"Ini untukmu."
Sofia menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna cokelat kepada Lev. Mereka berdiri di stasiun kereta Perm, di tengah keramaian penumpang yang berlalu lalang dan suara pengumuman yang riuh dalam bahasa Rusia. Di luar, salju masih turun, membuat suasana terasa semakin melankolis.
Lev menerima kotak itu. "Apa ini?"
"Hadiah perpisahan," jawab Sofia, senyumnya sedikit dipaksakan. "Jangan dibuka sekarang. Bukalah saat kamu sudah naik kereta."
"Sofia..."
"Aku akan merindukanmu, Lev," potong Sofia, suaranya bergetar.
Lev memandang Sofia. Di bawah topi kupluknya, mata Sofia terlihat basah. Persahabatan mereka, yang terjalin begitu cepat dan intens, akan segera terpisahkan oleh jarak. Selama beberapa minggu terakhir, mereka telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hari-hari masing-masing. Lev telah menjadi sahabat yang bisa diajaknya berbagi cerita, dan Sofia telah menjadi pemandu, guru, dan teman yang tulus bagi Lev.
"Aku juga akan merindukanmu, Sofia," ujar Lev, suaranya tercekat. "Terima kasih untuk semuanya. Untuk nasi goreng, untuk borscht, untuk pelajaran bahasa yang kacau, untuk... semuanya."
Sofia mengangguk, berusaha menahan air matanya. "Bukan apa-apa. Kamu adalah petualangan terbaik yang pernah aku alami di sini, Lev."
Lev tersenyum. "Ingat janjimu. Jika suatu hari kamu ke Indonesia, aku akan memandumu. Dan aku akan mengajakmu ke Martapura. Mungkin kita bisa main perahu di sungai," katanya, mencoba mencairkan suasana.
"Aku akan mengingatnya," kata Sofia, kini senyumnya kembali tulus, meskipun masih terlihat sendu.
Ponsel Lev berdering, notifikasi dari ayahnya mengingatkan untuk segera naik kereta. Jarak terasa begitu jauh, seolah ada jurang yang memisahkan mereka. Lev tahu, perpisahan ini harus terjadi. Ini adalah bagian dari petualangannya.
"Sudah saatnya," kata Lev. Ia meraih tangan Sofia,
menggenggamnya erat. "Jaga dirimu baik-baik, Sofia. Dan jangan lupakan aku."
"Tidak akan," balas Sofia. "Kamu adalah 'pahlawan batik' yang menyanyikan lagu Indonesia di pesta kostum. Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu?"
Mereka berdua tertawa, tawa yang bercampur dengan rasa haru. Lev memeluk Sofia. Pelukan perpisahan itu terasa hangat dan penuh makna. Di tengah keramaian stasiun, di tengah dinginnya salju, hanya ada mereka berdua.
Setelah pelukan usai, Lev membalikkan badannya dan berjalan menuju gerbong kereta. Ia tidak berani menoleh lagi, karena ia tahu, jika ia menoleh, ia tidak akan bisa pergi.
Dari balik jendela kereta, Lev melihat Sofia. Sofia masih berdiri di tempat yang sama, melambaikan tangannya. Perlahan, kereta mulai bergerak. Sosok Sofia semakin mengecil, hingga akhirnya menghilang dari pandangan.
Di dalam gerbong, Lev duduk di kursinya, memandang keluar jendela. Butiran salju menempel di kaca, mengaburkan pandangannya. Ia mengeluarkan kotak yang diberikan Sofia. Perlahan, ia membukanya.
Di dalamnya ada sebuah buku, bukan buku tebal tentang legenda Rusia, melainkan buku saku berisi kamus bahasa Rusia kecil, dengan catatan tangan Sofia di beberapa halaman. Dan di atasnya, ada sebuah foto. Foto Lev, dengan kemeja batiknya yang salah kostum, berdiri di samping Sofia yang mengenakan kostum Putri Salju. Di belakang foto, ada tulisan tangan Sofia: Untuk Pahlawan Batik dari Putri Salju.
Lev tersenyum, lalu tertawa kecil, air matanya menetes di pipi. Ia merasa haru. Persahabatan mereka memang singkat, tapi begitu membekas. Ia menyadari, petualangannya di Rusia bukan hanya tentang melihat tempat-tempat baru, tetapi juga tentang menemukan orang-orang baru.
Kereta terus melaju, meninggalkan Perm, menuju kota berikutnya: Chelyabinsk. Di luar, pemandangan salju yang putih membentang luas. Lev mengambil buku tafsir Al-Qur'an saku miliknya, lalu membaca. Ia merasa tenang. Ia tahu, meskipun ia kini sendiri, ia tidak benar-benar sendirian. Ada kekuatan iman yang menemaninya, ada ingatan tentang persahabatan yang tulus, dan ada janji yang harus ia tepati. Perpisahan adalah awal dari sebuah pertemuan baru. Dan petualangannya di Rusia baru saja akan dimulai kembali.
