Pagi di Sampit disambut dengan suasana yang berbeda dari Palangka Raya. Aroma laut bercampur dengan debu jalanan yang basah karena gerimis semalam. Lev dan Faruq langsung menuju Masjid Raya Darussalam, sebuah masjid megah yang menjadi kebanggaan warga Sampit.
"Subhanallah, Faruq. Masjidnya indah sekali. Kubahnya berwarna biru, ya?" kata Lev, sambil mengeluarkan kameranya.
"Iya, Lev. Masjid ini memang terkenal dengan kubahnya yang indah," jawab Faruq.
Mereka masuk ke dalam masjid, merasakan kesejukan dan ketenangan yang meresap ke dalam jiwa. Di dalamnya, banyak orang yang sedang beribadah, mengaji, atau sekadar berdiam diri.
"Aku akan foto interiornya, Faruq," bisik Lev.
Faruq mengangguk. "Silakan. Tapi jangan mengganggu yang sedang beribadah, ya."
Lev berkeliling, mencari sudut yang tepat. Ia memotret ornamen-ornamen yang rumit, jendela-jendela tinggi yang membiaskan cahaya matahari, dan barisan tiang-tiang kokoh. Ia merasa terinspirasi, ia ingin menangkap setiap detailnya, setiap makna yang tersembunyi di balik arsitektur yang megah.
Saat ia sedang asyik memotret, matanya menangkap sosok seorang ibu yang sedang duduk di sudut masjid, memegang sebuah nasi bungkus. Ibu itu terlihat begitu khusyuk saat berdoa. Wajahnya memancarkan ketenangan, seolah tak ada beban yang menghimpitnya.
Lev merasa terpanggil. Ia ingin memotret ibu itu, tapi ia ragu. Ia takut mengganggu kekhusyukan ibu itu. Ia mencoba memotret dari jauh, tapi hasilnya tidak memuaskan.
"Kenapa, Lev?" tanya Faruq, yang melihat Lev ragu-ragu.
"Aku... aku ingin memotret ibu itu, Faruq. Wajahnya begitu teduh. Tapi aku takut mengganggu," jawab Lev.
"Kalau niatmu baik, kenapa tidak? Minta izin saja, Lev. Aku yakin ibu itu akan mengizinkan," Faruq memberi saran.
Lev menghela napas, lalu memberanikan diri mendekati ibu itu. Ia duduk di sampingnya, dengan jarak yang cukup jauh.
"Assalamualaikum, ibu," sapa Lev, dengan suara pelan.
Ibu itu menoleh, tersenyum. "Waalaikumsalam, nak."
"Maaf mengganggu, bu. Nama saya Lev. Saya sedang dalam perjalanan untuk mendokumentasikan kehidupan komunitas Muslim di Kalimantan. Ibu... wajah ibu begitu teduh. Boleh saya minta izin untuk memotret ibu?" Lev bertanya dengan hati-hati.
Ibu itu tersenyum lagi. "Nak, wajah ibu ini tidak ada apa-apanya. Tapi kalau niatmu baik, silakan. Ibu ridho."
Lev merasa terharu. Ia mengangkat kameranya, lalu memotret ibu itu. Ibu itu tetap khusyuk, seolah tidak ada kamera yang mengarah padanya. Ia merasa senang, ia mendapatkan foto yang sangat bermakna.
Setelah selesai, Lev berterima kasih kepada ibu itu. Mereka berdua terlibat dalam percakapan ringan. Ibu itu bercerita tentang kehidupannya, tentang masjid ini, dan tentang keindahan Sampit.
"Nak, kamu tahu? Nasi bungkus ini bukan hanya tentang makanan. Tapi juga tentang berbagi. Hari ini, ibu berbagi nasi bungkus ini dengan sesama. Karena rezeki itu bukan hanya tentang uang, tapi juga tentang berbagi," kata ibu itu.
Lev mengangguk, ia merasa mendapatkan pelajaran berharga. Ia merasa beruntung bisa bertemu dengan ibu itu.
Setelah berpamitan dengan ibu itu, Lev dan Faruq melanjutkan perjalanan. Di luar masjid, mereka berjalan-jalan di sekitar halaman.
"Ibu itu benar, Faruq. Berbagi itu indah," kata Lev.
Faruq tersenyum. "Aku senang kamu bisa belajar sesuatu, Lev. Perjalanan ini memang bukan hanya tentang memotret, tapi juga tentang belajar."
Mereka berdua berjalan menuju sebuah warung makan di seberang masjid. Lev merasa lapar, dan ia tak sabar ingin mencicipi makanan khas Sampit.
"Faruq, aku lapar sekali. Kira-kira makanan di sini ada yang halal, kan?" tanya Lev, dengan mata berbinar.
Faruq tertawa. "Tentu saja, Lev. Hampir semua makanan di sini halal."
Saat mereka memasuki warung makan, Lev melihat Faruq memesan makanan. Ia merasa bangga, ia mendapatkan sahabat yang sangat baik. Meskipun ia sering ceroboh, Faruq selalu sabar menghadapinya.
"Kamu mau pesan apa, Lev?" tanya Faruq.
"Aku mau pesan nasi bungkus, Faruq. Seperti yang ibu tadi makan," jawab Lev.
Sambil menunggu makanan, mereka berdua berbincang-bincang. Lev menceritakan pengalamannya memotret ibu tadi. Faruq mendengarkan dengan seksama, sesekali menyela dengan pertanyaan.
"Lev, kamu tahu? Ibu itu mengingatkan aku pada ibuku di Banjarmasin. Dia juga selalu suka berbagi," kata Faruq.
"Itu artinya, kamu punya ibu yang hebat," jawab Lev.
Mereka berdua tersenyum. Mereka merasa beruntung bisa memiliki satu sama lain. Perjalanan ini mungkin akan diwarnai kekonyolan, tapi persahabatan mereka yang kuat akan membuat segalanya terasa mudah. Ia tahu, dengan Faruq di sisinya, petualangan ini pasti akan penuh warna. Dan yang terpenting, ia akan membawa niat baik dan semangat untuk mendokumentasikan keindahan Borneo, satu foto dan satu tawa pada satu waktu.
