Perjalanan dari Loksado ke Barabai terasa lebih singkat karena Lev tidak banyak bicara. Ia sibuk merenungkan semua kejadian di Kandangan. Di dalam kepalanya, ia memutar ulang setiap momen: dodol yang tumpah, kamera yang tenggelam, hingga pelajaran tentang syukur dari tokoh adat.
"Barabai, Rauf. Kabupaten kedua," ucap Lev saat mereka melewati gerbang selamat datang yang megah.
Rauf mengangguk. "Ya, Lev. Kita harus segera cari penginapan dan istirahat. Aku sudah lelah menyetir."
Barabai, ibukota Kabupaten Hulu Sungai Tengah, adalah kota yang dikelilingi oleh perbukitan. Pemandangan pegunungan Meratus yang hijau membuat Lev kembali bersemangat. Ia langsung mengeluarkan ponselnya, mengambil beberapa foto.
"Rauf, lihat! Keren banget! Kayak wallpaper di komputer," seru Lev.
"Lev, kamu kayaknya butuh kamera baru," Rauf menyindir, sambil tersenyum geli.
"Enggak apa-apa, Rauf. Kamera ponsel juga bisa, kok. Yang penting, angle-nya," Lev membela diri.
Mereka menemukan sebuah penginapan yang sederhana, tapi bersih. Letaknya di pinggir kota, dekat dengan persawahan. Pemandangannya langsung ke arah pegunungan. Lev langsung jatuh cinta.
"Ini baru namanya istirahat yang sesungguhnya, Rauf. Jauh dari kebisingan kota, dekat dengan alam," Lev berkata, sambil merebahkan diri di kasur.
Setelah salat Asar dan istirahat sejenak, mereka memutuskan untuk jalan-jalan sore di sekitar penginapan. Di persawahan, mereka melihat beberapa petani sedang bekerja. Lev langsung mengambil ponselnya, mengabadikan momen itu.
"Rauf, ini namanya potret kehidupan. Slice of life yang sesungguhnya," bisik Lev.
Mereka melanjutkan perjalanan. Di sebuah warung kopi di pinggir jalan, mereka melihat beberapa bapak-bapak sedang bermain catur. Lev mengajak Rauf untuk mampir.
"Rauf, mampir bentar, yuk. Ngobrol sama mereka," ajak Lev.
Rauf menolak. "Enggak, Lev. Nanti kamu bikin ulah lagi."
"Enggak, Rauf. Kali ini aku janji. Aku cuma mau ngobrol aja. Enggak akan bikin ulah," Lev meyakinkan.
Akhirnya, Rauf pun setuju. Mereka memesan teh hangat, lalu duduk di dekat bapak-bapak yang sedang bermain catur. Lev memulai percakapan.
"Selamat sore, Pak. Boleh gabung?" tanya Lev, ramah.
Bapak-bapak itu menyambut mereka dengan hangat. Mereka memperkenalkan diri, dan Lev menceritakan tujuan mereka datang ke Barabai.
"Oalah, dari Banjarmasin. Jauh-jauh," kata salah satu bapak, yang ternyata seorang pensiunan guru.
Mereka mengobrol tentang banyak hal. Mulai dari cerita tentang Barabai di masa lalu, hingga keluh kesah tentang anak muda zaman sekarang yang lebih suka bermain gawai ketimbang berinteraksi sosial. Lev mendengarkan dengan seksama, sesekali menyela dengan pertanyaan.
"Pak, kenapa Barabai itu bisa dikelilingi pegunungan?" tanya Lev, penasaran.
"Karena di sini, Allah kasih kita pegunungan yang indah, Nak. Untuk kita jaga, untuk kita syukuri. Di sini, kita bisa lihat, betapa agungnya ciptaan Allah," jawab Pak Guru, bijak.
Lev mengangguk. Ia merasa, kakeknya ingin ia belajar hal ini. Belajar tentang arti syukur, tentang pentingnya hidup berdampingan dengan alam, dan tentang menghargai hal-hal kecil.
Malam harinya, setelah salat Isya, mereka duduk di teras penginapan. Lev mengeluarkan buku catatannya.
"Rauf, aku mau catat sesuatu," kata Lev.
"Catat apa lagi? Hari ini enggak ada kejadian aneh, kan?" tanya Rauf.
"Ada. Kejadian indah. Bertemu dengan orang-orang baik, mendengarkan cerita mereka, dan belajar banyak hal. Rasanya, aku jadi orang yang berbeda. Yang lebih dewasa, yang lebih bijak," Lev menjawab.
Rauf tersenyum. "Baguslah kalau begitu. Berarti misi Kakek berhasil."
Mereka memasuki kamar. Lev merebahkan diri di kasur, memandang ke arah jendela. Pemandangan pegunungan yang gelap, dengan bintang-bintang yang berkelap-kelip, membuat hatinya merasa damai. Ia tahu, petualangan ini tidak hanya mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Tapi juga mengubah cara pandangnya terhadap dirinya sendiri. Babak kedua, ternyata juga penuh kejutan.
