Senja di Banjarmasin selalu punya cara sendiri untuk memeluk. Langit oranye, merah, dan ungu bercampur aduk, dipantulkan oleh riak Sungai Martapura. Di teras rumah panggung dari kayu ulin yang sudah kusam, Lev Ryley menatap pemandangan itu. Dadanya berdebar-debar, bukan karena takut, melainkan karena antusiasme yang membuncah seperti air pasang. Koper berukuran besar yang teronggok di sudut ruang tamu, sudah terisi penuh dengan baju, beberapa buku arsitektur, dan yang paling penting—beberapa bungkus rengginang buatan neneknya.
“Lew, sudah semua? Paspor? Visa?” Suara Ibu memecah keheningan. Beliau berjalan mendekat dengan nampan berisi teh hangat dan satu piring jajanan pasar.
“Sudah, Bu. Lengkap semua,” jawab Lev, menoleh dan tersenyum. “Bahkan rengginang pun sudah aman di dalam koper, berlapis-lapis plastik. Dijamin tidak akan hancur.”
Ibu tertawa kecil, senyumnya melengkung tipis, sebuah isyarat keceriaan yang sedikit tersamarkan oleh rasa haru. “Kalau kamu kehabisan uang, jangan makan rengginang terus, ya,” canda Ibu sambil duduk di sebelahnya. “Cari makanan yang sehat. Kalau rindu, telepon saja.”
Lev memeluk Ibu, kepalanya disandarkan di bahu perempuan yang sudah membesarkannya dengan penuh cinta. “Pasti, Bu. Lagipula, kan niat Lev ke sana bukan cuma jalan-jalan, tapi juga belajar. Mengamati arsitektur Islam yang selama ini cuma Lev lihat di buku.”
“Iya, iya, Ibu tahu. Sudah, jangan terlalu melankolis. Nanti kamu nangis di pesawat,” goda Ibu, mengusap punggung Lev lembut.
Namun, komedi keluarga yang Lev kenal tidak berhenti di situ. Tiba-tiba, Ayah muncul dari dalam rumah sambil membawa sebuah kardus kecil yang disegel rapat. Wajahnya serius seperti seorang jenderal yang hendak mengirim prajurit ke medan perang. “Nah, ini,” ujar Ayah, meletakkan kardus itu di meja. “Isinya obat-obatan, vitamin, dan bumbu-bumbu dapur. Kalau kamu sakit, langsung minum obat. Kalau kangen masakan Banjar, kamu bisa pakai bumbu ini.”
Lev membelalakkan matanya. “Yah, ini kardus besar sekali! Apa isinya semua bumbu dapur?”
“Tidak, ada juga madu murni dari Pamanmu di desa,” jawab Ayah dengan wajah tanpa dosa. “Itu untuk menjaga daya tahan tubuhmu. Maklum, udara di sana panas, harus ekstra hati-hati.”
Lev hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. Ayah dan Ibu selalu punya cara unik untuk menunjukkan kasih sayang mereka. Di balik kekonyolan dan kecerewetan mereka, Lev tahu ada doa dan harapan yang tak terhingga. Budaya orang Banjar merantau memang sudah mendarah daging, mencari ilmu dan penghidupan yang lebih baik, dan itu disokong penuh oleh keluarga.
Malam itu, setelah shalat Isya, keluarga kecil mereka berkumpul di ruang tamu. Ayah mengisahkan kembali kisah-kisah perantau sukses dari tanah Banjar, menguatkan hati Lev yang sebenarnya sudah sangat kuat. Ibu membacakan doa-doa untuk keselamatan perjalanan, dan sesekali menyeka sudut matanya yang basah.
“Ingat, Lew,” ujar Ayah, menepuk bahu anaknya. “Di mana pun kamu berada, jangan lupa shalat. Jaga akhlak. Tunjukkan pada dunia bahwa orang Banjar itu punya adab dan sopan santun yang tinggi.”
Lev mengangguk mantap. “Siap, Ayah. Lev akan ingat itu selalu.”
Pagi harinya, suasana di rumah Lev lebih hening. Koper besar itu sudah di bagasi mobil. Paman, Bibi, bahkan Nenek yang sudah tua renta ikut mengantar sampai ke bandara. Di teras, Nenek merapal doa-doa dalam bahasa Banjar yang lembut, suaranya terdengar seperti melodi yang menenangkan.
“Mudahan selamat sampai tujuan, cucu Nenek. Mudahan ilmunya barokah, bemanfaat gasan urang banyak," bisik Nenek, menepuk pundak Lev. Artinya: "Semoga selamat sampai tujuan, cucu Nenek. Semoga ilmunya berkah, bermanfaat untuk orang banyak."
Mendengar bisikan itu, mata Lev mulai berkaca-kaca. Ia memeluk erat Neneknya, merasakan keriput dan kehangatan kulitnya. Di mata Nenek, bukan hanya ada cinta, tapi juga sejarah dan kekuatan tradisi.
Setelah semua salam perpisahan di bandara, dengan mata yang sedikit memerah, Lev melambaikan tangan ke arah keluarganya. Di balik kaca, ia melihat Ayah, Ibu, dan Nenek tersenyum, tapi Lev tahu, ada air mata yang mereka tahan di sana.
Pesawat perlahan meninggalkan landasan pacu. Jantung Lev berdetak kencang, perpaduan antara gugup dan gembira. Ia membuka tas selempang yang dibawanya, mengambil sebuah buku catatan kecil. Di halaman pertama, ia menuliskan sebuah kalimat, "Aku berangkat, Banjarmasin. Aku pergi untuk kembali dengan cerita yang lebih kaya."
Penerbangan panjang dimulai, membawa Lev menuju cakrawala yang belum pernah ia sentuh. Perjalanan ini bukan hanya tentang Timur Tengah, tapi juga tentang dirinya sendiri. Sebuah perjalanan spiritual dan petualangan yang ia tunggu-tunggu, yang akan menguji kesabaran, kepercayaan, dan juga selera humornya di tanah rantau.
