Sore di Loksado terasa begitu damai. Setelah insiden kamera, Lev dan Rauf memutuskan untuk menghabiskan sisa hari dengan bersantai di penginapan. Mereka duduk di teras, memandang pemandangan hutan yang hijau dan sungai yang mengalir tenang. Lev yang biasanya heboh, kini lebih banyak diam.
Rauf, yang melihat perubahan sikap Lev, mencoba menghiburnya. "Sudah, Lev. Kameranya kan cuma alat. Yang penting, pengalamannya."
Lev mengangguk. "Aku tahu, Rauf. Tapi, kamera itu kan hadiah dari Kakek. Aku merasa bersalah aja, enggak bisa menjaganya dengan baik."
"Kakekmu enggak akan marah, kok. Dia pasti ngerti. Yang penting, kamu selamat," Rauf meyakinkan.
Malam harinya, setelah salat Isya, mereka duduk di teras penginapan sambil minum teh hangat. Lev mengeluarkan buku catatannya.
"Rauf, aku mau catat sesuatu," kata Lev.
"Catat apa?" tanya Rauf.
"Catatan hari terakhir di Kandangan dan Loksado: Banyak kejadian lucu, seperti kena prank anak-anak desa. Banyak kejadian mengharukan, seperti bertemu Pak Karim dan tokoh adat Dayak Meratus. Dan satu kejadian yang membuatku sadar, bahwa nyawa lebih berharga dari kamera," Lev berkata, sambil menulis di buku catatannya.
Rauf tersenyum. "Kamu sudah mulai mendewasa, Lev."
Lev mengangguk. "Mungkin. Tapi, ada satu hal yang masih mengganjal di pikiranku, Rauf."
"Apa?"
"Kakekku. Aku merasa, dia punya niat tersembunyi. Dia enggak mungkin cuma suruh aku mendokumentasikan kehidupan di sini. Pasti ada tujuan lain," Lev berkata, curiga.
Rauf mengangkat bahu. "Ya, namanya juga Kakekmu. Dia kan suka bikin teka-teki. Biarin aja, Lev. Nikmatin aja perjalanannya. Siapa tahu nanti di akhir cerita, kita dapat kejutan."
"Kejutan? Jangan-jangan kita disuruh nikah sama orang sini?" Lev panik.
"Walah, enggak mungkin. Kakekmu enggak akan sejahat itu," Rauf tertawa.
Lev kembali merenung. Ia memikirkan semua kejadian yang sudah ia alami. Dari dodol kandangan yang gagal, sampai kamera yang tenggelam di sungai. Semua itu mengajarkan Lev banyak hal. Tentang kesabaran, tentang syukur, dan tentang arti persahabatan.
"Rauf, terima kasih ya. Sudah mau nemenin aku. Aku tahu, kamu pasti capek ngadepin tingkahku," ucap Lev tulus.
Rauf menepuk pundak Lev. "Sama-sama, Lev. Aku juga senang bisa ikut. Seru juga, sih. Ada dramanya, ada komedinya."
Keesokan paginya, mereka bersiap-siap untuk meninggalkan Loksado. Lev sudah merasa berat hati. Ia sudah jatuh cinta dengan tempat ini.
"Loksado, terima kasih. Aku akan kembali," bisik Lev, sambil memandang pemandangan dari atas mobil.
Perjalanan dari Loksado menuju Barabai, kabupaten selanjutnya, memakan waktu beberapa jam. Lev yang biasanya berisik, kini lebih banyak diam. Ia sibuk mengamati pemandangan dari jendela mobil.
"Lev, kok diam aja? Kesambet, ya?" Rauf bercanda.
"Enggak, Rauf. Aku lagi mikir aja. Banyak banget yang aku pelajari. Rasanya, aku jadi orang yang berbeda. Yang lebih dewasa, yang lebih bijak," Lev menjawab.
Rauf tersenyum. "Baguslah kalau begitu. Berarti misi Kakek berhasil."
Mereka memasuki kota Barabai, ibukota Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Lev langsung terkesima dengan pemandangan pegunungan yang menjulang tinggi.
"Rauf, lihat! Keren banget!" seru Lev, matanya berbinar.
Rauf mengangguk. "Ini namanya pegunungan Meratus, Lev. Nanti kita coba naik."
"Masa mau naik gunung, Rauf? Bawa rice cooker juga?" Lev tertawa.
Rauf ikut tertawa. "Enggak. Kita naik gunung cuma bawa kamera. Oh, iya. Kameramu kan sudah rusak."
"Enggak apa-apa. Ada kamera ponsel. Yang penting, momennya. Bukan alatnya," Lev berkata, bijak.
Rauf menatap Lev, takjub. "Lev, kamu benar-benar sudah berubah."
Lev tersenyum. Ia merasa, petualangan ini tidak hanya mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Tapi juga mengubah cara pandangnya terhadap dirinya sendiri. Akhir babak pertama, ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan. Bahkan, ia sudah tidak sabar untuk melanjutkan babak-babak selanjutnya.
