Dunia di luar Havenwood adalah dunia yang sama sekali baru bagi Kael. Selama ini, hidupnya berputar di antara bengkel kerja, pasar desa, dan hutan di sekitar pemukiman mereka—hutan yang ia kenal seperti punggung tangannya. Namun, kini ia berjalan di jalan setapak yang lebih gelap, menuju wilayah Fae, tempat yang hanya ia dengar dalam cerita-cerita anak-anak. Jejak-jejak Mortii—bekas sepatu bot yang aneh dan jejak seret yang tidak wajar—menjadi satu-satunya petunjuknya. Setiap langkahnya terasa berat, bukan hanya karena beban tas kecilnya, tetapi juga karena beban kesedihan dan dendam yang ia pikul.
Saat siang berganti malam dan malam kembali menjadi pagi, Kael mulai merasakan perubahan pada sekelilingnya. Pepohonan yang tadinya biasa kini mulai meliuk-liuk dengan cara yang tidak alami. Batang-batang pohon menjadi lebih ramping dan kulitnya berkilau seperti cangkang kumbang yang ditinggalkan. Udara menjadi lebih sejuk dan lembap, dipenuhi dengan aroma bunga-bunga liar yang tidak pernah ia cium sebelumnya. Kael menyadari bahwa ia tidak lagi berada di hutan yang ia kenal. Ia telah memasuki wilayah Fae, sebuah tempat di mana alam dan sihir menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Di satu sisi, Kael merasa ngeri. Kisah-kisah tentang Fae yang gemar mempermainkan manusia melintas di benaknya. Di sisi lain, ia takjub. Ia melihat cahaya-cahaya kecil melayang di udara, mirip kunang-kunang namun lebih terang, menari-nari di antara dedaunan. Jamur-jamur aneh berwarna ungu dan biru tumbuh di dasar pohon, memancarkan cahaya lembut yang cukup untuk menerangi jalan Kael di tengah kegelapan. Gema dari kartu Elara di kantungnya terasa semakin kuat, seolah-olah ia juga merasakan keajaiban di sekitarnya. Gema itu tidak lagi hanya sebuah kesedihan, melainkan campuran antara harapan dan ketakutan yang mendalam.
Saat berjalan, Kael menemukan sebuah jejak aneh di tanah. Jejak itu bukan lagi jejak Mortii yang kotor, melainkan jejak yang terbuat dari lumut dan embun, yang segera menghilang begitu Kael mendekatinya. Ini adalah peringatan, sebuah pesan dari Fae. Bahwa ia sedang diawasi. Kael tidak panik. Ia sadar ia hanyalah satu-satunya pahlawan dari fraksi Human yang ada di dalam hutan itu. Ia tidak punya pilihan selain terus maju.
Tiba-tiba, ia mendengar suara gemerisik daun dari atas. Kael dengan cepat mengayunkan tangannya, mengeluarkan kartu cadangannya, sebuah kartu monster yang ia buat sendiri—seorang penjaga Human yang tangguh. Namun, tidak ada serangan. Ia melihat seekor tupai kecil melompat dari dahan ke dahan. Anehnya, tupai itu memiliki mata yang bersinar seperti permata hijau. Tupai itu menatap Kael sejenak, lalu melompat pergi, meninggalkannya dalam keheningan lagi.
Kael terus berjalan, melewati sungai kecil yang airnya berkilauan seperti berlian. Ikan-ikan yang berenang di sana memiliki sisik yang berwarna-warni, memantulkan cahaya dari jamur-jamur di sekitarnya. Kael berhenti sejenak untuk membasuh wajahnya, merasakan sensasi air dingin yang menyegarkan. Saat ia melihat ke pantulan air, ia melihat Elara, adiknya, menatapnya dengan senyum. Namun, saat ia berkedip, bayangan itu hilang. Hatinya kembali terasa sakit, dan tekadnya semakin kuat.
Malam itu, Kael mendirikan kemah di bawah pohon yang sangat besar. Ia makan bekal yang ia bawa, dan tidur dengan kartu Elara di tangan. Ia bermimpi tentang adiknya, tetapi mimpinya diganggu oleh bisikan-bisikan halus dari suara-suara Fae. Suara itu berbicara dalam bahasa yang tidak ia mengerti, tetapi nada suara mereka penuh dengan rasa ingin tahu dan kecurigaan.
Saat ia terbangun, pagi sudah tiba. Kael melanjutkan perjalanannya, tetapi ia merasa tidak sendirian. Ia merasa ada yang mengawasinya, tidak dengan niat jahat, tetapi dengan rasa ingin tahu yang mendalam. Kael melihat ke atas, ke pepohonan yang rimbun, dan ia melihat bayangan yang melompat dengan cepat dari satu dahan ke dahan lain. Bayangan itu sangat lincah, seperti bayangan seekor kucing. Ia menyadari bahwa ia semakin dekat dengan Fae.
Saat ia tiba di sebuah padang rumput yang terbuka, ia melihat sesuatu yang berbeda. Jejak Mortii yang tadinya samar-samar, kini terlihat jelas. Beberapa daun hangus dan bekas luka di tanah menunjukkan adanya pertempuran kecil di sana. Kael merasakan gema dari kartu Elara menjadi sangat kuat. Ia tahu ia sudah sangat dekat. Ia melihat ke arah ujung padang rumput, di mana sebuah bayangan bergerak dengan lincah, memegang sebuah busur. Itulah Lyra, pahlawan Fae, yang sudah menunggunya. Kisah petualangan Kael dan Fae akan segera dimulai.
Dapatkan novel fantasi Deck Heroes Legacy dan ikuti petualangan epik Kael dan kawan-kawan setiap minggunya! Jangan lewatkan kisah seru, konflik mendalam, dan intrik antar fraksi yang akan membawa Anda ke dunia yang penuh sihir dan bahaya. [Link Pre-Order / Baca Sekarang].
