Sinopsis
Andriy, seorang elf berusia berabad-abad, hidup di Chelyabinsk, Rusia. Ia satu-satunya elf yang tersisa di Bumi dan telah melihat dunia berubah drastis dari masa lalu ke era modern. Ia memiliki kesulitan menjalin hubungan karena ia akan menyaksikan semua teman dan keluarga manusianya menua dan meninggal. Meskipun begitu, ia mencoba untuk menjalani kehidupan normal sebagai seorang seniman ukiran kayu. Di sampingnya, ada karakter-karakter pendukung yang memberinya pelajaran tentang makna hidup, persahabatan, dan kehilangan, seperti seorang nenek tua yang keras kepala, seorang anak muda yang cerdas dan penuh semangat, dan seekor kucing kesayangan yang menemaninya melewati kesepian. Novel ini akan mengikuti kisah keseharian Andriy, di mana ia menghadapi tantangan, baik yang ringan dan lucu, maupun yang mengharukan dan menyedihkan, sambil berupaya menemukan makna hidupnya yang tak berkesudahan.
Judul Novel The Unending Goodbye
Udara dingin Chelyabinsk bukanlah hal baru bagi Andriy. Angin es dari Siberia yang menusuk tulang, salju tebal yang menutupi jalanan, dan suhu di bawah nol hanyalah pengulangan lain dari ribuan musim dingin yang pernah ia alami. Di usianya yang hampir mencapai 1.200 tahun, Andriy telah melihat Kekaisaran Rusia bangkit dan runtuh, menyaksikan perubahan rezim, dan melihat Chelyabinsk tumbuh dari pemukiman sederhana menjadi kota industri yang ramai. Namun, tak ada yang benar-benar bisa mempersiapkannya untuk pemandangan yang sama setiap harinya: pagi hari di sebuah kafe kecil, dengan uap teh chamomile yang mengepul di depan wajahnya, dan seorang pria tua yang duduk di hadapannya, menggenggam cangkirnya dengan tangan yang gemetar.
"Andriy, kakek tidak akan pernah terbiasa dengan teh chamomile ini," kata Nikolai Petrovich, suaranya parau dan bergetar karena usia. "Rasanya seperti minum rumput."
Andriy tersenyum. "Kau sudah bilang begitu, Kolya. Selama 60 tahun terakhir," jawab Andriy, dengan aksen Rusia yang sempurna namun terdengar terlalu kuno, seperti melodi yang berasal dari masa lalu.
Kolya tertawa, tawa yang bergema di kafe kecil itu, mengingatkan Andriy akan sebuah melodi yang dulu pernah ia dengar, namun sayangnya terlalu rapuh untuk bertahan lama. "Enam puluh tahun," gumam Kolya, menatap cangkirnya. "Kau tidak pernah berubah, Andriy. Rambut pirangmu itu masih secerah mentari pagi. Wajahmu tidak pernah keriput. Apa rahasiamu?"
Andriy hanya mengangkat bahu. "Gen yang bagus," katanya singkat. Ia telah menggunakan alasan itu selama berabad-abad, dan selalu berhasil. Manusia terlalu sibuk dengan kehidupan mereka sendiri untuk curiga, apalagi tentang keberadaan makhluk sepertinya di kota baja ini. Mereka tidak akan tahu bahwa di bawah mantel musim dinginnya yang tebal, ada tato kuno di pergelangan tangannya, yang menandakan bahwa ia adalah salah satu dari ras terakhir yang masih hidup.
"Bukan gen yang bagus," balas Kolya, matanya menatap Andriy dengan penuh kerutan. "Kau adalah keajaiban, Andriy. Kau melihat anak-anak kakek tumbuh, kau melihat mereka menikah, dan sekarang kau bahkan mengenal cucu-cucu kakek. Tapi kau tetap sama. Seperti... roh yang abadi."
Sebuah senyum kecil muncul di bibir Andriy, senyum yang mengandung sejuta kenangan, dan juga sejuta perpisahan. Kolya benar. Andriy telah mengenal Kolya sejak ia masih remaja nakal yang gemar mencuri roti. Ia telah mempekerjakan Kolya di toko buku antiknya yang kini telah beralih ke tangan cucu Kolya. Hubungan mereka adalah persahabatan yang langka, dibangun di atas cangkir teh, tawa, dan kesedihan yang tak terucapkan.
Andriy menyesap tehnya, membiarkan kehangatannya menenangkan jiwanya yang lelah. Bagi manusia, kehidupan adalah sebuah garis lurus, sebuah narasi dengan awal dan akhir yang jelas. Bagi seorang elf, kehidupan adalah sebuah lingkaran, sebuah siklus yang terus berulang tanpa henti. Setiap perpisahan adalah pukulan yang menghancurkan, karena ia tahu bahwa suatu hari, ia akan duduk sendirian di meja ini, mengenang tawa Kolya yang tak lagi ada. Ini adalah kutukan keabadian, harga dari keberadaannya.
"Kau tahu, Andriy," kata Kolya, meletakkan cangkirnya. "Dunia ini semakin gila. Dulu, kita hanya perlu khawatir tentang pekerjaan, dan sedikit gosip tentang tetangga. Sekarang, berita-berita di internet penuh dengan hal-hal yang tidak masuk akal. Teknologi, politik, dan orang-orang yang semakin... aneh."
Andriy mengangguk. "Memang begitu, Kolya. Tapi manusia selalu seperti itu. Hanya kemasan dan medianya yang berubah," jawabnya, mengingat masa-masa ketika ia mendengar kabar dari pedagang yang melewati jalan utama, atau membaca surat kabar dengan tinta yang mudah luntur.
Tiba-tiba, pintu kafe terbuka, dan seorang wanita muda dengan rambut berwarna merah terang masuk, dengan tergesa-gesa. Dia adalah Ksenia, cucu perempuan Kolya, seorang barista dengan ambisi menjadi vlogger kuliner.
"Maaf Kakek, aku telat!" kata Ksenia, dengan napas terengah-engah. "Kemacetan parah di jalan utama. Ah, hai Andriy! Teh chamomile seperti biasa?"
"Seperti biasa, Ksenia," jawab Andriy, tersenyum hangat. Ksenia adalah salah satu dari sedikit manusia yang tahu tentang rahasia kecilnya. Ia menemukan Andriy saat ia secara tidak sengaja menggunakan sihir kecil untuk memperbaiki mesin kopi yang rusak di kafe mereka. Bukannya takut, Ksenia justru terpesona, dan berjanji akan menyimpan rahasianya, asalkan Andriy sesekali membantunya dengan tipuan sihir kecil untuk videonya.
Ksenia mengambil pesanan mereka dan langsung menuju mesin espresso, gerakannya cekatan dan penuh energi. Andriy memperhatikan Kolya, yang tersenyum saat melihat cucunya. Wajahnya yang keriput melembut, matanya yang redup bersinar dengan cinta. Andriy merasakan campuran emosi yang familier: kehangatan melihat persahabatan, dan sayatan rasa sakit yang tak terhindarkan.
"Dia anak yang baik, Andriy," bisik Kolya, seolah membaca pikiran Andriy. "Dia akan meneruskan kafe ini. Dia akan menjaga tradisi kita."
Andriy mengangguk, namun hatinya terasa berat. Ia tahu bahwa tradisi akan terus berlanjut, tetapi orang-orang yang membuatnya spesial akan hilang. Dia akan melihat Ksenia menua, dan mungkin suatu hari, duduk dengan anak atau cucu Ksenia di meja yang sama ini, meminum teh yang sama, dan mengenang orang-orang yang telah tiada. Itulah takdirnya, hidup di antara manusia, mencintai mereka, namun juga harus melepaskan mereka.
"Kau tahu, Andriy," kata Kolya lagi, dengan suara yang lebih pelan. "Aku sangat bahagia bisa mengenalmu. Kau membuat hidup kakek yang membosankan menjadi sedikit... ajaib."
Kata-kata itu menghantam Andriy seperti pukulan telak. Bukan karena kata-katanya, melainkan karena nada suaranya. Kolya mengucapkannya seperti sebuah perpisahan.
Andriy hanya tersenyum tipis, menyimpan kesedihan di matanya yang tampak tenang. Ia telah hidup ratusan tahun, melihat ribuan matahari terbit dan terbenam, tetapi perpisahan tak pernah menjadi lebih mudah. Setiap perpisahan adalah pengingat bahwa ia hanyalah seorang pengamat, sebuah bayangan abadi dalam narasi kehidupan manusia yang fana.
Musim dingin Chelyabinsk akan terus datang, salju akan terus turun, dan kafe ini akan tetap buka. Namun, tak ada yang benar-benar bisa menutupi rasa dingin yang dirasakan Andriy di dalam hatinya, yang akan selalu ada, hingga entah kapan. Ia hanya bisa berharap, bahwa sisa waktu yang ia miliki bersama Kolya akan menjadi kenangan yang paling indah.
Andriy menyesap tehnya lagi, membiarkan uap panas itu menyentuh kulitnya, berharap bisa merasakan sedikit kehangatan. Ia tahu, babak baru dalam siklus kehidupannya baru saja dimulai. Babak yang berisi tawa, air mata, dan akhirnya, perpisahan.
