Pursuit of Happiness - Moving On
Agustus 01, 2020
Sampai sekarang pun masih mencari dengan memandang langit, memandang awan, menatap semua ke atas. Karena di saat gelisah aku berkali-kali memandang langit untuk menenangkan jiwaku yang terus bergelora. Aku percaya kapan aku melihat ke atas langit aku bisa dekat dengan Allah SWT. Entah seberapa dekat yang aku tahu ketika melihat ke atas semua beban yang ada juga terangkat bersama kesedihan dan kegelisahan.
Ketenangan sebelum badai datang, merupakan saat-saat penuh kedamaian, berharap badai ini akan segera berlalu. Namun waktu tak memiliki perasaan dan kejam, ketika aku telah menikmati hidupku waktu malah membawa Kabar duka yang menyakitkan perasaanku. Tuhan memang selalu menegur hamba nya jika sudah Sayang atau ingin memberi pelajaran untuk hamba nya karena Tuhan akan selalu menguji terhadap makhluknya yang beriman.
Kini tiba waktunya menanggung dosa dan rasa sakit, mencoba untuk kuat dan menghadapi takdir ini dengan kuat. Demi untuk kehidupan yang lebih baik, kini aku harus bertahan sampai Tuhan yang mengambil nyawa ini. Waktu pun berlalu, ingatan lama juga akan semakin redup dan samar-samar namun rasa sakit ini tetap ada membekas selamanya di hati.
Aku ingin sekali lagi berada di sampingmu sekali lagi, itu pun sudah cukup untuk menjadi alasan aku untuk hidup lebih lama di dunia ini, kembali menyembuhkan hati yang luka di masa lalu. Kita kembali bersama dulu merajut hati yang patah dan menyambungnya kembali. Kalau bukan kau, aku tidak akan tahu apa Itu cinta, terima kasih sudah mengajariku bagaimana mencintai seseorang dan bagaimana rasanya mendapat cinta juga. Terima kasih untuk semuanya termasuk kehadiran semalam dua tahun ini adalah anugerah terindah dalam hidupku.
Pernahkah kau mengatakan sesuatu ke seseorang yang jauh dari kebenaran, Untuk membiarkan mereka tau kau baik-baik aja.
Hanya untuk membuat mereka berhenti dari semua kekhawatiran dan pertanyaan yang mereka punya untuk dirimu. Dan kita harus berbohong karena kita tidak ingin mereka khawatir yang berlebihan.
Aku baik-baik aja, Inilah aku sekarang. Hanya perlu beberapa saat, membayangkan sesuatu itu pergi, bukan kebohongan yang dikatakan, aku akan jujur padamu, kita masih tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Untuk itulah aku mengatakan nya sekarang bahwa aku baik-baik di luar tapi serasa menyakitkan di dalam hatiku.
Kau tahu sehancur apa aku setelah kau pergi, Ah Kau mungkin tak tahu karena memang kau tidak ada lagi disini.
Pada akhirnya aku harus mengaku kalah,
Tuhan lebih menyayangimu daripada aku, karena itu lah Kau diambil oleh-Nya.
Satu-satunya harapan yang terkabulkan oleh Tuhan adalah bahwa do'a memintamu agar bahagia dan bahkan sempat aku melupakan kebahagianku sendiri, hingga akhirnya kau bahagia karena telah bisa terbebas dari dunia yang mengerikan ini sedangkan aku adalah orang yang menangis pilu berkat kepergianmu dari sisiku.
Walau pada akhirnya aku harus tetap merelakan karena pada kenyataannya, di hadapan Tuhan, aku tidak berdaya apa-apa aku hanyalah makhluk yang harus bersabar dan menuruti apa takdirnya kepadaku. Ya aku hanya bersabar untuk semua keadaan ini.
Saat di mana kau berpikir aku telah bisa pergi dari kota itu, sebenarnya tanpa kau tahu atau kau selalu tahu. Beberapa waktu aku masih mengenangmu bahkan sampai ke tempatku yang baru sekalipun.
Pernahkah kau merasakan, bangun di pagi hari dan seketika itu juga merasa luka? Mengingat orang yang dulu kau cintai, kini telah tiada dan tak akan pernah bisa bertemu lagi. Namun disisi lain, aku harus menyadari karena kamu telah bahagia di surga sana.
Maka maafkan aku jika hari ini aku begitu pemilih untuk menjatuhkan hati lagi, bukan nya tidak mau. Akulah memang yang terlalu takut kejadian masa lalu aku terulang kembali.
Apakah ini jalan yang memang Tuhan takdirkan untukku, atau memang kita tidak untuk di takdirkan bersama. Karena sesuatu yang begitu aku inginkan tidak serta merta menjadi sesuatu yang pantas untukku di mata Tuhan. Dan Tuhan mengambilnya dariku. Aku harap kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti jika aku juga telah pergi. Bercanda lagi mengenang semua kenangan indah bersama.
Aku tahu aku tidak sepantasnya cemburu,
Siapalah aku ini? Bahkan ingin memilikimu seutuhnya aku sadar, Tuhan lebih berhak karena Dialah yang telah menciptakan kita. Tanpa restu darinya kita bisa apa.
Mungkin do'a-do'aku masih tertahan di langit sana sehingga aku merasakan kepedihan ini, sehingga Tuhan ingin tahu seberapa besar rasa sabarku untuk ujian ini. Atau mungkin do'a-do'aku di gantikan dengan yang lebih baik menurut Tuhan.
Apakah kau pernah tahu rahasia dariku, untuk bisa sampai di titik ini, bersama denganmu. Aku harus berjibaku dengan diriku sendiri.
Jika suatu saat kau telah mendengar Kabar bahwa aku telah jatuh cinta, aku berharap kau telah dapat tersenyum di atas sana. Percayalah banyak hal yang harus aku lalui ketika kau pergi.
Selain Tuhan, mungkin hanya Kau yang tanpa sadar tahu apa alasan sebenarnya mengapa hingga saat ini aku pergi dari kota ini dan pergi sejauh mungkin bahkan sampai ke eropa, ribuan kilometer jauhnya. Sejauh itulah langkah kakiku pergi namun semua nampak sama ingatan akan tetap membekas selamanya dan hadir di setiap lamunanku.
Dua tahun terakhir yang aku habiskan bersamamu adalah momen yang paling membahagiakan dalam hidupku. Selamat tinggal, aku rasa tidak ada salahnya mati muda karena hanya itu satu cara agar aku bisa bertemu denganmu lagi. Tapi sekarang setelah aku membaca pesan yang kau kirim dari ibumu, aku rasa kita tidak akan bisa bertemu dulu untuk sekarang karena pasti kau akan memarahiku. Aku tidak akan bisa bertemu denganmu karena aku akan malu jika akhirnya aku pergi juga dari dunia ini. Kau menyuruhku agar bahagia dan aku harus menepati janji itu dan belum bisa untuk mati sekarang. Maafkan aku sayang.
Kurasa, aku tak masalah menunggu sedikit lama jika pada akhirnya yang terbaik memang hadir terakhir. Dan jika aku boleh meminta apakah aku salah jika aku berdoa ada yang mencintaiku sebesar cintaku pada orang-orang yang pernah pergi dulu. Semoga Tuhan menghadirkan orang yang baru dan terbaik untukku suatu hari nanti
