Anatasya, seorang pustakawan yang agak kikuk tetapi berhati hangat, menjalani hari-hari yang tenang di sebuah perpustakaan kuno di Stockholm. Ia percaya bahwa buku adalah satu-satunya hal yang bisa ia percaya. Hidupnya yang rapi dan teratur tiba-tiba kacau balau karena ulah sahabatnya yang super heboh. Di tengah kekacauan itu, Anatasya bertemu dengan Lev Ryley, mantan jenius IT yang kini lebih suka menyendiri dan membaca di perpustakaan. Pertemuan mereka, yang ditakdirkan terjadi pada bab ke-19, adalah sebuah kecelakaan lucu yang berujung pada kisah cinta dan persahabatan yang tak terduga. Dengan latar belakang kota Stockholm yang menawan, cerita ini akan penuh dengan momen-momen canggung, tawa, dan kehangatan yang akan menyentuh hati.
Judul Novel Beyond the Stacks in Stockholm
Tagar: #novelislami #novelkomedi #stockholm #novelromantis pustakawan #swedia #vaniaLarasati #LevRyley #novel30bab #Anatasya
Bab 1: Perpustakaan Kuno di Stockholm
Anatasya percaya, hidup ini adalah tentang buku. Terutama yang disusun dengan rapi di rak, sesuai abjad dan genre. Bukan buku digital yang bisa hilang hanya karena satu klik salah atau bug sistem. Tidak. Bagi Anatasya, hidup yang teratur, damai, dan bisa diprediksi hanya ada di antara tumpukan kertas, tinta, dan aroma kayu lapuk yang harum.
Pagi itu, udara Stockholm terasa begitu dingin, menusuk kulit. Salju turun tipis, menyelimuti jalanan batu dengan lapisan putih bersih. Anatasya mengayuh sepedanya dengan hati-hati, membelah keramaian pejalan kaki yang terburu-buru. Ia menata poninya yang miring akibat angin nakal, matanya sesekali melirik pada bayangan dirinya di jendela-jendela toko yang dilewati. Ia mengenakan mantel tebal berwarna hijau tua, syal rajutan yang membingkai wajahnya, dan sebuah tas jinjing berisi bekal makan siang dan, tentu saja, sebuah novel baru untuk dinikmati di jam istirahat.
Tiba di depan perpustakaan, ia merasakan gelombang kebahagiaan yang menenangkan. Perpustakaan itu adalah rumah keduanya. Bangunan kuno berarsitektur klasik, dengan pilar-pilar kokoh dan jendela-jendela besar yang membingkai pemandangan di luar. Di dalamnya, cahaya hangat dari lampu-lampu gantung kuno menerangi lorong-lorong rak buku yang tak berujung.
"Morgon, Anatasya!" sapa Gunilla, pustakawan senior yang sudah mengabdi selama tiga puluh tahun, dari balik meja informasi.
"Morgon, Gunilla," jawab Anatasya, membalas senyum hangatnya.
Rutinitas pagi Anatasya dimulai. Ia meletakkan tasnya, mengenakan celemek khas perpustakaan, lalu menyalakan komputer. Namun, saat ia berbalik, sebuah rak buku yang baru saja ia susun rapi semalam, kini dalam keadaan berantakan.
"Oh, nej," gumamnya, menarik napas dalam-dalam.
Entah siapa yang melakukannya, tetapi setiap hari, selalu ada saja buku yang tidak pada tempatnya. Ia mulai menata buku-buku itu dengan teliti, satu per satu, menggeser-geser buku sesuai dengan urutan yang seharusnya. Dalam keheningan itu, pikirannya melayang.
Ia memikirkan sahabatnya, Maja, yang selalu berusaha mendorongnya keluar dari zona nyaman. "Kau terlalu monoton, Anatasya! Kau butuh sedikit drama, sedikit kegilaan!" kata Maja tempo hari.
"Drama itu ada di dalam buku, Maja," jawab Anatasya, sambil menunjuk rak buku fiksi.
Namun, Maja tidak menyerah. Maja selalu menganggap hidupnya seperti adegan film, di mana setiap momen harus dramatis, penuh tawa, dan sedikit kekacauan. Anatasya bersyukur Maja tidak ada di sini sekarang. Jika ada, Maja pasti akan mengambil momen ini sebagai inspirasi untuk petualangan konyol berikutnya.
Setelah rak buku tertata sempurna, Anatasya melihat ke arah pojok paling belakang, dekat jendela besar yang menghadap ke halaman belakang. Sebuah kursi tua yang nyaman selalu ditempati oleh seorang pria. Ia datang setiap hari, pada waktu yang sama, duduk di kursi yang sama, dan membaca buku yang sama, atau setidaknya buku dengan genre yang sama—filsafat dan sejarah. Anatasya sudah hafal.
Pria itu adalah misteri kecil di dalam perpustakaan Anatasya. Ia punya rambut hitam bergelombang yang selalu sedikit berantakan, mengenakan sweater rajut yang nyaman, dan memiliki pandangan mata yang dalam, seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Anatasya diam-diam memanggilnya "Pria di Sudut Rak." Ia tidak tahu namanya, dan ia tidak pernah berani bertanya.
Hari ini, pria itu sedang membaca buku tebal berwarna cokelat, sesekali menghela napas, lalu kembali fokus pada bacaannya. Anatasya memperhatikannya dari kejauhan, dengan rasa penasaran yang menggelitik. Siapa dia? Mengapa ia begitu asyik dengan buku-buku yang membosankan?
Saat ia asyik melamun, suara dering telepon dari meja informasi membuyarkan lamunannya. Ia bergegas menjawab, tetapi kakinya tersandung rak buku yang baru saja ia rapikan. Ia terhuyung, tangannya refleks meraih rak buku, dan beberapa buku jatuh berserakan.
"Aduh," gumamnya, dengan malu.
Ia berjongkok untuk memunguti buku-buku itu, merasakan pipinya memanas. Saat tangannya akan meraih salah satu buku, ia melihat sebuah tangan lain juga meraih buku yang sama. Tangan itu panjang dan ramping, dengan buku-buku jari yang pucat. Ia mengangkat wajah, dan matanya bertemu dengan mata pria di Sudut Rak.
Pria itu menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa ingin tahu, sedikit geli, dan entah mengapa, sedikit kehangatan. Jantung Anatasya berdebar kencang. Ia terkejut, merasa seperti tertangkap basah sedang mengintip.
Pria itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya mengambil buku dari tangan Anatasya, lalu meletakkannya kembali ke atas tumpukan buku yang telah Anatasya kumpulkan. Kemudian, tanpa menoleh, ia kembali ke kursinya, seolah tidak terjadi apa-apa.
Anatasya terdiam, pipinya semakin memanas. Kejadian itu membuatnya sadar: hidupnya yang rapi dan teratur mungkin tidak akan pernah sama lagi. Sebuah kecerobohan kecil, sebuah pertemuan singkat, dan tiba-tiba, misteri kecil di sudut perpustakaan itu menjadi bagian dari dunianya.
Ia menyelesaikan tugasnya, tetapi kali ini, ia tidak bisa menghentikan pikirannya. Siapakah pria itu? Mengapa ia membantunya, lalu pergi begitu saja?
Hidup Anatasya, yang seperti buku yang tersusun rapi, baru saja mendapatkan bab baru, dan ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang jelas, ia merasa hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia akan terus mengamati pria itu dari sudutnya, dan berharap bab selanjutnya tidak terlalu kacau.
Namun, ia lupa. Di Stockholm, salju bisa mengubah pemandangan dalam sekejap. Begitu juga dengan hidup Anatasya. Bab baru ini, ia merasa, akan menjadi yang paling gila dari semuanya. Dan ia belum siap untuk itu.
