Musim kemarau akhirnya berlalu, dan Hutan Rimba kembali disambut oleh rintik hujan yang membawa kehidupan. Tanah yang kering kini basah dan subur. Biji-biji yang ditanam oleh Kiko, Momo, Pipi, dan Lala mulai bertunas dan tumbuh dengan cepat. Setiap hari, mereka memeriksa pertumbuhan tunas-tunas itu dengan penuh harap. Mereka melihat setiap tunas sebagai janji, janji akan hutan yang hijau kembali.
Suatu pagi, saat mereka sedang mengamati tunas-tunas itu, mereka mendengar suara tangisan dari balik semak. Mereka bergegas mendekat dan menemukan seekor anak burung yang terjatuh dari sarangnya. Sarang itu berada di dahan yang tinggi, dan anak burung itu tidak bisa terbang. Anak burung itu kedinginan dan ketakutan.
"Kita harus membantunya!" seru Momo.
"Tapi... bagaimana caranya?" tanya Pipi. "Kita tidak bisa terbang."
"Mungkin kita bisa membangun tangga," usul Kiko.
Mereka mulai mencari ranting-ranting kecil dan daun-daun lebar. Kiko, dengan kecerdasannya, merancang tangga dari ranting-ranting yang saling diikat. Momo, dengan kelincahannya, membantu mengikat ranting-ranting itu. Pipi, dengan kesabarannya, memegang anak burung itu agar tidak kedinginan. Dan Lala, dengan bijaksananya, mengawasi dari danau, memastikan tidak ada bahaya.
Proses membangun tangga tidak mudah. Beberapa kali, tangga yang mereka buat roboh. Namun, mereka tidak menyerah. Mereka saling bekerja sama, saling menguatkan, dan saling memberikan semangat. Akhirnya, tangga itu selesai. Kiko memanjat tangga itu dan dengan hati-hati meletakkan anak burung itu kembali ke sarangnya.
Anak burung itu tidak lagi menangis. Ibunya, yang sedari tadi terbang mengelilingi, kini kembali ke sarang dan memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang. Kiko, Momo, Pipi, dan Lala merasa sangat senang. Mereka berhasil membantu anak burung itu.
Beruang Bijak yang menyaksikan dari jauh, tersenyum. "Kalian telah memberikan hadiah terindah untuk hutan," katanya.
"Hadiah apa, Ayah?" tanya Kiko.
"Kalian telah memberikan hadiah persahabatan dan kerja sama," jawab Beruang Bijak. "Kalian telah menunjukkan bahwa dengan bersatu, kalian bisa melakukan hal-hal yang luar biasa. Kalian telah menunjukkan bahwa satu perbuatan baik, sekecil apa pun itu, bisa membawa kebahagiaan yang besar."
Kiko, Momo, Pipi, dan Lala saling berpandangan. Mereka merasa bangga. Mereka tidak hanya menanam biji, tetapi juga menanam kebaikan. Dan kebaikan itu, kini tumbuh subur, seindah tunas-tunas pohon yang mereka tanam. Mereka menyadari, kebaikan adalah hadiah terbaik yang bisa diberikan kepada siapa pun, di mana pun.
