Pursuit of Happiness - The Promise
Juni 06, 2020
Akibat badai salju sepanjang malam dan pagi ini masih nampak tumpukan salju di sekitar halaman. Jalanan tertumpuk oleh timbunan salju-salju membuat beberapa orang enggan keluar rumah untuk beraktivitas.
Kehidupan ini penuh rintangan dan kesedihan yang harus ditempuh, ada beberapa yang berat dan ringan. Kemarin saat aku makan di Café menikmati suasana di tempat ini aku tak sengaja menyenggol cangkir di restoran tempat aku makan. Serpihan-serpihan kaca membuat tanganku terluka ketika ingin mengumpulkan nya yang berserakan.
Tanganku yang terbungkus perban membuat aku bertanya?
"Lebih sakit mana diantara tangan ini atau sakit di dalam perasaan ini? Tangan yang terbungkus oleh perban ini pasti akan sembuh dengan sendirinya namun hati apakah bisa sembuh jika terabaikan terlalu lama?"
Kau pernah berkata,
"aku ingin menjadi sungai, sesulit apapun yang dihadapi, ia akan tetap mengalir, sesulit apapun rintangan yang dihadapi, ia akan tetap mengalir menuju muara sungai. Aku ingin menjadi seperti itu, jika nanti kita telah berpisah, kita harus bisa merelakan apa yang telah pergi. Bahkan sesakit apapun itu biarkan waktu yang berjalan akan menyembuhkan itu semua.
Suara Cindy berteriak di depan pintu apartemen membangunkanku dari lamunan. "Kenapa kamu tidak menjawab apa yang aku katakan tadi Lev? Apakah kau masih tertidur?"
"Oh tidak kok, aku hanya melamun saja"
"Jauh-jauh ke eropa kok masih sempat melamun aja, duh kamu ini haha"
"Emang nya tidak boleh ya? Yah mau bagaimana lagi, You know lah? Ini adalah hari penting. Hari pertunangan kami jika seandainya Vania masih ada disini bersamaku."
"Hemm boleh kok. Sabar ya Lev, ini adalah ujian dari Allah dan rencana-Nya pasti akan memberikan yang terbaik untukmu hanya saja kamu belum tahu untuk sekarang. Dan semoga kalian dipertemukan lagi di surga nanti dengan Vania, semangat ya Lev!"
"Iya thank ya Cindy, kau masih peduli denganku."
"Iya sama-sama hehehe"
Flashback ke beberapa tahun yang lalu,,,
Waktu itu pada sore hari setelah aku tiba di rumah Mama nya Vania meneleponku dengan terburu-buru, aku yang masih belum menyadari maksudnya hanya meiyakan apa kata beliau yang menyuruhku untuk lekas pergi kerumah sakit karena Vania tiba-tiba pingsan setiba dia pulang dari kampus juga. Inilah tanda pertama Vania sakit yang tidak aku ketahui.
Aku pun bergegas untuk pergi ke rumah sakit segera tanpa membawa apa-apa hanya perasaanku yang was-was dan bingung apa yang terjadi sebenarnya kepada Vania. Selama aku bersamanya Vania nampak sehat bahkan dia selalu senyum saat aku bersamanya.
Setelah sampai di rumah sakit aku segera menuju kamar Vania yang telah diberitahukan oleh Mama nya Vania.... Aku tiba dengan nafas yang terengah-engah karena berlarian di koridor rumah sakit meskipun ada beberapa perawat yang menegur untuk tidak berlarian di rumah sakit ini.
Aku melihatnya terbujur kaku tak berdaya berbaring di atas tempat tidur, ya Allah wajah teduh itu nampak begitu damai ketika ia tertidur, cantiknya masih terlihat indah walaupun wajahnya pucat. Ya Allah sakit apakah Vania selama ini yang tidak aku tahu? Apakah dia akan pergi? Aku benar-benar belum siap untuk berpisah sekarang.
Kamu tenanglah nak! Vania hanya pingsan, ia nanti pasti akan siuman. Kamu temani dulu ya! Tante mau ke rumah dulu mengambil barang yang ada ketinggalan?
Iya siap tante, Vania akan aku temenin kok
Beberapa jam kemudian........ Vania tiba-tiba bangun dengan berkata,
“aku mau pulang...”
Vania terdiam, dan memejamkan matanya. Sesaat kemudian dia membuka matanya kembali. “terima kasih....” katanya lembut.
sebuah suara lirih menyadarkanku dari setengah tidur. Beberapa kali mengerjapkan mata, kemudian aku baru menyadari kalau aku masih berada di rumah sakit, disamping Vania.
“apa, sayang?” terimakasih untuk apa? aku mendekatkan telinga ke wajah Vania
“terimakasih karena telah mencintaiku begitu dalam dan masih setia denganku...” ulangnya.
"Iya aku mencintaimu kamu sayang, cepatlah sembuh ya, biar bisa lekas pulang." kataku meyakinkan
“aku mau pulang, mau dirumah aja...” dia memegang tanganku dengan mata berkaca-kaca. “please...”
“sekarang?” tanya ku bingung. “tapi... mana bisa, kamu kan belum sembuh.”
Aku menelan ludah, menatapnya lekat-lekat, dan memikirkan segala kemungkinan dan kesempatan yang masih kami miliki. Akhirnya aku mengangguk setelah beberapa saat.
“iya, kita nunggu mama kamu datang dulu ya...” kataku menenangkan seraya mengelus tangannya yang dingin dan mungil.
Vania mengangguk lemah, kemudian memejamkan matanya.
Akhirnya Vania kembali tertidur. Hari sudah berganti tepat jam 00.00, waktu itu aku bahkan tidak ingat lagi hari itu hari apa, atau tanggal berapa. Yang aku tahu hanyalah ingin menghabiskan waktu selama mungkin dengan sosok wanita yang terbaring lemah dan tak berdaya di hadapanku ini sambil menunggu Mama Vania datang.
Lalu masih setengah mengantuk tiba-tiba pintu terbuka dan ternyata Mama Vania yang datang dengan membawa beberapa baju ganti untuk nya dan Vania.
"Selamat Malam Lev?" Kata Mama Vania
"Iya Malam Tante," tadi Vania sempat bangun dan mengatakan ingin pulang, apakah Boleh?
"Alhamdulillah ya sudah bangun, kata dokter tadi sih kalo tidak ada apa-apa, Vania sudah bisa pulang besok."
"Wah syukurlah, pasti Vania senang mendengar nya" kataku tersenyum
Beberapa lama kemudian, aku melihat Vania membuka matanya, dan berkedip-kedip tersadar. Aku mendekatinya, dan memegang tangannya.
“mau minum?” aku langsung menawarkan. Dia mengangguk. Aku meminumkan segelas air teh hangat dengan sedotan.
“ini masih di rumah sakit ya...” katanya ketika telah selesai minum.
Aku mengangguk. “iya ini di rumah sakit, katanya kamu besok baru boleh pulang...” jawab aku tersenyum.
“makan dulu yuk?” tawarku . Vania langsung menggeleng pelan
“engga, ga pengen makan aku...”
Aku menatapnya iba. Rasanya ga tega untuk memaksanya lebih jauh.
“kamu udah makan?” tanyanya sambil menatapku.
“entar aja makannya setelah kamu, gampang lah nanti aku cari di luar ada makanan apa...”
“aku males makan ini...” katanya pelan.
Aku mengangguk. “iya, ntar kalo tidak males makan nya kamu nya.”
Aku kemudian menarik kursi yang sebelumnya terlalu jauh dari Vania, dan duduk disamping tempat tidurnya. Aku menyandarkan badan ke depan, memegang tangannya dengan kedua tanganku, nampak tangannya masih dingin.
“kamu emang nya sakit apa sih? Kok ga bilang sayang? sembuh yah?” pinta aku sambil tersenyum lebar.
"aku hanya sakit biasa kok, kamu jangan panik aku pasti sembuh." Vania melepaskan tangannya dari genggamanku, dan mengelus rambutku. Sesaat kemudian dia juga tersenyum lebar.
“katanya mau nikah sama aku?” tanyanya pelan.
Aku tertawa dan mengangguk.
“iya, tapi kamu sembuh dulu yah...”
Vania tersenyum dan memegang tanganku erat.
“secepatnya bisa? Kan siapa tahu aku pergi duluan, ”
Aku menatapnya, dan merasa bingung. “secepatnya apa, Vania? sembuh nya atau perginya?” aku memastikan.
Vania menggeleng pelan.
“bukan. secepatnya nikahin akunya bisa. Aku ingin merasakan betapa bahagianya ketika menjadi seorang pengantin yang diberi ucapan selamat orang-orang, Uh betapa bahagia itu pasti ya?”
"Hemm kok buru-buru kamunya, bisa kok tapi nunggu kita selesai kuliah dulu ya. Kita kan baru semester 3 masih 2,5 tahun lagi."
"Yah lama dong" huhu
"Yang sabar sayang itu tidak lama kok entar kita juga merasakan nya. Emang kamu mau pergi kemana sih? "
"Hemm baiklah, Yah pergi siapa tahu aku akan di jemput Tuhan."
"Kamu serius sayang, emang nya kamu sakit apa?" nadaku dengan khawatir
"Tidak, aku cuma bercanda kok, ya udah aku mau tidur dulu ya."
Hemm kirain kan, baiklah selamat tidur Vania sayang, semoga kamu mimpi indah ya?
Vania tersenyum kemudian memejamkan matanya.
Tapi pernikahan itu tidak pernah bisa terjadi lagi, sekarang hanya menjadi angan-angan semata yang tak pernah bisa terwujud karena Vania telah pergi. Apa aku boleh menyesal karena mengabaikan permintaan Vania dulu itu, aku pikir tidak itu memang sebuah takdir bahwa kita tidak untuk bersama di dunia ini.
Apalah arti nama, jika saja suatu saat nanti kita hanya bisa mengenangnya, kenangan yang membuat kita luka yang sangat dalam karena dia telah pergi, hanya tertinggal nama tertulis di atas batu Nisan nya.
Kita semua pernah jatuh cinta dan saat kita merasakan itu, kita akan mencintai seseorang itu dengan sepenuh hati. Lalu, mungkin saja hal lain yang terjadi setelahnya, kita mungkin akan di khianatinya atau kita akan ditinggalkan pergi untuk selamanya. Saat itu terjadi kita akan merasa seharusnya tak pernah mengenal namanya cinta, karena saat nama itu disebut ada luka yang akan kembali datang didadamu.
Back ke masa sekarang,
Saat dikagetkan oleh Cindy tadi aku mulai mengumpulkan mimpi-mimpi satu persatu dengan penuh perhatian. Kebebasan seharusnya tidak hanya dalam mimpi saja, ia adalah sebuah tujuan yang sangat berharga. Karena itulah aku harus kembali memiliki kehidupanku sendiri dengan impian-impian yang baru.
Jikalau ada yang bertanya, apakah keinginanku dari kehidupan ini? Maka aku tidak berhak untuk memutuskan apapun lagi sekarang karena Tuhanlah yang telah mengatur itu semua yang terbaik untuk kehidupanku dan aku hanya bisa berharap dan memenuhi apa yang Tuhan suruh dan menjauhi segala larangannya. Jadi biarlah keinginanku adalah untuk sekarang dapat mendengar gemercik suara orang aku rindukan di tempat yang teramat jauh dari tempat aku berada sekarang.
Semua kenangan ini hadir satu persatu kedalam ingatan terluar dariku membuat aku semakin merasakan bahwa Vania masih ada dalam kehidupan hari-hariku. Dia masih disini, mengawasiku, menemani hari-hariku yang kosong tanpa arah.
Setelah lama aku berkhayal, Cindy yang telah beranjak dari dapur kembali masuk ke dalam kamarku, Cindy kembali mengagetkanku dengan mencubit tanganku yang terasa sangat perih.
"Mengapa kau mencubitku Cindy?"
"Gapapa kok, kamu yang tidak menjawab panggilku tadi, jadi aku kira kamu masih tidur. Lagipula tidak sakit kan."
"Kata siapa tidak sakit, coba lihat ini membekas dan berubah jadi merah. Lagipula aku tidak tidur lah cuma rebahan wkwk"
"Ya maaf deh kalo sakit ya" (Cindy dengan muka prihatin sambil mencoba untuk memijat tanganku yang sakit).
"Ya no problem, Cindy Mengapa kita hanya di rumah saja untuk hari ini?"
"Maaf ya Lev, hari ini cuaca nya kurang mendukung, ada badai salju yang datang dan itu kita harus Stay in home Untuk keselamatan."
"Hemm Oke baiklah lagipula masih ada lain waktu dan aku masih lama juga kan ada disini"
" Iya Lev"
Waktu berlalu dengan cepat, aku berharap waktu akan berlalu dengan lambat. Waktu yang ingin aku dapatkan kembali, seandainya aku bisa memundurkan waktu aku ingin menikmati hari-hariku yang berharga dan bahagia. Tiga tahun tanpamu terasa waktu berlalu dengan cepat tanpa aku sedari aku masih berjalan lambat ketika semua orang berlari aku masih tetap disini sambil melihat kebelakang, mencari apakah kamu masih disini bersamaku.
Salah satu pelajaran berharga dalam hidup ini mulai aku pahami saat berada dalam kesedihan, ini adalah pelajaran hidup sehingga aku mampu mensyukuri secercah nikmat dan kesempatan untuk bisa bertahan hidup dalam berbagai persoalan hidup yang bermacam-macam. Dengan mengingat kesedihan kita akan tahu janganlah berlebihan bahagia dalam hidup di dunia ini karena sewaktu-waktu kita akan pergi dari dunia ini.
Aku dapat merasakan bahwa kehidupan ini begitu berharga ketika kita masih memiliki orang-orang yang kita sayangi. Kehidupan pahit ini ternyata membentuk jiwa dan pikiran setiap orang untuk menjadi tangguh secara mental dan kejiwaan. Menerima kenyataan sebagai manusia yang lemah mampu menguatkan aku untuk tetap sabar dalam menjalani kehidupan ini. Pedihnya kehidupan dalam beberapa waktu terakhir ini adalah gambaran bagaimana kehidupan yang akan kita jalani kelak.
Setidaknya hari ini kita masih hidup, jadi bersyukurlah kepada Tuhan yang telah memberi nikmat yang tak terhingga meski ada beberapa ujian datang dari-Nya Ini merupakan ujian untuk meningkatkan imanmu. Tetaplah bersyukur meski sepahit apapun kehidupanmu, bersyukur atas rasa pahit nya kehidupan adalah bentuk peribadi yang kuat dalam hidup ini.
