Matahari baru saja menyapa pagi di Hutan Rimba yang asri. Sinar keemasan menembus celah-celah daun, membangunkan Kiko Kancil dari tidurnya. Dengan semangat yang meluap, ia melompat-lompat menuju pohon jambu yang sudah lama ia intai. Hari ini, pohon itu akhirnya berbuah dan buahnya telah masak. Buah-buah merahnya menggoda, tersembunyi di balik dedaunan hijau.
Kiko tersenyum licik. Ia sudah merencanakan ini sejak lama. Ia akan menjadi yang pertama dan satu-satunya yang mencicipi buah jambu terlezat di seluruh hutan. "Ini semua milikku!" bisiknya pelan, seolah takut niatnya terdengar.
Saat Kiko sedang asyik memanjat, Momo Monyet dan Pipi Penguin datang menghampiri. Momo, yang lincah, bergelantungan di dahan-dahan terdekat. Pipi, yang pemalu, berdiri canggung di bawah pohon.
"Kiko, lihat! Jambu-jambunya merah sekali!" seru Momo dengan mata berbinar.
Pipi mengangguk setuju, "Baunya... harum sekali."
Kiko berbalik, menyembunyikan buah jambu terbaik di balik punggungnya. Ia hanya menunjuk ke arah buah-buah kecil dan sedikit layu yang ada di ujung dahan. "Ini saja yang tersisa," katanya, berpura-pura sedih. "Sudah aku petik semua. Sisanya tidak enak."
Momo dan Pipi saling pandang. Mereka tahu ada yang tidak beres. Tapi, mereka memutuskan untuk percaya pada Kiko, sahabat mereka. Momo dengan enggan mengambil jambu layu itu, sementara Pipi hanya memilin ujung syalnya, tampak kecewa.
Malam harinya, gua Kiko dipenuhi dengan tumpukan jambu merah ranum. Kiko makan dengan lahap, menikmati manisnya buah yang ia curi dari teman-temannya. Ia merasa senang, tetapi hatinya terasa kosong. Sebagian dari dirinya merasa bersalah. Rasa bersalah itu membuat jambu yang ia makan terasa pahit di lidah.
"Kenapa rasanya tidak enak?" gumamnya. "Padahal jambunya sangat manis."
Tiba-tiba, perutnya terasa sakit. Rasa sakit itu semakin menjadi. Kiko mengerang kesakitan. Di luar gua, Lala Lumba-Lumba yang sedang berpatroli mendengar rintihan Kiko. Dengan cepat, Lala memanggil Beruang Bijak, tetua hutan yang selalu memberi nasihat.
Beruang Bijak datang. Ia menatap Kiko dengan tatapan yang menembus hati. Kiko yang merasa malu dan bersalah akhirnya mengaku. Ia menceritakan bagaimana ia membohongi Momo dan Pipi.
"Kiko," kata Beruang Bijak dengan suara lembut, "jujur itu seperti air yang jernih. Kadang rasanya tidak enak saat pertama kali, tapi akan membersihkan hati. Berbohong itu seperti racun. Terlihat manis di luar, tapi akan membuatmu sakit di dalam."
Kiko mengangguk, air mata mengalir di pipinya. Ia menyesali perbuatannya. "Aku akan minta maaf, Ayah," katanya.
Keesokan harinya, Kiko mengumpulkan teman-temannya di pohon jambu. Ia meminta maaf dan memberikan semua jambu yang tersisa kepada Momo dan Pipi. Lala yang melihatnya ikut tersenyum.
Momo dan Pipi memaafkan Kiko dengan tulus. Mereka makan jambu bersama, berbagi tawa, dan Kiko merasa damai. Jambu yang ia makan sekarang terasa manis, jauh lebih manis dari jambu yang ia makan sendirian semalam.
Kiko belajar bahwa kejujuran adalah kunci kebahagiaan. Dan berbagi, jauh lebih menyenangkan daripada memiliki segalanya sendirian.
