Kekuatan yang membentang dari telapak tangan Lev, seperti akar yang menembus tanah, mengusir bayangan-bayangan itu dalam kilasan cahaya cokelat yang menenangkan. Makhluk-makhluk Sombra lenyap secepat kemunculannya, meninggalkan keheningan yang menyesakkan. Ketiga sahabat itu hanya bisa berdiri terdiam, terengah-engah. Lutut Lev terasa lemas, dan ia hampir ambruk jika tidak segera ditopang oleh Vania.
"Lev, kau baik-baik saja?" tanya Vania, suaranya dipenuhi kekhawatiran. Matanya menatap tajam ke arah tangan Lev yang masih memancarkan cahaya redup.
Anatasya, yang telah mengambil bukunya yang terjatuh, menatap Lev dengan ekspresi terkejut. "Kau... kau melakukan itu," bisiknya, tak percaya.
"Aku... aku tidak tahu," jawab Lev, kepalanya pusing. "Aku hanya... merasa harus melakukannya."
Mereka kembali ke rumah Lev dalam keadaan linglung. Tidak ada yang berani membicarakan apa yang terjadi, seolah-olah itu adalah mimpi buruk yang ingin mereka lupakan. Namun, retakan-retakan di trotoar menjadi bukti nyata dari kekuatan yang tidak bisa dijelaskan. Di ruang tamu Lev, mereka duduk diam, mencoba mencerna kejadian yang baru saja terjadi.
Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu. Lev, yang paling dekat, beranjak membuka pintu dengan ragu. Di sana berdiri seorang pria paruh baya yang mengenakan mantel abu-abu panjang. Wajahnya dipenuhi kerutan yang menandakan pengalaman hidup yang panjang, dan matanya memancarkan kebijaksanaan yang mendalam.
"Lev Ryley," sapa pria itu dengan suara yang tenang. "Vania Larasati. Anatasya."
Ketiga remaja itu terkejut. Pria itu menyebut nama mereka, seolah sudah mengenal mereka.
"Siapa Anda?" tanya Vania, melangkah maju dengan sikap protektif.
"Namaku Argus," jawab pria itu sambil tersenyum tipis. "Aku datang untuk membawamu pulang."
"Pulang?" tanya Anatasya, memiringkan kepalanya. "Kami sudah di rumah."
Argus tertawa kecil. "Bukan rumah ini. Rumah yang sebenarnya. Tempat di mana kalian akan belajar mengendalikan takdir kalian."
Pria itu kemudian menjelaskan tentang Arcanum, akademi rahasia tempat para pewaris elemen dilatih. Ia menceritakan tentang Sombra, kekuatan gelap yang telah mengancam dunia selama berabad-abad. Ia menjelaskan bahwa Lev, Vania, dan Anatasya adalah pewaris elemen, dan merekalah yang ditakdirkan untuk menghadapi ancaman tersebut.
"Aku tidak percaya," kata Lev, menggelengkan kepalanya. "Ini... ini terlalu banyak."
"Kami melihatnya dengan mata kepala kami sendiri," timpal Vania. "Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan."
Anatasya, yang paling analitis, bertanya, "Bagaimana kami bisa tahu kau tidak berbohong?"
Argus tersenyum lagi. Ia mengeluarkan sebuah lencana perak dari sakunya. Di lencana itu terukir simbol-simbol elemen yang berbeda, termasuk elemen bumi, api, dan air. "Lencana ini adalah bukti. Ini adalah lambang Arcanum," katanya.
Argus kemudian menunjukkan kekuatan yang dimilikinya. Dengan satu gerakan tangan, ia membuat secangkir teh di meja melayang di udara. Dengan gerakan lain, ia mengubah warna daun-daun di pot bunga menjadi warna emas. Lev, Vania, dan Anatasya menatap dengan takjub.
"Setiap orang memiliki takdirnya sendiri," kata Argus. "Lev, kau memiliki kekuatan bumi. Vania, kau memiliki kekuatan api. Anatasya, kau memiliki kekuatan air. Dan kalian, bersama-sama, akan menyelamatkan dunia."
Mata Lev tertuju pada lencana di tangan Argus. Ia melihat simbol-simbol elemen, dan ia merasa iri. Ada satu simbol yang ia sangat inginkan, simbol es.
"Apakah ada... elemen es?" tanya Lev, suaranya pelan.
Argus menatap Lev dengan tatapan penuh arti. "Ada banyak elemen, Nak. Tapi takdirmu sudah ditentukan."
Lev merasa kecewa. Ia ingin menjadi istimewa, ia ingin menjadi kuat, seperti es. Tetapi ia hanya mendapatkan elemen yang ia anggap membosankan.
Meskipun demikian, mereka setuju untuk mengikuti Argus. Mereka tahu bahwa hidup mereka tidak akan pernah sama lagi. Mereka akan pergi ke Arcanum, ke tempat di mana mereka akan belajar mengendalikan kekuatan mereka, dan mereka akan menghadapi takdir mereka.
Bab ini diakhiri dengan Lev, Vania, dan Anatasya bersiap untuk memulai perjalanan baru mereka. Mereka tidak tahu apa yang menanti mereka di Arcanum, tetapi mereka tahu bahwa mereka harus menghadapinya bersama. Dan Lev, di dalam hatinya, masih menyimpan keinginan untuk memiliki kekuatan es. Keinginan yang akan membawanya ke dalam konflik batin yang lebih besar.
