah aku sampai di depan rumah dan memarkirkan mobilku di garasi dan tiba di depan pintu mencoba sejenak menghilangkan kepenatan tentang dunia yang tidak ada habisnya ini begitu membosankan. Aku bertanya apa yang seharusnya aku lakukan sekarang untuk melanjutkan hidup apa aku harus membutuhkan orang yang menyemangati untuk mengarungi kehidupan yang melelahkan ini. Entahlah kehidupan ini begitu rumit dan penuh tanda tanya untuk di jalani.
Ketika asyik memikirkan tentang kehidupan, ada bunyi yang berdering di meja Ah rupanya itu bunyi handphone ku sampai lupa sendiri dengan bunyinya, segera aku bergegas untuk mengangkatnya.
" Yes pa ada apa " kataku.
" Kamu masih ingat seminggu yang lalu papa mengatakan kepadamu tentang sepupumu yang akan tiba di Indonesia dan transit di Jakarta lalu akan tiba pukul tujuh pagi di banjarbaru. Apakah kau besok tidak berhalangan dan bersedia untuk menjemputnya kerana papa yang disuruh oleh Mama nya tapi papa tidak bisa karena besok harus pergi lagi? Kamu bisa kan!" Papa berkata dengan tegas.
" Yes pa Ingat, besok aku rasa bisa karena tidak ada hal yang aku lakukan " Kataku dengan yakin.
" Oke good, ingat jangan terlambat tepat pukul tujuh kamu sudah harus berada disana" Papa mengancam.
" Okay pa siap," kataku sambil mengangguk.
Malam hari pun tiba dan aku harus segera menyegarakan tidurku agar pagi-pagi sekali harus bangun karena butuh beberapa jam untuk tiba di bandara. Pukul tujuh harus ada di bandara untuk segera menjemputnya, aku tidak ingin melihat sepupuku dengan muka bete nya melihat kepadaku dan bertingkah macam-macam ketika dia lagi bad mood atau apalah hal itu benar-benar menyebabkan.
#
