Kemenangan Barito Putra di Liga Indonesia mengubah segalanya bagi Lev. Ia bukan lagi sekadar anak Banjar yang piawai mengolah bola, melainkan seorang pahlawan. Wajahnya menghiasi koran-koran lokal, kisahnya menjadi inspirasi bagi ribuan anak muda di seluruh Kalimantan. Namun, Lev tahu, perjalanannya belum selesai. Mimpinya lebih besar dari sekadar juara liga domestik.
Suatu sore, saat ia sedang menikmati makan malam sederhana bersama keluarganya, telepon rumah berdering. Ayahnya mengangkatnya, dan raut wajahnya berubah. Ia menyerahkan gagang telepon itu pada Lev dengan tangan bergetar. "Dari PSSI," bisiknya, matanya memancarkan rasa bangga yang tak terlukiskan.
Jantung Lev berdegup kencang. Suara di ujung telepon memperkenalkan diri sebagai manajer Timnas Indonesia. Dengan suara tenang, ia menjelaskan bahwa Lev telah dipanggil untuk mengikuti pemusatan latihan menjelang kualifikasi Piala Dunia 2026. Kabar itu seperti sambaran petir, sebuah anugerah yang tak pernah ia sangka datang begitu cepat.
Di pemusatan latihan, Lev kembali merasakan perasaan menjadi pendatang baru. Ia bertemu dengan para pemain terbaik dari seluruh penjuru Indonesia. Ada yang sudah punya nama besar, ada pula yang seangkatan dengannya. Mereka semua membawa ambisi yang sama: membawa Indonesia ke kancah tertinggi sepak bola dunia. Pelatih timnas, seorang taktisi dari Eropa, terkenal dengan disiplin dan strategi modernnya. Ia melihat potensi Lev dan memberinya posisi gelandang serang, sama seperti di Barito Putra.
Perbedaan levelnya terasa jelas. Permainan di timnas lebih cepat, lebih taktis, dan menuntut presisi tinggi. Lev harus belajar beradaptasi. Ia bekerja keras, datang lebih awal ke lapangan untuk berlatih tendangan bebas dan umpan-umpan terobosan. Ia juga menghabiskan waktu berjam-jam menonton video pertandingan, mempelajari pergerakan lawan dan rekan-rekan setimnya. Kecerdasannya membaca permainan membuatnya cepat beradaptasi, dan tak lama kemudian, ia menjadi salah satu pemain kunci dalam formasi tim.
Perjuangan di babak kualifikasi sangat berat. Indonesia harus berhadapan dengan tim-tim kuat dari Asia. Namun, dengan semangat pantang menyerah dan strategi jitu, mereka berhasil melewati setiap rintangan. Gol-gol krusial yang dicetak, umpan-umpan matang yang diberikan, banyak di antaranya berasal dari kaki Lev. Ia tidak hanya mencetak gol, tetapi juga menjadi otak di balik serangan-serangan berbahaya timnas.
Hingga tibalah pertandingan penentuan, sebuah laga tandang yang harus dimenangkan untuk memastikan tiket ke Piala Dunia. Indonesia berhadapan dengan tim yang secara kualitas di atas mereka. Pertandingan berlangsung sengit, kedua tim saling serang. Di menit-menit akhir, saat skor masih imbang, Lev menerima bola di tengah lapangan. Tanpa pikir panjang, ia melepaskan umpan terobosan jarak jauh yang membelah pertahanan lawan. Striker yang menerima umpan tersebut berhasil mencetak gol kemenangan. Peluit panjang berbunyi, dan stadion tamu senyap, sementara para pemain Indonesia merayakan kemenangan yang bersejarah.
Indonesia lolos ke Piala Dunia! Seluruh negeri dilanda euforia. Bendera Merah Putih berkibar di mana-mana, dan nama Lev Ryley dielu-elukan sebagai pahlawan bangsa. Ia kembali ke Banjarmasin untuk merayakan bersama keluarganya, disambut seperti raja. Namun, ia tahu ini baru permulaan. Tantangan sesungguhnya menanti di Piala Dunia.
Di putaran grup, Indonesia tergabung dalam grup neraka bersama Inggris, Paraguay, dan Ghana. Laga pertama melawan Inggris, tim yang menjadi kiblat sepak bola modern. Indonesia kalah, tetapi tidak dengan mudah. Lev menunjukkan performa yang mengesankan, berani berduel dengan gelandang-gelandang top dunia. Laga kedua melawan Paraguay, Lev berhasil menjadi motor serangan dan menciptakan gol yang membuat Indonesia meraih hasil imbang. Puncaknya, di laga terakhir melawan Ghana, Indonesia bermain dengan semangat juang tinggi dan berhasil memenangkan pertandingan, sebuah hasil yang mengejutkan dunia.
Meskipun mengumpulkan empat poin—terpaut satu poin dari Paraguay—Indonesia harus puas di posisi ketiga dan tersingkir. Air mata haru dan kekecewaan bercampur aduk di wajah para pemain, tetapi mereka telah melakukan yang terbaik. Lev, meskipun sedih, merasa bangga. Mereka telah membuktikan bahwa Indonesia pantas berada di panggung dunia. Dan bagi Lev, pertandingan itu menjadi ajang pembuktian bahwa ia bukan hanya jagoan di tanah air, tetapi juga mampu bersaing dengan yang terbaik. Ia tidak tahu, ada mata-mata klub raksasa yang sedang mengamatinya, dan masa depannya akan segera berubah selamanya.
